maaf pak moderator, numpang posting...

PRESS RELEASE
    
    
  Deklarasi Ikatan Alumni FFTV-IKJ
  Taman Ismail Marzuki, 30 Maret 2007
    
  Nilai Penting Etika Publik dan Pendidikan Film/Televisi Ditengah Wajah 
Industri yang Vulgar, Konsumtif dan Mengabaikan Kesejahteraan serta Proses 
Kreatif Industri Populer yang Kompetitif   
    
    
  Berkat Rahmat Tuhan YME,
    
  Atas suksesnya Kongres Pertama Alumni FFTV IKJ pada tanggal 21 Maret 2007 
yang diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, maka para Alumni 
FFTV IKJ  yang selama kurang lebih 30 tahun cenderung tampil sendiri-sendiri 
ditengah sengkarut dunia Industri Film, TV dan Fotografi, kini telah tergabung 
secara resmi dalam suatu wadah organisasi yang kami namakan “Ikatan Alumni 
FFTV-IKJ”. 
    
  Sejak saat ini dan seterusnya kami akan mengambil peran secara formal dalam 
kerangka kebebasan berekspresi yang bertanggungjawab secara etis dan estetis 
untuk menjaga dan membangun dunia Film, TV dan Fotografi bersama-sama dengan 
organisasi-organisasi lain yang bergerak dalam ruang-lingkup yang sama dan 
berkaitan.
    
  Mengingat periode ini adalah periode penting dalam dinamika industri Film, TV 
dan Fotografi, maka Alumni FFTV IKJ untuk pertama kali melakukan Sarasehan 
(Gedung Film, 15 Maret 2007), alumni FFTV IKJ memberi beberapa catatan penting 
terhadap dinamika Film, TV dan Fotografi :
    
  (Serasehan ini dihadiri oleh lebih dari 70 alumni mewakili berbagai bidang 
profesi Film, TV dan Fotografi)
    
  POKOK-POKOK PIKIRAN 
    
  TENTANG TELEVISI 
    
  PERTAMA: KEGAGAPAN MENGHADAPI PERCEPATAN PASAR INDUSTRI BUDAYA POPULER, JALAN 
PINTAS PASAR SERBA VULGAR DAN KONSUMTIF 
    
  Kompetisi industri Televisi dan Film adalah wajah kompetisi yang vulgar dan 
konsumtif serta dalam relung pasar yang sangat pendek dan seragam tanpa 
memperhatikan kode etik perlindungan kosumen ataupun nilai publik. Hal ini 
diakibatkan oleh sistem kompetisi pasar yang kehilangan aspek keunggulan pasar 
yang utama, yakni adaptasi pengetahuan hingga ketrampilan. Yang dijejalkan pada 
pasar hanyalah peniruan fisik dan daya tarik yang vulgar. Sebutlah, jika 
mengadaptasi Opera Sabun Korea, hanya fashion, kegantengan dan konflik vulgar, 
namun bukan grammar dramanya. Kondisi ini mencerminkan kegagapan menghadapi 
percepatan industri budaya populer, sehingga yang lahir adalah daya tarik semu 
dan fisik saja, maka atas nama pasar, publik kehilangan nilai edukasinya, yakni 
program yang memenuhi syarat lengkap sebagai hiburan, termasuk kode etiknya.
    
    
  KEDUA: MENGABAIKAN  ETIKA  TONTONAN RUMAH 
    
  Dalam perbandingannya dengan televisi negara lain, dari Eropa, Korea Selatan, 
Jepang, Malaysia hingga Thailand. Maka program-program televisi Indonesia 
terlihat sangat mewah, konsumtif dan vulgar serta sangat terbuka pada 
aspek-aspek informasi termasuk sex. Hal ini berbeda dengan Televisi negara 
lain, sebut Thailand atau Jepang serta Korea, meski industri hiburan luar rumah 
sangat bebas, namun televisi cenderung sangat memperhatikan etika tontonan 
rumah sehingga terasa edukatif meski tetap kritis. Hal ini menunjukkan, bahwa 
televisi Indonesia terasa mengabaikan esensi televisi sebagai tontonan rumah, 
yakni tontonan keluarga dengan demografi umur yang beragam yang menuntut kode 
etik tersendiri.
    
