Pertunjukan Teater "DITUNGGU DOGOT"
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sutradara: Kurniasih Zaitun (TINTUN)
Tgl 26 April 2007
Pkl. 19.30 
Di Teater Arena 
Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta - Solo
   
  Konsep Garapan
   
  Ditunggu Dogot adalah sebuah cerpen Sapardi Djoko Damono. "Teks" cerpen ini 
kemudian ditafsirkan dan diwujudkan dalam bentuk pertunjukan teater. Cerpen ini 
mengisahkan perjalanan dua orang tokoh, laki-laki dan perempuan yang sedang 
ditunggu Dogot. Selama perjalanan Ditunggu Dogot mereka mengalami berbagai 
persoalan, konflik dan perdebatan mereka tentang Dogot, sedangkan Dogot itu 
sendiri tidak jelas identitas dan asala usulnya. 
   
  Dapat dilihat disini bahwa Sapardi sangat terinspirasi oleh Menunggu Godot 
karya Samuel Beckett. Sapardi mencoba melihat bagaimana persoalan "menunggu" 
tidak akan lengkap jika tidak ada "ditunggu", dan Sapardi percaya bahwa hidup 
ini berpasang-pasangan. Hal ini terlihat pada dialog-dialog yang muncul dalam 
cerpen tersebut, termasuk cara Sapardi dalam melukiskan persoalan dan konflik 
yang membangun inti cerpen tersebut. 
   
  Konsep panggung yang ditawarkan adalah stage on stage (panggung di atas 
panggung) yang menghadirkan panggung bergerak (berputar) untuk mnenawarkan 
konsep un-blocking (perpindahan aktor lebih ditentukan oleh pergerakan 
panggung). Sedangkan posisi penonton diarahkan ke dalam bentuk prosenium dan 
tapal kuda/arena, dengan tujuan lebih memudahkan penonton untuk mengapresiasi 
pentas itu sendiri. Untuk memperkuat karakter pertunjukan dan artistik 
panggung, pementasan ini juga menggunakan multimedia yang dilahirkan melalui 
layar yang menjadi latar belakang panggung. 
   
  Konsep pertunjukan Ditunggu Dogot, berangkat dari ide dasar randai, dengan 
menjadikan unsur galombang dan pelaku galombang sebagai penentu, yakni penentu 
pergantian waktu, tempat dan adegan. Fungsi pelaku galombang dalam pertunjukan 
ini sangat ditentukan oleh perputaran panggung; pada saat perputaran dilakukan, 
pelaku galombang menjadi aktor pertunjukan, dan ketika tidak terjadi lagi 
perputaran, sang pelaku galombang memfungsikan diri sebagai bagian dari 
penonton. 
   
  Sinopsis 
   
  Perjalanan dua orang tokoh, laki-laki dan perempuan yang sedang ditunggu 
Dogot. Selama perjalanan Ditunggu Dogot mereka mengalami berbagai persoalan, 
konflik dan perdebatan mereka tentang Dogot, sedangkan Dogot itu sendiri tidak 
jelas identitas dan asala usulnya. 
   
  Semua yang ada dimuka bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Jauh dekat, 
tinggi rendah, langit bumi, laki-laki perempuan, menunggu ditunggu. Perjalanan 
hidup manusia yang tak pernah bisa ditebak "apa", tapi dapat dirasakan, 
dijalani dan dinikmati. 
   
  ***
   
    Profil Kelompok
  Komunitas seni HITAM-PUTIH di Sumatra Barat awalnya adalah kelompok teater 
yang tumbuh di lingkungan pelajar SMU. Didirikan pada tahun 1992 dengan nama 
Teater Plus sebagai salah satu kegiatan ekstra kurikuler di SMU Plus INS Kayu 
tanam Sumatera Barat. Kemudian di tahun 1998, atas beberapa pertimbangan, 
kelompok ini berubah nama menjadi komunitas seni HITAM-PUTIH dan hingga saat 
ini tetap eksis sebagai salah satu kantong seni di Sumatera Barat. Berbagai 
aktivitas seni pertunjukan khususnya teater telah dipentaskan, baik di tingkat 
regional Sumatera hingga merambah beberapa tempat di Jakarta. Sejak awal 
kehadirannya, komunitas ini cukup memberikan warna baru pada perkembangan seni 
pertunjukan di Sumatera Barat. Hal ini tampak dari beberapa pentas keliling di 
wilayah Sumatera dan Jakarta yang digelar pada kurun waktu 1998-2000, di 
samping juga melakukan beberapa kali workshop teater di Sumatera Barat. 
  
Selain membidangi seni Teater, komunitas seni HITAM-PUTIH, juga mengembangkan 
bidang kesenian lainnya dengan menjadi penyelenggara beberapa pentas Tari, 
Workshop Sastra, dan Pagelaran Musik Etnik. Sedangkan dalam bidang perfilman, 
komunitas ini menyelenggarakan kegiatan diskusi, pemutaran dan produksi film, 
di samping melakukan eksplorasi, riset dan eksperimen untuk mencari 
bentuk-bentuk alternatif seni pertunjukan khususnya seni teater dengan 
memberikan kesempatan kepada penonton untuk memberikan penilaian lewat diskusi 
pasca pentas. 
   
