DL - Tentu saja Gus Dur disambut meriah di JCC, beliaulah yang berani mendobrak praktek diskriminasi terhadap sukubangsa Tionghoa di Indonesia. Sebelum itu, orang Tionghoa yang Kristen/Budha/Hindu/Konghucu bahkan mengalami double discrimination, etnisnya didiskriminir, agamanya juga didiskriminir. Maka tugas SBY melangkah lebih lanjut meneruskan kinerja Gus Dur untuk membuat Indonesia betul-betul bebas diskriminasi (ras, agama, golongan, suku dll.), baik terhadap etnis Tionghoa, mau pun terhadap etnis Arab, etnis India dll. UU Kewarganegaraan yang disahkan tahun lalu merupakan pilar penting untuk memerangi diskriminasi dan rasisme di Indonesia.
SUARA PEMBARUAN DAILY -------------------------------------------------------------------------------- Masyarakat Tionghoa Bagian Integral Indonesia [JAKARTA] Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk, dan di dalamnya termasuk masyarakat etnis Tionghoa. Karena itu warga keturunan Tionghoa yang lahir, tumbuh, dan hidup di Tanah Air Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa ini. Tidak ada dan tidak dikenal lagi dikotomi pribumi dan nonpribumi. Demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika menyampaikan sambutan dalam perayaan Tahun Baru China 2558, di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (24/2). Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Anie Yudhoyono mengenakan pakaian merah yang dalam Imlek merupakan simbol kemenangan dalam pertarungan melawan kejahatan. Selain Presiden, perayaan Imlek kali ini dihadiri Wapres Jusuf Kalla dan istri, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Menteri Agama Maftuh Basuni dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang datang beberapa saat setelah Presiden Yudhoyono disambut antusias hadirin. Gus Dur adalah presiden pertama negeri ini yang menyatakan Imlek sebagai Hari Raya Keagamaan dan menjadikannya sebagai hari libur nasional. Berkaitan dengan tema perayaan Imlek, yakni "Apa yang Diri Sendiri Tiada Inginkan, Janganlah Diberikan kepada Orang Lain", Presiden Yudhoyono menyebutnya relevan dan tepat. Karena itu, katanya, jangan lagi ada pembunuhan karakter, saling fitnah dan saling caci-maki untuk kepentingan tertentu. Presiden Yudhoyono selain menyatakan masyarakat Tionghoa adalah bagian integral bangsa ini, juga mengajak semua pihak membangun kebersamaan, menjadikan kehidupan berbangsa harmonis dan saling berbagi kasih sayang. Diingatkannya, kemajemukan yang membentuk mozaik indah adalah modal bangsa ini meraih kemajuan dan karena itu kekeliruan masa lalu jangan sampai terjadi lagi. Presiden Yudhoyono juga berharap tidak ada lagi diskriminasi atau perlakuan tidak adil di negeri ini hanya karena etnis atau agama yang berbeda. "Tidak boleh ada lagi saling curiga di antara anak bangsa, mari kita bangun dan masuki era baru kehidupan berbangsa dan bernegara penuh harmonis dengan semangat dan keikhlasan tinggi," katanya. [E-5/Y-3] -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 26/2/07