    
  KETIGA: PERSAINGAN  YANG MENGABAIKAN PEKERJA KREATIF
    
  Industri televisi yang menjadi primadona, karena mengandung kekuatan politik, 
ekonomi dan panduan nilai serta kekuasaan informasi, kini masuk  dalam periode 
yang semakin kompetitif dengan masuknya modal asing serta terkonsentrasinya 
kepemilikian, serta wajah baru televisi lokal. Namun, modal besar dengan jumlah 
hutang besar, serta tuntutan rating tanpa pertumbuhan kode etik, menjadikan 
persaingan menjadi sangat keras, jangka pendek, tanpa panduan, serta tidak ada 
jaminan yang cukup untuk proses kreatif. Akibatnya, dalam persaingan dewasa 
ini, yang diuntungkan adalah pemilik modal, pengambil kebijakan program, namun 
para pekerja kreatif sehari-hari kehilangan jaminan, baik kesejahteraan, proses 
penciptaan, maupun perlindungan waktu serta kesehatan. Di sisi lain, televisi 
komunitas yang diharapkan melahirkan keberagaman, ternyata lebih pada sifat 
primordial dan kehilangan nilai publik lokal, dan jatuh menjadi peniruan 
televisi nasional yang konsumif namun dalam ruang lokal.
    
    
  KEEMPAT: KRITIK YANG REAKTIF 
    
  Demokratisasi dalam apresiasi produk industri audio visual lebih muncul dalam 
bentuk kritik reaktif, bersifat simbol-simbol, primordial baik kepentingan, 
golongan ataupun profesinya sendiri. Sehingga pelanggaran pada kode etik yang 
esensial tidaklah tersentuh, sebutlah tontonan mistik yang dibungkus religius, 
karena bungkus religiusnya maka kehilangan kritik pada pengabaian akal sehat.
    
    
  KELIMA: KEHILANGAN AKAL SEHAT 
    
  Empat gejala di atas menjadikan program-program televisi kehilangan akal 
sehat, namun lebih sebagai pameran  konsumsi serta exploitasi unsur drama yang 
sifatnya vulgar sehingga menghilangkan sikap empati dan memunculkan wajah 
masyarakat penuh kekerasan, baik ekonomi maupun sosial. 
    
    
  KEENAM: TOLOK UKUR DAN PROGRAM YANG SERAGAM 
     
  Tidak adanya keberagaman lembaga rating dan representasi sistem riset rating 
yang cukup komprehensif serta belum munculnya komunitas-komunitas pengawas 
televisi yang kuat, menjadikan tolok ukur sangat seragam, tidak kompetitif dan 
melahirkan pasar yang hanya menyediakan ruang bagi program yang monoton, jangka 
pendek, serta konsumtif.
    
    
    
  TENTANG FILM
    
  PERTAMA: PENUH EFORIA JANGKA PENDEK, FRIKSI DAN KEHILANGAN DAYA EKPERIMENTASI
    
  Ketika berbagai negara, secara bergantian mampu merebut perhatian dunia film 
internasional, dan meletakkan sebuah peta generasi (Korea Selatan, Iran, 
Thailand, Cina, dll.). Maka, dalam sinema Indonesia, bisa dilihat dari generasi 
satu ke generasi lainnya hingga sekarang, justru belum mampu melakukannya. Hal 
itu terjadi  karena banyaknya friksi, sehingga gerakan tidak muncul sebagai 
dinamika dialog kritis berbagai elemen, tetapi perpecahan dan berjalan 
sendiri-sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhan selalu bersifat eforia, krisis 
muncul dalam siklus yang pendek, dan gerakan bersifat reaktif.  Hal ini 
ditambah, setiap upaya pertumbuhan tidak disertai pemetaan perkembangan global, 
serta pemahaman akan kelemahan unsur-unsur pertumbuhan lokal. Akibatnya, pasar 
bertumbuh jangka pendek dan seragam. Di sisi lain, eksperimentasi kehilangan 
tempat.
    
    
  KEDUA: KEHILANGAN PASAR JANGKA PANJANG DAN KEUNGGULAN KETERAMPILAN 
    
   Pasar dalam perspektif industri budaya populer senantiasa memuat berbagai 
unsur, baik itu bersifat mode, namun juga pengelolaan nilai tambah teknologi, 
ekperimentasi pada berbagai aspek, juga ketrampilan drama. Namun, pasar di 
indonesia hanya bergantung kepada satu aspek besar yakni mode sesaat pada tema 
ataupun fashion. Akibatnya, perkembangan pasar jangka panjang yang ditumbuhkan 
oleh berbagai unsur (sebut special efek atau kemungkinan-kemungkinan lain dalam 
sinema/penemuan) kehilangan tempat. Artinya, pasar hanya diartikan sempit dan 
jangka pendek.
    
