Dibawah sekedar cerita.
Tetangga saya pada waktu kecil, adalah orang Tionghoa. Mereka mempunyai 4
anak. Pada waktu orang2 Tionghoa yang tidak mau wn Indonesia disuruh pulang,
maka 2 dari anak2 tetangga saya tsb. memilih pindah ke RCC.
Anak laki2 yang pertama, sudah duluan ke RRC, sebelum orang2 Tionghoa disuruh
pindah.
Pada waktu orang Tionghoa disuruh pindah ke RCC, maka adik wanitanya yang
tertua, memilih ke RCC karena keyakinan komunismenya. Tunangannya yang tidak
peduli politik, terpaksa ikut juga pindah.
Adik wanitanya yang bungsu, yang meskipun lebih tua dari saya, tetapi dekat
dengan saya (dan cantik pula), tidak peduli dengan komunisme, tetapi pindah
karena tunangannya lah yang benar2 menganut paham komunis.
Saya ingat waktu mereka pindahan itu. Saya masih di SD. Mereka mengisi
keranjang yang begitu tinggi dan besarnya, sehingga saya harus jinjit, jika
ingin meliha kedalam keranjang tsb. Isinya adalah buku2 tulis, dan kalau nggak
salah ingat, mentega kaleng palmboom juga, dan barang2 keperluan sehari2 yang
lain.
Bulan2 pertama mereka sampai di RCC, setiap mendapat surat dari mereka, tante
sebelah tsb. datang menangis ke ibu saya, sebab dia sedih sekali surat2 dari
anak2-nya tsb. penuh di coret dengan tinta cina yang hitam lebam tsb.
Tetapi lama kelamaan, mungkin anak2nya tsb. sudah tahu apa yang boleh ditulis
dan apa yang tidak boleh, makin berkuranglah tinta cina tsb.
Tahun 1982, saya berkesempatan ke RCC selama hampir 2 bulan. Pada waktu itu
masih sedikit sekali orang2 asing dari negara2 non komunis di RCC, sebab RCC
baru 'dibuka' untuk dunia luar. Di-mana2 ramai orang naik sepeda dan baik
wanita maupun laki2-nya berbaju biru2 gaya Mao.
Saya sempat berkunjung ke kenalan saya tsb. Ternyata anak laki2 yang paling
tua, sudah pindah ke Hong Kong. Begitupun wanita sulung, yang benar2 pro
komunis, diapun sudah pindah bersama suaminya ke Hong Kong.
Sedangkan adik wanita yang bungsu, yang tidak peduli dengan komunisme tetapi
ikut tunangannya ke RCC tsb. yang pro komunis, dia masih saja tinggal di
Beijing, karena mereka tidak bisa meninggalkan mertuanya yang sudah tua.
Kebetulan pada waktu itu, wanita yang sulung tsb. sedang berkunjung ke
Beijing, jadi saya sempat bertemu dengan ke dua kakak beradik tsb. Saya sempat
dibawa melihat Panda di kebun binatang Beijing.
Tentu saja kami berbicara mengenai masa lalu. Setiap kali adik yang bungsu
ingin menceriterakan mengenai jaman 'cultural revolution', dia di towel oleh
kakaknya, sehingga dia tidak jadi berceritera mengenai itu. (Yang bungsu itu
yang dekat dengan saya pada waktu kami masih ber tetangga, jadi dia kalau
menceriterakan sesuatu se apa adanya).
Penduduk RCC pada waktu itu, dilarang untuk masuk ke tempat2 yang menjual
perhiasan2/barang2 yang diuntukkan orang asing. Disitu ada department store,
kalau tidak salah ingat, namanya Friendship Store, dimana lantai2 bawah adalah
tempat perbelanjaan penduduk, tetapi lantai paling atas tidak boleh dimasuki
mereka, khusus untuk orang asing saja. Uang yang digunakkan disanapun adalah
dollar, bukan yuan.
Masuk ke hotel pun rupanya dilarang, sebab pada waktu kawan saya tsb.
mengunjungi saya di hotel, sekuriti di hotel menelpon kamar saya untuk
menanyakan apakah betul mereka diundang untuk datang ke hotel tsb.
