Wah, terimakasih sekali untuk penjelasannya, jadi ini untuk saya
tambahkan dalam Who's Who sekait dengan para tokoh dan sosok
Indonesia, baik yang didalam maupun di LN.
Yang penting supaya seniman yg saya dengar masih muda ini
akan terus rajin berkarya dan kepadanya serta "pendampingnya"
saya ucapkan banyak sukses. 

Tentang "pendamping" itu menurut Bung Karno tempo doeloe yang
ideal ialah perempuan sebagai isteri, laksana ibu dan juga sebagai 
kawan seperjuangan,

Salam, Bismo DG


----- Original Message ----- 
From: "la_luta" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, March 22, 2007 3:01 PM
Subject: Re: [nasional-list] Sato Sakaki: ROUTE I-40 WEST


Pak BDG yang baik,

Setahu saya, kang Heri Latief ini bukan termasuk penyair kategori 
Sastra Eksil. Hehehe... Awalnya Kang HL ini adalah seorang perantau 
bermodalkan keberanian dan tas plastik, yang mendamparkan dirinya 
tahun 80an di Jerman. Di Hamburg dia sebagai mahasiswa, juga aktip di 
Seni-Budaya di komunitas mahasiswa Indonesia. Kemudian dia menjadi 
aktivis pula di Berlin, yang juga berkenalan dengan para eksil. 
Kehidupan survivalnya selama di Jerman ditunjang oleh bekerja bukan 
dari beasiswa atau tidak mau pula dapat tunjangan dari ORTUnya. 
Karena sejak mudanya sampai remaja Kang HL di Jakarta selalu pengen 
mandiri. Di SMA 3 - jakarta dia bersama teman2 sekolahnya bikin 
buletin, juga bikin usaha sablonan. Tahun 1986 Kang HL terdampar di 
belanda dengan memiliki spesialisasi sebagai KOK, karena memang 
hobbynya memasak yang sampai sekarang sekaligus menjadi penyair. 

Salam,
MiRa


--- In [EMAIL PROTECTED], "BDG KUSUMO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Nah, ini mungkin menarik bagi pengamat sastra, bukan
untuk saya yg sangat awam. Ttp dijagad maya tampaknya kita 
biasa dengan kategori Sastra Eksil yang kebanyakan made in
Eropa, yang menurut saya dapat dikatakan bersifat dan bersikap
lebih ke kiri liberal, sesuai dengan keprihatinan dan 
kepemihakannya. Kita kenal H. Setiawan, JJ Kusni, Sobron Aidit,
Heri Latief dll.

Ternyata ini mungkin ada "a rising star" dari kawasan AS yang 
udaranya hangat dan mulai dimukimi lagi oleh los Hispanos, yang 
saya kira cerpennya punya keunikan sendiri. Entahlah apa ia
pelanjut realismenya E.  Hemingway dan T. Williams, atau apa, 
karena saya cukup lama terputus dari mengkonsumsi sastra 
Amerika. Mungkin dapat dikatakan sbg Sastra Ex-patriate, atau
Sastra Self-Exiled? Kalau ada realismenya, entah yang
hedonistik dekat dengan the affluent view atau sekali-kali ingat
pada kaum Have-Nots dan merenung pikiran Al Gore?

Eniwei, menulis cerpen dan Greek Mythology sekait kecantikan
Aphrodite menurut saya jauh lebih nyaman dibaca tinimbang
upaya sia-sia "memerangi" Bung Karno dan Chavez.
Juga karena kedekatan geografis ada baiknya kalau Grand 
Cherokee nya dibanting stir crossing the border, down the 
Mexico way, membuat studi sosial  di  Bolivia dan Venezuela
sebagai bahan bagi penulisan cerpen dan mungkin juga
cerpan, cerita panjang alias novel, atau novelette.

Hasta La Vista, senor Sato!
Bismo DG

  ----- Original Message ----- 
  From: Sato Sakaki 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, March 22, 2007 4:07 AM
  Subject: [nasional-list] Sato Sakaki: ROUTE I-40 WEST

Kirim email ke