    
  KETIGA: KEBIJAKAN TANPA PROYEKSI MASA DEPAN 
    
  Belum lahirnya strategi budaya jangka pendek dan panjang yang secara 
realistis mampu mengelola berbagai sumber keuangan secara transparan dan 
didukung oleh payung hukum, serta skala prioritas perkembangan, baik kreasi 
maupun apresiasi. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan yang masih bersifat 
sporadis, politis, sentralistik (Jakarta oriented). Kebijakan pemerintah juga 
tidak memuat proyeksi teknologi masa depan yang mampu diakses menjadi 
pembelajaran publik untuk menghadapi kompetisi kedepan (Sebutlah nasib PPFN 
yang tidak jelas)
    
    
    
  PENDIDIKAN FILM DAN TELEVISI 
    
  PERTAMA: TIDAK TUMBUHNYA KULTUR KAJIAN DAN ANALISA
    
  Di tengah upaya produktifitas penciptaan karya film dan televisi, maka justru 
kajian dan analisa yang mendalam kehilangan ruang dan waktu tumbuh. Sehingga 
gagal melakukan pemetaan perkembangan pemikiran global dan pencipta-pencipta 
Indonesia tidak menciptakan atmosfir pembelajaran bagi para pembuat film 
selanjutnya. Akibatnya, dunia film hanya diramaikan oleh pembicaraan pasar, 
selebriti, dan tuntutan perlindungan serta jargon, tetapi kehilangan 
perkembangan keilmuannya.
    
    
  KEDUA: PENGHINAAN TERHADAP ASPEK KETERAMPILAN 
    
  Dalam birokrasi pengajaran ataupun penghargaan kesejahteraan pekerja, maka  
penghargaan lebih diutamakan kepada yang bergelar kesarjanaan minimal SI. 
Akibatnya, ketrampilan yang menjadi dasar utama industri dan penciptaan 
dikalahkan oleh upaya jalan pintas SI. Yang terjadi kemudian, banyak pengajar 
kajian yang mengajar ketrampilan, tanpa memahami proses kreasi. Oleh karena 
itu, Alumni  FFTV IKJ menyarankan agar dibuka ruang jenjang gelar akademi SI 
hingga S3 lewat pertanggungjawaban karya dan ketrampilan tertentu yang sudah 
terbukti diakui di masyarakat. Sekiranya hal ini tidak terjadi, maka terjadi 
salah tempat pengajar. Di sisi lain, alumni FFTV menyarankan, agar kurikulum 
pendidikan kesenian tidak disamakan begitu saja dengan kurikulum pendidikan 
keilmuan lainnya, karena menyebabkan terbunuhnya potensi-potensi bakat dan 
ketrampilan serta memunculkan kurikulum semu yang semata-mata mengejar gelar.
    
    
  KETIGA: PENDIDIKAN SENI DAN INDUSTRI BUDAYA POPULER TIDAK DILIHAT SEBAGAI 
POTENSI STRATEGIS BANGSA
    
  Di tengah perkembangan pesat industri budaya populer  (termasuk film dan 
televisi) di berbagai negara  didukung oleh strategi pendidikan dan teknologi 
serta perkembangan sumber daya manusia, namun yang terjadi di Indonesia 
Pemerintah justru terasa tidak cukup memberi perhatian pada sekolah-sekolah 
tinggi serta sekolah kejuruan yang menjadi basis tenaga terampil serta pikiran 
strategis bagi industri budaya populer. Padahal di Amerika, industri budaya 
populer adalah nomor dua setelah industri militer.   
    
  
 
    M. Ainun Ridho

Ketua Umum



Sofyan D. Surza

Sekjen



Panji Wibowo
    Ketua Bidang Kajian, Penelitian dan Pengembangan
    
    
    
  Dewan Pertimbangan Organisasi
  -          Dani Sapawie
  -          Nurhadie  Irawan
  -          Pandu Sunarya
  -          Dudung Yuliarso
  -          Enison Sinaro
  -          Garin Nugroho
  -          Agni Ariatama
  


                
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

Kirim email ke