Komunisme adalah ideologi dimana properti dan tempat2/alat2 untuk produksi
dimiliki bersama. Suatu konsep yang indah bunyinya. Tetapi rupanya konsep
tsb. telah terbukti tidak berhasil, seperti kita lihat dengan runtuhnya negara2
komunis, dan banyaknya penduduk yang melarikan diri.
Waktu saya melihat tetangga saya membawa segala macam keperluan se-hari2 ke
RCC, saya, meskipun masih kecil, ber-tanya2, apakah begitu buruknya keadaan di
RCC sehingga mereka harus membawa barang2 seperti penghapus, pinsil. dll?
Bagi saya pribadi, pindahnya tetangga saya ke Hong Kong adalah gambaran dari
kegagalan sistim komunis.
Oh, ya, saya membawa untuk oleh2, setelan blus tangan panjang berkrag dan
celana panjang dari korduroi berwarna coklat tua yang gelap untuk oleh2. Saya
sengaja memilih warna gelap karena perkiraan saya pada waktu itu adalah bahwa
teman, bekas tetangga tsb., tidak akan mau/bisa memakai pakaian yang tidak
bermodel ala Mao. Jadi saya memilih model yang biasa2 saja.
Pada waktu saya memberikannya kepada teman saya tsb., dia senang sekali,
kemudian dia meng-elus2 bahannya sambil mengatakan bahwa sayang sekali dia
tidak berani untuk memakainya, karena terlalu 'menyolok'.
Kawan saya tsb. bersama suami2-nya semuanya adalah tamatan universitas. Dia
diberikan apartemen di tingkat lima digedung yang tidak mempunyai lift.
Mencuci baju dilakukan di suatu gedung tersendiri, di dekat apartemen tsb.
Pada waktu itu dia mempunyai 2 anak, ke-dua2-nya masih setingkat sd. Apartemen
mereka hanyalah berbentuk satu kamar saja, yang lebarnya lebih lebar sedikit
dari panjangnya ranjang. Panjang apartemen tsb. saya tidak tahu berapa, tetapi
tidak terlalu panjang. Cukup untuk meletakkan satu tempat tidur, yang cukup
lebar, satu sekat, dan selebihnya cukup untuk suatu meja bundar yang kira2 utk
6 orang, yang bisa dilipat, sehingga pada malam harinya anak laki2-nya bisa
tidur disitu. Oh, ya, mereka mempunyai balkon kecil.
Tetangga saya merasa beruntung karena dia mempunyai dapur tersendiri, tidak
usah memasak di dapur bersama dibawah, tempat dia mencuci pakaian. Dia benar2
merasa bersyukur, meskipun dapur tsb. kecil sekali, dan dia harus
menggunakannya bersama dengan satu keluarga lain. Dapur tsb. tidak lebih besar
dari tempat menyimpan baju (closet) di master bedroomnya banyak rumah2 di Amrik.
Tetapi yang penting bukan dapur yang besar, maupun alat2 masak yang mahal.
Yang penting adalah kokinya. Saya diundang makan siang, dan suaminya yang
sangat pandai memasak, menyajikan makanan yang bukan main enaknya.!!!
andri noerwenda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yang diperkenalkan di Indonesia adalah Komunis ala
penguasa2 jaman dulu, pada kenyataannya rejim komunis
tidaklah seburuk itu.
Saya pernah tinggal di negara komunis dan saya
mengagumi apa yang dibawa komunisme ke suatu negara.
Ternyata rakyatnya hampir 96% sekolah gratis hingga
perguruan tinggi. Kesehatan juga hampir semua dibiayai
negara. Dan alangkah menyenangkannya mendengarkan
orang2 yang di negara lain dibilang proletaar tapi
mereka pandai dan menikmati sekali memperbincangkan
suatu ilmu "hidup".
Begitu negara2 komunis itu membuka diri, saya tidak
heran,ternyata etos kerja mereka lebih tinggi daripada
negara yang "anti" komunis di kontinen yang sama (saya
merujuk pada negara Asia).
Komunisme dan sosialisme tidak banyak berbeda. Dalam
kehidupan sekarang, banyak negara Eropa yang memakai
rejim sosialisme dan memang ternyata dengan rejim itu
equality lebih berhasil.
