REPUBLIKA
Minggu, 18 Maret 2007

Kita adalah Bangsa Bukan-bukan 

Oleh : KH A Hasyim Muzadi 


Sungguh agak sulit rasanya, terus melakukan refleksi tapi tidak beranjak dari 
persoalan yang nyaris sama. Kemarin-kemarin, refleksi selalu berkutat dalam 
persoalan musibah, cobaan, ujian serta bencana alam yang seperti 
berkejar-kejaran dalam angka. Bumi tempat kita tinggal ini, mendadak marah 
besar dalam beberapa tahun terakhir, akibat tindakan kita yang tidak bersahabat 
secara tulus dengan alam. Karena tindakan segelintir, maka korban yang jatuh 
diperkirakan nyaris sama dengan jumlah korban perang di Irak. 

Bukankah dulu kita dikenal sebagai masyarakat pelindung sejati alam? Kalau ini 
semua kita kategorikan sebagai ujian atau cobaan, maka ujian apa lagi yang 
lebih dahsyat dari hempasan gelombang tsunami? Luapan air macam apa lagi yang 
lebih menakutkan masyarakat Jember dan Trenggalek, Jawa Timur daripada banjir 
bandang? Lumpur yang biasanya pendiam, mendadak jadi hantu menakutkan di siang 
bolong bagi masyarakat Sidoarjo, akibat menggenangnya lumpur panas Lapindo. 

Musibah, biasanya cuma datang dari atas perut bumi sehingga kita masih bisa 
bersabar, tetapi sekarang malah menyembur dari dalam perut bumi yang membuat 
kita hilang kesabaran. Kita tentu tidak sabar menyaksikan kapan berakhirnya 
derita saudara-saudara kita ini. Dulu, bukankah kita dikenal sebagai bangsa 
yang penyabar?

Hentakan bumi macam apakah yang lebih mengerikan dibandingkan guncangan gempa 
yang meluluhlantakkan masyarakat DIY dan sebagian Jawa Tengah? Lalu, kelangkaan 
apa lagi yang lebih mengharubiru ketimbang menderanya kelaparan di sebagian 
saudara kita? Tanah yang selama ini menjadi pijakan, mendadak longsor 
menghempaskan diri karena hutan yang digunduli, sehingga menutupi sebuah masjid 
dengan sejumlah jamaahnya yang tengah menunaikan ibadah salat subuh di Sijeruk, 
Banjarnegara, Jawa Tengah. Bukankah dulu kita dikenal sebagai bangsa yang tahan 
banting sehingga selalu siap untuk bangkit ?

Kecelakaan transportasi? Darat, udara dan laut sama-sama memicingkan mata, 
mencibir betapa lemahnya kita. Ini semua terjadi di alam bebas. Padahal sampai 
sekarang, pesawat Adam Air yang menghilang belum juga muncul, tapi kembali kita 
berkabung karena tenggelam dan terbakarnya kapal KM Senopati dan KM Levina. 
Lalu menyusul anjloknya kereta serta terbakarnya pesawat Garuda di Yogyakarta. 
Sepertinya alam tengah menggunakan hak prerogatifnya untuk menentukan di bagian 
mana lagi yang akan ditimpakan musibah dan bencana. Bukankah dulu kita dikenal 
sebagai bangsa religius, sehingga sering merasa diselamatkan Allah?

Sejujurnya, serangkaian musibah ini belum juga membuat kita sadar, bahkan kita 
tengah selangkah lagi menuju negeri dengan kadar musibah yang bisa datang 
setiap saat. Kita akan segera menggantikan posisi Bangladesh dan India; dua 
negara di Asia yang selama ini paling akrab dengan bencana. Belakangan, akibat 
langsung dari bencana alam yang datang secara simultan, bahkan sebelumnya 
didahului dengan huru-hara politik yang menumbangkan Orde Baru, maka muncul 
pula bencana lanjutan yang menghentak mental bangsa Indonesia. Roda ekonomi 
juga belum mampu mengurangi jumlah angka kemiskinan. Bahkan, luas lautan kita, 
tidak juga mampu kita ikhtiarkan untuk mengangkat harkat kehidupan pelaut kita. 
Ingatkah kita lagu "nenek moyangku seorang pelaut"? Bukankah dulu kita dikenal 
sebagai bangsa pelaut dan negara maritim?