  Profile Sutradara 
  Kurniasih Zaitun lebih akrab dengan panggilan TINTUN kelahiran, Padang 20 
April 1980. Salah satu dari sekian banyak perempuan yang aktif dalam kesenian 
Teater. Telah meluluskan pendidikan S-1 nya di STSI Padangpanjang Jurusan 
Teater dengan Minat Utama Penyutradaraan. 
  No Hp :08126749614 E-mail : [EMAIL PROTECTED] 
   
  PENGALAMAN KESENIAN 
   
  TEATER
  Menjadi Sutradara: 
      
   Pertunjukan "Ditunggu Dogot" Karya Sapardi Djoko Damono di Padangpanjang, 
Pasar Seni Pekan Baru-Riau dan Taman Budaya Prop. Sumatra Barat-Padang 
(2005-2006) 

      
   Pertunjukan "Kura-Kura Bekicot"Karya Ionesco di Padangpanjang (2004) 

    
   Puisi Pertunjukan dengan tema "Seks, Teks dan Konteks"di Univ Padjajaran 
Bandung (2004) 
    
   Pertunjukan "Cleopatra" karya Shakespeare di Padangpanjang (2003) 
    
   Pertunjukan "Cermin" karya Nano Riantiarno di Festival Pesisir- Taman Budaya 
Padang (2002) 
    
   Pertunjukan "Pintu Tertutup" karya Jean P Sartre di Padangpanjang (2002) 
    
   Pertunjukan "Topeng" karya Yusril di Univ Bung Hatta Padang, Taman Budaya 
Bengkulu, GOR Payakumbuh Sum-Bar (2000-2001) 
    
   Pertunjukan "Komplikasi" karya Yusril di Pertemuan Teater Eksperimental 
Internasional Fak Sastra Univ Andalas Padang (2000) 
    
   Pertunjukan "Malam Terakhir" karya Yukio Mishima di Padangpanjang (2000) 
    
   Pertunjukan "The Song Of The Death" karya Kurniasih Zaitun di Padangpanjang 
(2000) 
    
   Dramatisasi Puisi "Menjelang Hari Pemilu" karya Gunawan Muhammad di 
Padangpanjang (2000) 
    
   Pertunjukan "Orang-Orang Kasar" karya Anton P.Chekov di Padang Panjang 
(1999) 
  Menjadi Aktor: 
    
   Pembaca Cerpen "Surat untuk Guru(ku)" di Univ Andalas Padang" (2006) 
    
   Pertunjukan "Pintu"karya/ Sutradara Yusril di Taman Budaya Padang (2002) 
    
   Pertunjukan "Menunggu" karya/Sutradara Yusril di TAMAN Budaya Padang, Event 
Pertemuan Sastrawan Nusantara Tiga Negara Tetangga di INS Kayu Tanam Sumatra 
Barat, Taman Budaya Jambi, Balai Dang Merdu Riau, Pertemuan Teater Indonesia di 
Taman Budaya Pekan Baru Riau, STSI Padangpanjang, Teater Utan Kayu Jakarta dan 
Teater Luwes IKJ Jakarta (1997-2000) 
    
   Pertunjukan "Menanti Kasih di Ujung Tanduk" karya/ Sutradara Yusril di Fak 
Sastra Univ.Andalas Padang, SMKI Padang, STSI Padangpanjang (199) 
    
   Dramatisasi "Sembilu Darah" karya/Sutradara Yusril di Fak Sastra Univ Bung 
Hatta Padang (1997) 
  Menjadi Penulis : 
    
   Naskah Perempuan di Ruang Kerja 
  "tak ada yang sempurna di dunia, hanya DIA yang memiliki kesempurnaan itu. 
Maka nikmati apa yang telah dianugrahkan, apapun……."(2005) 
    
   Naskah The Song Of The Death" 
  "aku hanya mampu melihat, mendengar, dan menyaksikan…..(2000) 
    
   Artikel "Jual Obat sebagai Teater alternativ" di Harian Mimbar Minang Padang 
(2000) 
    
   Artikel "Grotowsky dan Konsep Teater Melarat" di Booletin Teater Jur Teater 
STSI Padangpanjang (2000) 
    
   Puisi di Majalah Horison Jakarta (1996) 
  Non Teater: 
    
   Aktor Utama Film Indipendent "Sedikit Sekali Waktu Untuk Cinta" Sutradara 
Yusril Produksi Studio Hitam-Putih (2003) 
    
   Narator Film-film Dokumenter Produksi Studio Hitam Putih (2001- sekarang) 
    
   Pembaca Puisi, pada Event lokal dan nasional (1997- sekarang ) 
  Salam budaya,
 
Evi Widya Putri 
0812 8781161
 
Promotions and Media Relations
Komunitas Seni Hitam Putih
Sekretariat Jakarta
Jl. H. Samali no. 11 Pejaten Barat - Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12510


 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

Kirim email ke