Daya pikat Yogya yang memudar, tidak sebatas munculnya Malioboro Mall, dan pohon pohon yang menghilang. Itu sudah usang dan cerita lama. Sekarang Malioboro semakin sepi. Pasalnya, ketika pukul 21.00 semua pedagang batik, souvenir dan lain lain yang dikaki lima, diemperan toko Malioboro, semuanya harus pergi bersama barang barang dagangannya.
Memang dulu pun, para pedangan kaki lima tutup jam 21.00, tetapi kotak dagangan, buntelan, meja, kardus kardus besar, cepon isi salak pondoh, geplak, gula kacang, kripik belut dan aneka peralatan jualan lainnya tetap ada di tempatnya. Para pedagangpun tidak semuanya pulang meninggalkan barang - barangnya. Mereka banyak yang tidur, ngrumpi sampai larut malam sambil menunggu dagangannya. Di malam yang semakin larut bergabung pula tukang becak, pedagang makanan pikulan, tukang sekoteng, penjual bakmi gerobak, mahasiswa, seniman jalanan dan turis bule bicara kesana kemari sambil makan minum yang murah meriah. Komunitas ini sebenarnya pendukung utama Malioboro yang hidup. Karakter Malioboro yang sesungguhnya bukan ada di warung gudeg lesehan. Sebab sekarang, di seantero kota kota di Indonesia, situasinya tidak jauh berbeda, banyak pedagang makanan kaki lima di jalan protokol, buka sampai dini hari dan tentu saja ramai sekali. Jadi Yogya tidak bisa mengandalkan warung gudeg lesehan yang buka sampai dini hari sebagai ikon Malioboro, apalagi pedagang gudeg lesehan juga tidak semuanya asli gudeg Yogya, mereka berdagang aneka macam makanan, dari pecel lele sampai gurami asam manis dan makanan lain yang universal. Mungkin, penguasa dan orang - orang Yogya tidak merasa kehilangan, sebab mereka toh sudah pada dirumah dan tidak akan keluyuran sampai dini hari di Malioboro. Demikian pula pengunjung baru yang tidak tahu tentang Yogya lima tahun, sepuluh tahun atau bahkan tigapuluh tahun yang lampau, pasti tidak menghiraukan. Namun, tentunya berbeda dengan pecinta Yogya yang berkunjung dan menginap, khususnya di sekitar Malioboro. Mereka datang untuk melihat Malioboro yang hidup dalam kesedehanaan selama 24 jam tiada henti. Sekarang para pecinta Yogya, tidak akan lagi melihat Malioboro yang khas dengan komunitas yang juga spesifik. Semua telah raib, karena para perencana kota yang sok tertib. Coba amati di seberang Hotel Garuda, setelah pukul 21.00, kita hanya akan melihat sederetan lorong panjang, sebagian berkeramik putih, sepi tidak ada gairah. Tidak ada kumpulan tukang becak, penjaga dagangan, warung angkringan dan komunitas khusus yang saling berinteraksi. Jika pun di sela sela jalan sepi itu ada warung gudeg lesehan, tetap saja terasa hambar tanpa situasi khas. Sudah banyak cerita orang yang kecewa melihat Malioboro yang sepi. Bahkan, terlalu banyak cerita tentang kekecewaan dari orang orang yang mau memamerkan kehidupan Malioboro yang tidak pernah tidur kepada anaknya, kerabatnya, muridnya, mahasiswanya, tamu tamu asing, peserta peserta seminar. Jika keluhan ini di dibaca oleh para penguasa Yogya, paling paling mereka akan memamparkan data kunjungan wisatawan yang meningkat dan data kuantitatif lain yang menunjukkan bahwa Malioboro yang sepi tidak ada pengaruhnya. Apapun dalihnya, Malioboro sekarang, sama dengan kota kota lain yang ada di Indonesia. Rohnya telah melayang. 26 Maret 2007 Roni Wijaya ____________________________________________________________________________________ Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097
