Dear Pak Amartien,
  Yang dimaksudkan tentu bukan agama Kristennya fundamentalistik, semua agama 
sih dogmatis namun tak harus selalu fundamentalis terus radikal berkekerasan, 
Tapi pemerintah AS dengan Bush ini, neocons, banyak dikritik bhw mereka percaya 
dapat firman Tuhan untuk menyebarkan "demokrasi" dengan cara apapun juga. Di 
Irak pemboman dll telah mematikan sekitar 100000 orang sipil menurut pemerintah 
Irak tapi ini cuma yg dilaporkan di RS. Tahun yg lalu ada di milis-milis ini 
berita media AS bhw menurut John Hopkins Foundation di AS yg prestisius  itu 
sipil yg tewas sudah 750000. Tentu bukan digorok, itu
  kan kejam dan primitiv, tapi caranya sopan dan "manusiawi" sekali cuma mencet 
tombol di F16, tank atau senjata lainnya lalu bom roket dll pada membunuhi 
semuanya perempuan anak-anak juga para gaek. Ingat yg membunuh bukan pilot 
apalagi Rumsfeld, Cheney atau Bush, tetapi bom, cluster boms dan roket itu!! 
Beradab, dan bagai gentlemen kan?
  Bush ini menurut media AS juga telah berani bertentangan dengan gerejanya, 
namanya lupa, yg tidak setuju dengan agresi di Irak. Kita semua tahu Bush yg 
setelah 9/11 teriak akan lancarkan "crusade", perang salib, juga hanya memakai 
agama untuk menguasai minyak di Timur Tengah dan seluruh bumi. Jadi konflik 
sekarang itu sangat diwarnai oleh pemikran dan penyalahgunaan agama secara 
fundamentalis di dua-dua pihak.
   
  Soal Palestina-Israel lah inti dari segala persoalan AS dkk vs. Muslim. Saya 
pikir Israel tidak lagi dapat di "hapus" dari peta bumi seperti yang dimaui 
Hamas, kecuali kalau AS bisa menjadi lemah.Itupun bisa terjadi berjuta-juta 
korban karena Israel punya menurut media kira-kira 200 kepala roket nuklir 
(tidak ada yg berani mengkritik, karena kuasa uang AS dan Israel). Abbas dkk 
mengakui Israel! Jadi yg adil ialah adanya dua negara, Palestina dan Israel, 
tetangga yang Insya'allah akan dapat damai, tentu Israel harus setuju 
kembalinya 3 juta pengungsi Palestina ketempat aslinya. (Ketika pembantaian 
warga Arab oleh pasukan bersenjata Jewish pra 1948 di Palestina yang lari dari 
sana tentu tidak sebanyak itu, namun alami mereka beranak cucu. Israel berkilah 
bahwa takut nanti "jewishness" negara itu hilang, yah lihat saja AS bosnya itu 
kan juga "melting pot" dari puluhan atau ratusan budaya. Kalau Israel memang 
negara demokratis, mengapa takut ada dua atau lebih etnik disitu?
 Andai konflik inti ini akan bisa didamaikan secara adil, saya yakin dunia akan 
lebih aman. Banyak dana dan SDM yang akan dapat dipakai untuk menolong sesama 
manusia yang banyak sekali membutuhkan pertolongan.
   
  Maaf agak panjang jawaban saya,
  Salam, YR

amartien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            YRakhmat:
  Barat khususnya AS dibawah Bush juga harus membersihkan diri dari 
fundamentalisme Kristen, 
   
  amartien:
  Apakah fundamentalisme Kristen tsb.?  Apakah Christian fundies tsb. membunuh, 
menteror orang2 yang bukan termasuk Christian fundies? Setahu saya sih ada yang 
membunuh karena anti aborsi, tetapi pelaku pembunuhan tsb. bukan pengikut 
agamanya yang benar, dan juga di sudah ditangkap dan dipenjarakan.
   
  YRakhmat:
  dan cepat mengupayakan perdamaian antara Palestina dan Israel.
   
  amartien:
  Bagaimana kalau satu pihak, yaitu Palestina, ter-lebih2 lagi dengan Hamas di 
pemerintahannya, bertujuan bukan untuk perdamaian, tetapi untuk menghancurkan 
Israel, seperti yang tercantum di charter Hamas yang penuh dengan referensi 
ayat2 Kuran?
   
  As for the objectives: They are the fighting against the false, defeating it 
and vanquishing it so that justice could prevail, homelands be retrieved and 
from its mosques would the voice of the mu'azen emerge declaring the 
establishment of the state of Islam, so that people and things would return 
each to their right places and Allah is our helper.
   
   
  Wah, saya nggak tahu dari mana data yang disebut di artikel ini bahwa 
Indonesia menduduki posisi ke 3 dari negara paling demokratis diseluruh dunia? 
Menurut Worldaudit.org Indonesia menduduki perangkat ke 2 dari bawah di grup ke 
3.  Tunisia termasuk di grup ke 4, perangkat no. 107 ber-sama2 dengan Sierra 
Leone dan Gabon.  
   
  Moga2 negara2 lain di dunia tidak mencontoh/meniru "demokrasi" ala Tunisia 
dan Indonesia.
   
