Teman-teman yang baik,
Ya, begitulah situasi di negeri Indonesia Raya ini. Para difabel ada, tapi 
dianggap tidak ada. Kepentingan dan kebutuhan khusus kami tidak pernah 
diperhitungkan.

Acara hari sensitivitas Jumat 30 Maret minggu lalu adalah harapan sekaligus 
sindiran.

Harapan, karena anak-anak adalah pemimpin masa depan. Dengan memberikan 
pengalaman beringteraksi dengan teman-teman difabel, diharapkan jika nanti 
mereka menjadi pemimpin, tidak seperti orang tua mereka yang sekarang. Ya, itu 
memang masih lama sekali...Tapi, sebuah ihtiar memperbaiki kondisi.

Sindiran, karena, terhadap anak-anak, kita  lebih mudah memberikan pengertian 
daripada kepada orang dewasa. Dan, acara hari Jumat lalu buktinya.

Salam hangat
Aria Indrawati.



  ----- Original Message ----- 
  From: Titiana Adinda 
  To: Forum PembacaKompas ; Milis Perempuan ; Milis Media ; Milis KOMNAS ; 
[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, April 03, 2007 4:59 PM
  Subject: [mediacare] Re: Mari Berempati kepada Penyandang Cacat


  Dear All,

  Membaca berita di Kompas itu aku semakin pesimis saja. Meskipun Indonesia 
sudah menandatangani Konvensi Hak-hak Asasi Penyandang Cacat Resolusi PBB di 
New York 
  Kenapa aku pesimis karena kenyataannya sudah banyak UU atau Peraturan lainnya 
demi kepentingan kaum diffable yang dilanggar oleh pemerintah kita.Hak atas 
aksesibiltas kota jelas sekali dilanggar contohnya pada pembangunan halte 
busway di Jl.Rasuna Said (Kuningan) tidak bisa dipakai oleh pengguna kursi roda 
karena jalannya hampir semuanya beranaktangga.Aku cuma senyum kecut aja ngeliat 
jelas-jelas stiker di Bus Busway yang ada simbol untuk orang diffable (gambar 
org dgn kursi roda).Bagaimana mungkin sih orang yang naik kursi roda bisa naik 
ke halte yang beranak tangga.Dimana sih itu akalnya???Aku nggak habis pikir...

  Begitu juga dengan rumah-rumah ibadah baik masjid atau gereja semuanya 
beranak tangga.Memangnya yang boleh ibadah hanya orang yang tidak diffable saja?

  Aku ada cerita dari seorang teman di Riau yang kebetulan mengunakan tongkat 
di kiri dan kanannya karena kaki dan tangan kirinya tidak lagi berfungsi karena 
kecelakaan.Apa yang terjadi padanya?Dia tidak diterima bekerja sebagai guru 
walaupun nyata-nyata dia lulus ujian PNS.Kata Diknas setempat “Maaf kami tidak 
menerima org cacat,saudara tidak kami terima sbg guru”Dia curhat gitu ke 
aku,dia sedih dan sangat stress karena cita-citanya menjadi guru tinggal mimpi 
semata.Padahal dia sudah menyurati SBY dan meng-sms SBY tapi sama sekali tidak 
ada jawaban.Padahal ketika pemilu dulu dia milih SBY-JK lho.Kirain pemerintah 
SBY-JK bisa merubah nasibnya ternyata 0 besar.
  Tadi malam aku juga sempat menonton berita di SCTV kalo para diffable 
berujukrasa di Makassar meminta agar mereka diberi kesempatan kerja yang sama 
dan tuntutan lainnya.

  Aku tidak begitu percaya kepada Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan Komnas 
HAM yang katanya akan membela kaum diffable.Paling hanya lip services 
belaka.Kan enak toh bisa jalan2 ke New York dgn gratis dan dibayari oleh 
negara.Masalah implementasi sih ntar dulu.Paling begitu pikirannya.Aku tidak 
pernah mendengar sekalipun usaha maupun pernyataan baik dari Mensos atau Komnas 
HAM dan DPR kalo mereka akan berusaha membela kepentingan kaum diffable.

  Aku setuju dengan pendapat mas Adrian bahwa jangan menyebut kaum diffable itu 
tidak normal.Banyak koq diantara mereka yang berprestasi.Tapi ya itu wacana 
tentang ketidaknormalan kaum diffable telah begitu melekat di kepala kita.Jadi 
mohon Ibu Ratih bisa meralatnya.