Bahkan di dunia politik dan kehidupan ketatanegaraan, kita juga tengah 
mengalami persoalan serius. Pemerintah sepertinya tengah diikat kaki dan 
tangannya tetapi dituntut untuk bisa bekerja secara maksimal. Kalangan parlemen 
berteriak-teriak seakan tugas mereka sekadar paduan suara; suara sumbang yang 
tentu bukan ciri sebuah koor yang cantik dengan dirigen yang andal. Beberapa 
menuntut dilakukan pergantian komposisi anggota kabinet, sementara pemerintah 
sendiri berketetapan bahwa kabinet sudah berjalan on the track. Sejak 
tumbangnya Orde Lama, kita cuma kenal istilah sistem presidensiil, bukan 
parlementer. Tetapi mencermati betapa centang perenangnya kehidupan 
ketatanegaraan kita, maka sulit untuk menyebutkan kita ini tengah berada dalam 
sistem presidensiil atau parlementer. Tapi bukankah telah kita sepakti bahwa 
pemerintahan dijalankan secara presidensiil?

Dalam dunia hukum, juga terjadi hal yang membuat alis kita terangkat. Kita cuma 
mendapat sajian manusia-manusia yang merasa jadi pahlawan hukum dan sok paling 
pantas menjadi juru bicara. Lalu setiap hari berteriak bahwa hukum di atas 
semua dan semua diperlakukan sama di depan hukum. Tetapi, tetap saja kehidupan 
kita seperti tanpa ada aturan dan hukum yang mengikat semua perikehidupan 
bermasyarakat dan bernegara. Kalau si miskin terjerat hukum, ia akan ditanya 
terkena pasal berapa, tetapi begitu si kaya, ia dengan senyum dan kebanggaan 
akan bertanya, "berapakah harga pasal ini?" Bukankah selama ini negara kita 
dikenal sebagai negara hukum? Dari fakta kecil ini, jelas sekali menunjukkan 
bahwa kita, bangsa Indonesia telah terjerembab menjadi "bangsa yang 
bukan-bukan". Bangsa religius bukan, masyarakat pecinta alam bukan, rakyat yang 
suka bergotong-royong juga bukan. Negara maritim bukan, negara agraris juga 
bukan; apalagi belakangan kita sudah gemar mengimpor beras dari negara 
tetangga. Kegetiran ini bertambah parah, ketika ini semua menyebabkan 
penyebaran penyakit mental dan jiwa, yang mulai menyerang kehidupan masyarakat 
kita. Tak terbayangkan seorang ibu yang hopeless karena didera kemiskinan, tega 
menyudahi kehidupan bersama keempat anaknya yang masih kecil-kecil.

Seorang anggota polisi yang berang hanya karena tak puas dimutasi, malah tega 
menembak atasannya, seorang perwira menengah. Dulu? Kenapa sekarang atasan 
gampang disanggah? Lantas, seorang polisi yang karena merasa dikhianati 
istrinya, sampai hati memuntahkan timah panas yang menyebabkan tewasnya empat 
anggota keluarganya. Ia sendiri akhirnya bunuh diri. Lalu ada lagi seorang anak 
berusia 17 tahun yang tega membunuh anak usia di bawahnya, hanya karena 
dilempar botol. Lalu ada juga seorang guru yang mestinya berhati salju, justru 
berubah mental menjadi penggebuk karena anak didiknya menolak ikut tes 
persiapan ujian nasional. Lalu ada lagi seorang bapak yang tega memperkosa 
putrinya serta anak lelaki bermoral bejat tega memperkosa ibu kandungnya 
sendiri.

Kini, kita benar-benar menjadi bangsa dengan kelamin ganda. Penyabar sekaligus 
pemberang. Religius sekaligus durjana. Penyayang sekaligus pendendam. Pemberi 
sekaligus pemeras. Bangsa dengan label hermaprodit dalam banyak sisi kehidupan. 
Di satu sisi bangga dengan semboyan "gotong royong" tetapi sekaligus disebut 
"raja tega". Kita bukan lagi bangsa yang utuh. Mari segera kembali berjuang 
menemukan muru'ah kita sebagai bangsa yang sesungguhnya. Mari mengaku bahwa 
selama ini kita terlalu memikirkan diri, keluarga serta kelompok kita sendiri. 
Mari menyadari bahwa kemiskinan yang lahir di tengah-tengah kita adalah akibat 
dari tindakan serta kebijakan yang kita ambil. Sesungguhnya kita memiliki modal 
yang cukup untuk menjadi besar dan utuh dan bukan menjadi bangsa yang 
bukan-bukan. Wallaahu A'lamu Bishshowaab. 

Kirim email ke