   
  
Y Rakhmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Namun harus lebih dipercepat minimalisasi ulah kekerasan dan kurang 
toleransi yang bersumber pada fundamentalisme. Syukur kalau akan kearah 
sekularisme tulen, yang penuh dengan multikulturalisme. Barat khususnya AS 
dibawah Bush juga harus membersihkan diri dari fundamentalisme Kristen, dan 
cepat mengupayakan perdamaian
  antara Palestina dan Israel.
  Yusuf R
   
  Selasa, 20 Maret 2007  20:23:00
Demokrasi RI dan Tunisia Bisa Jadi Contoh Bagi Barat Tentang Islam


  Jakarta-RoL-- Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan Tunisia dapat 
menjadi contoh bagi Dunia Barat dalam melihat Islam dan sekaligus mengubah 
penafsiran buruk terhadap Islam. 

Barat sering melihat Islam sebagai penghalang dalam menjalankan demokratisasi 
di negara yang mayoritas muslim. Indonesia dan Tunisia yang berhasil 
menghidupkan demokratisasi praktis membuat dunia Barat terheran-heran, ujar 
Dubes Tunia untuk Indonesia Faysal Gouia dalam wawancara dengan Antara dalam 
rangka memperingati hari kemerdekaan negara tersebut yang 59 di Jakarta, 
Selasa. 

Indonesia, yang mempunyai penduduk lebih dari 220 juta dan 90 prosen dari total 
penduduk beragama Islam, telah berhasil menempati posisi ketiga sebagai negara 
yang paling demokratis di dunia.

Begitu juga halnya dengan Tunisia yang mayoritas muslim walaupun jumlah 
penduduk tidak begitu besar juga berhasil mengusung demokrasi di sana, 
tambahnya. 

Selama ini, Barat cenderung melihat Islam dalam kaca mata sempit. Persepsi 
mereka terhadap Islam selalu terkait dengan fanatisme, tidak bisa menerima 
konsep Barat, susah untuk diajak berubah dan yang paling tidak enak didengar 
adalah adanya persepsi yang mengaitkan Islam dengan terorisme. 

Semua anggapan negatif ini memang sangat tidak menyenangkan bagi dunia Islam, 
karena selalu dipojokkan dengan berbagai tudingan dan image buruk oleh Barat 
yang tidak suka Islam. 

Dengan munculnya demokratisasi di Indonesia dan Tunisia yang mayoritas 
berpenduduk muslim, praktis image buruk Barat sedikit demi sedikit mulai pudar 
dalam arti bahwa Islam bukan lagi dilihat sebagai penghalang tumbuhnya 
demokratisasi, justru Islam sendiri mengusung dan pelindung kehidupan 
demokratis.

Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak tantangan dan rintangan yang 
dihadapi dalam menegakkan demokratisasi. Hal yang serupa juga pernah dihadapi 
oleh negara-negara maju (developed countries) dan hanya saja negara negara 
tersebut sudah lama melakukan perbaikan dalam menghadapi tantang dan rintangan 
yang muncul sebagai akibat tumbuhnya demoktratisasi di negara berkembang. 

Menyinggung hubungan politik kedua negara, Faysal menjelaskan hubungan antara 
Tunisia dan Indonesia sudah berlansung cukup lama dan selama ini tidak ada 
gejolak pasang surut dalam hubungan kedua negara. 

Justru yang terjadi adalah adanya kesamaan pandangan dalam melihat isu 
internasional antara Tunisia dan Indonesia di forum internasional.

Dalam hubungannya dengan isu mengenai Irak, katanya, Tunisia mempunyai 
pandangan dan pendirian yang sama dengan Indonesia seperti usul yang pernah 
disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada President George W. 
Bush dalam kunjungannya ke Indonesia di Bogor tahun lalu. 

Sehubungan dengan masuknya Indonesia sebagai anggota tidak tetap (non 
permanent) di Lembaga Keamanan PBB (United Nations Security Council), 
setidaknya posisi negara Timur Tengah sedikit agak diperhatikan karena bisa 
dipastikan bahwa Indonesia tentu akan membantu mengusung aspirasi negara Timur 
Tengah dan negara lainnya yang kemungkinan diperlakukan tidak adil secara 
politik selama ini. 

Perlakuan tidak adil terhadap negara lain dapat dilihat pada isu Palestina yang 
selama ini selalu mendapat tekanan dari Israel. Walaupun sudah diakui sebagai 
negara oleh PBB, Palestina masih saja mendapat tekanan militer dari Israel 
sehingga pelaksaan roda pemerintah tidak dapat berjalan dengan baik. 

Apalagi setiap aksi kekerasan yang dilancarkan Israel terhadap Palestina tetap 
saja mendapat dukungan dari Amerika, walaupun PBB mengutuk dan mememberi sanksi 
terhadap Israel. 

Dengan sendirinya, dukungan PBB terhadap berdirinya negara Palestina yang 
berdaulat kelihatannya seakan akan seperti pemulas bibir, karena berbagai teror 
yang dilancarkan Israel terhadap Palestina hanya bisa dikecam, tetapi dunia 
atau PBB tidak mampun berbuat apa-apa untuk mencegah kekerasan terhadap 
masyarakat Palestina. antara

abi     
---------------------------------
  Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.   




  

         

 
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

Kirim email ke