  Terima kasih,

  Salam hangat,

  Dinda




  Mari Berempati kepada Penyandang Cacat 

  http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/02/humaniora/3425384.htm
  ===========================

  Sejumlah murid SD di Jakarta, Jumat (30/3) di The Japan Foundation
  Jakarta, diajak untuk berempati kepada para penyandang cacat. Anak-
  anak yang secara fisik normal tersebut berbaur dengan rekan- rekannya
  penyandang cacat.

  Mereka dibagi dalam tiga kelompok simulasi. Kelompok pertama belajar
  bahasa isyarat untuk tunarungu, kelompok kedua belajar huruf Braille,
  kelompok ketiga belajar menggunakan kursi roda.

  Dalam waktu satu jam, siswa SD Negeri 04 Menteng, siswa SD Negeri 12
  Pagi Cipete, dan siswa SD Al Ahzar yang berbaur dengan murid
  penyandang cacat tunanetra SLB A Pembina Tingkat Nasional, tunarungu
  SLB B Santi Rama, tunadaksa dari YPAC, dan kelompok musik interaksi
  (anak down syndrome dan autis) sudah menguasai keterampilan baru itu.
  Mereka saling memperkenalkan diri dengan bahasa isyarat, menulis nama
  dalam huruf Braille, dan mulai lincah menggerakkan kursi roda.

  Kegiatan ini merupakan bentuk perayaan ditandatanganinya Konvensi Hak-
  hak Asasi Penyandang Cacat Resolusi PBB di New York, Amerika Serikat,
  Jumat (30/3) pagi waktu setempat. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah
  pun turut hadir dalam sidang di PBB tersebut.

  Mengenal pluralitas

  Kegiatan ini, menurut Maulani R dari Forum Hak Penyandang Cacat
  Indonesia, menandai dimulainya strategi penyadaran masyarakat lebih
  mengenal dan memahami penyandang cacat.

  Komnas HAM pun—seperti dipaparkan Taheri Noor, salah seorang
  komisioner dari Komnas HAM—mempunyai visi untuk meningkatkan
  perlindungan dan penegakan hak asasi manusia, termasuk kepada para
  penyandang cacat. Komnas HAM bersama para pemangku kepentingan dan
  masyarakat yang peduli pada penegakan hak asasi manusia penyandang
  cacat telah menyusun berbagai program. Antara lain dengan segera
  mengaplikasikan konvensi tersebut dalam bentuk undang-undang, serta
  mendorong amandemen UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
  yang bersifat donasi (bantuan-bantuan sosial) menjadi undang-undang
  yang ability, yaitu berupaya meningkatkan kemampuan para penyandang
  cacat.

  Guna menyosialisasikan dimulainya proses penandatanganan konvensi
  ini, Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) bersama mitra
  kerjanya—Handicap International dan Komnas HAM—merencanakan untuk
  menyelenggarakan serangkaian kegiatan kampanye kepedulian terhadap
  semua lapisan masyarakat dari tingkat provinsi sampai kabupaten.
  Karena itu, anak-anak juga disentuh. Memberikan pengalaman pada anak-
  anak untuk berteman dengan kawan-kawan mereka yang menyandang cacat,
  misalnya, dinilai sangat penting sebagai bagian dari proses
  pendidikan untuk mereka.

  "Anak-anak adalah calon pemimpin di masa mendatang. Pemimpin yang
  baik perlu memiliki kepekaan sosial yang tinggi, termasuk kepekaan
  terhadap masalah yang dihadapi warga masyarakat penyandang cacat,"
  kata Siswadi, Ketua PPCI. (LOK)


  Re: Mari Berempati kepada Penyandang Cacat 

  saya senang dengan adanya sensitisasi kepada anak -
  anak tentang difabel (saya lebih suka menyebut
  penyandang cacat itu difabel), tetapi ada beberpa hal
  yang menjadi catatan saya, mengapa kok cuma anak -
  anak, memang benar kata siswadi anak - anak adalah
  calom pemimpin masa depan, tetapi mengapa tidak
  dikalngan luas disosialisasinya, seperti pengusaha,
  biar pengusaha juga simpati pada teman - teman
  difabel, sehingga teman - teman yang difabel dapat
  pekerjaan, permasalahannya diskriminasi para difabel
  ini kan sudah terjadi lama sekali, baik itu dalam
  sektor politik, sosial, dsb. coba liat aja, berapa
  banyak gedung ato sarana trasfortasi umum yang gak
  bisa di akses para difabel ????

