Uni Jajang yb., mau lapor nih, kemarin malam kami melihat film itu yang sangat bagus baik tema, penanganan sinematis maupun sangat genial dalam menghidangkan permasalahan polygami sehingga memaksa penonton berpikir namun tidak dapat dijadikan target kemurkaan oleh dan pada siapapun. Film itu sedang ikut FebioFest Film Show di Praha, "happening" tahunan, diterjemahkan kebhs Czech: Sdilena laska (Cinta yang terbagi). Di Praha show tsb digelar di 12 ruang di Village Cinemas untuk seminggu, tiga penayangan film terkait telah sold out sejak awal. Kami ex patriates menggerutu, untung KBRI ada kelebihan sedikit tiket dari panitia, sehingga beberapa kami untuk pertama kali sempat menikmati wajah dan permainan canggih dari Uni Jajang, aktivis pro-dem Rieke Diah Pithaloka dll. Sekaligus show ini berjalan di 14 ibukota provinsi. Kami terkejut ketika tiket habis karena tahun-tahun sebelumnya (Max Havelaar, Telegram dengan Ayu Azhari, dan tahun lalu Gie), yang menonton sedikit sekali. Saya yang di LN telah 48 tahun yakin bahwa film tsb dapat dimengerti oleh publik Eropa. Ini nyata dari reaksi penonton yang sering tertawa kecil melihat banyak adegan yang "subtle", sangat feminin (bukan feminis!), campuran rasa pasrah dan 'emoh" dengan praktik poligami, dan akhirnya mungkin simbolis bahwa "way out"nya nampak diberikan oleh pelayan ayu etnik Tionghoa di resto bebek! Tidak ada seorangpun penonton yang pulang karena bosan. Dr. Teddy Sunardi, pemuda Indo-Ceko yg pernah bermukim di RI 30 tahun menjelaskan kepada saya "who's who" dalam film itu, dan berpendapat bahwa dari karya ini terlihat perfileman Indonesia telah banyak maju. Meskipun menurut sebuah pepatah Prancis: "seekor burung walet (swallow) belum berarti bahwa musim semi telah hadir sepenuhnya". Eniwei kami, juga isterinya yang Eropa totok, sangat antusias mendiskusikan film tsb, sambil menunggu tram malam. (Kami yg pria, maaf, tentu saja bicara banyak sekait keayuan para film stars Indonesia. Maklumlah tiap hari melihat kecantikan "bule" melulu!) Bravo! Bravissimo untuk semuanya dengan sutradara Nia Di Nata!!! Kami di Paguyuban mendengar bahwa Bpk Dubes Salim Said yang pengamat politik dan militer serta "merangkap" sebagai kritikus film sedang menyiapkan KBRI untuk pemutaran film-film Indonesia. Yang tentu akan disambut oleh masyarakat Ceko, setelah melihat minat mereka di film show tersebut. Apa Uni Jajang akan ikut dalam Karlovy Vary (Carlsbad) International Film Festival bulan Juli ini? Salam hangat, Bismo DGondokusumo