  jadi kalau mereka (anak - anak) diberi pengertian
  tentang difabel sekarang tanpa adanya sensitifikasi
  pada masyarakat luas dan tanpa adanya dorongan yang
  kuat baik dari kalangan akademisi, NGO, maupun
  golongan yang peduli pada masalah difabel, menurut
  saya ya agak percuma, wong mereka (anak -anak) nanti
  jadi pemimpinya sekitar 20 tahun lagi, masa difabel
  harus nunggu 20 tahun biar enggak terdiskriminasi
  lagi.

  salam
  Ad


  Re: Mari Berempati kepada Penyandang Cacat 

  Betul saya sebagai pendidik anak-anak dengan kebutuhan
  Khusus. Terkadang saya merasa sedih sekali kalo ada
  org tua dari murid yang "normal" langsung merasa
  ketakutan anak-anaknya "tertular" saat bermain dengan
  anak-anak yang tidak "Normal".

  Juga terkadang masih ada praktisi yang suka melecehkan
  tempat2 pendidikan alternativ seperti tempat kami
  ini.Kadang tanpa mencari Informasi yang jelas...tempat
  pendidikan seperti tempat kami sudah langsung di
  "Stempel" sebagai tempat pendidikan anak tidak
  normal.Dan tidak mau mengakui bahwa anak didik kami
  kelak sanggup berbaur dengan masyarakat normal dan
  akan menunjukan kemampuannya.

  Dan ini selalu menjadi dilemma panjang bagi org tua
  yang sangat membutuhkan tempat kami, karena anaknya
  memang masih kurang dapat bergaul seperti layaknya
  anak "Normal". Saya sudah membuktikan sendiri selama
  kita sangat menghargai anak atau orang yang memang
  mungkin tidak bisa ber"perilaku" seperti yang kita
  sebuat "normal" maka dalam waktu sekejab kita sendiri
  akan terlupa dengan ke "tidak normalan" pada person
  tersebut sehingga kita bisa bekomunikasi dua arah
  dengan baik dan normal.

  Karena itu saya titik beratkan pada Daycare kami agar
  anak bisa mandiri,minimal mereka paham untuk menolong
  dirinya sendiri, dan mereka sanggup berkomunikasi dua
  arah baik secara verbal maupun non verbal, sehingga
  lingkungannya bisa paham dengan apa yang dia
  rasakan,dan yang ingin diceritakan. Dengan demikian
  mereka yang tadinya "Cacat"bisa dengan cepat
  mengangkat "derajat" mereka dengan kata lain mereka
  punya harga diri dan PD untuk memahami kekurangannya
  dan memahami kelebihannya.

  Mudah2an akan semakin banyak sekolah2 atau daycare
  semacam ini sehingga membuat kita semua bisa
  bebaur...betul tidak usah menunggu 20 tahun lagi!!! :)

  Salam dari RG
  Re: Mari Berempati kepada Penyandang Cacat 

  saya setuju, dengan adanya pendapat dari mbak/ibu
  Ratih, tetapi sesuatu yang agak mengganjal di pikiran
  saya ?? saya kok kurang sepakat dengan adanya pendapat
  tentang "normal" dan "tidak normal", apakah dengan
  memiliki semua kelengkapan tubuh disebut dengan
  "normal"??, pakah anak yang tidak lengkap anggota
  tubuhnya tidak disebut dengan "normal", sebagai
  contoh, anak yang tidak memiliki kaki apakah dia bisa
  disebut tidak "normal"???
  karena menurut saya fungsi kaki untuk "mobile" ketika
  seorang anak tidak mempunyai kaki dan digantikan
  dengan kursi roda sehingga fungsi "mobile" terpenuhi,
  apakah masih tidak normal.

  Tiap orang menpunyai potensi untuk menjadi difabel,
  bisa dengan kecelakaan kerja, lalulintas dsb.
  saya tidak ada maksud apa2 karena menurut saya difabel
  tidak butuh untuk dikasiani, tetapi mereka lebih butuh
  untuk diakui ekstitensinya, keberadaan dan
  difasilitasi. difabel bisa terdriskriminasi sampai
  sekarang karna masyrakat kita juga tidak sensitive dan
  cenderung apatis dengan persoalan difabel.

  salam
  Adrian




   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.25/743 - Release Date: 4/2/2007 
4:24 PM

Kirim email ke