Saya rasa, apapun rejimnya, kalau pemerintahnya memang
benar2 untuk rakyat, dan memikirkan rakyat, bukan
untuk membodohi rakyat, akan baik.
Karena masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak
"melek" maka mudah dipengaruhi "rasionalitas"nya.
Jangan lupa pendidikan = mendidik rasio manusia dengan
demikian manusia melalui pendidikan tau mana yang baik
dan mana yang tidak benar. Tidak perlu diintimidasipun
akan tau. Itu kekurangan Indonesia,sistem pendidikan
yang tidak untuk rakyat.
Salam damai dari Kuala Lumpur,
Andri Noerwenda
--- ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Komunis punya reputasi buruk di Indonesia karena
> memang itu rencana yg ingin digambarkan oleh rezim
> Suharto dulu, penyiksaan yg biadab, atheisme, dan
> kekafiran partai adalah rekayasa yg ditanamkan
> dikepala rakyat cukup berhasil tumbuh subur, sialnya
> kebanyakan otak rakyat yg masih bodoh begitu mudah
> dicuci bersih dan ditanami oleh benih2 kebencian
> terhadap partai sosial ini.
> Bila kita mau mempelajari apa itu communism atau
> socialism, ini bukan sebuah gambaran yg mengerikan
> bila disertai dengan compromising marx theory, let
> me try to explain my opinion of what he means in his
> theory of inequality.
> Capitalism, dlm bhs sekarang sebagai ungkapan "
> the haves" dan " the have nots" Marx mencoba
> menjelaskan keuntungan atau the advantages of
> capitalism this way, but since he didnt have first
> hand experience as such a young theory, theory nya
> tidak bekerja dgn baik, objective evidence nya
> sangat terbatas,so I m thinking he was biased way
> before doing his analogies dan comparisons of
> communism next to capitalism, that is it, talking
> without using footnotes and resources, so I m sure I
> will be wrong in some areas..
>
> salam
> omie
>
>
>
>
> solichan arif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sepertinya masih banyak orang-orang yang mengidap
> komunistophobi deh........
>
> --- radenayu asli wrote:
>
> > Di AS komunis tidak dilarang. Partai Komunis tidak
> > juga
> > dilarang, sebab segala pelarangan dinilai
> > bertentangan dengan HAM. Walau begitu, komunis
> tidak
> > bisa berkembang karena negara
> > itu makmur, hampir tiada kemiskinan. Jadi putus
> > kata,
> > kalau mau lawan komunisme brantaslah kemiskinan,
> > tingkatkan kemakmuran rakyat.
> >
> > Mari kita semua bekerja
> > keras membangun negara kita demi kesejahteraan
> > rakyat.
> >
> > raden ayu asli
> >
> > MOD:
> >
> > Mbak Ayu, sama RA Kartini lebih cantikan mana?
> Atau
> > jangan-jangan seayu Nyonya Meneer?
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- loekyh wrote:
> >
> > > Eeit, saya juga berpendapat bahwa KAUM KOMUNIS
> > punya
> > > hak hidup di
> > > Indonesia walaupun saya sendiri merasa jauh dari
> > > paham komunis
> > > (apakah Marxism, atau Leninisme atau yang lain,
> > mana
> > > ada urus?).
> > > Jangan sok merasa lebih suci dan lebih baik dari
> > > orang2 yang anda
> > > cap 'komunis'.
> > >
> > > Komunis itu definisinya banyak lho dan
> tergantung
> > > konteks, apakah
> > > sebagai sistem negara, apakah sebagai ideologi,
> > dsb.
> > > Sama seperti
> > > pengatas-namaan agama, banyak orang
> > mengatas-namakan
> > > komunis untuk
> > > berbuat kriminal atau menjadi otoriter. Saya
> > > menganalogikan
> > > perbuatan FPI dan praktek pemerintah orba dengan
> > > perbuatan2 kriminal
> > > dan otoriter orang2 yang mengatas-namakan
> komunis
> > di
> > > Cina, Korut,
> > > Sovyet, dsb.
> > >
> > > Kalau anda menafsirkan komunis segolongan dengan
> > > orang2 yg nyanyi
> > > genjer2 sambil motong2 tubuh para jendral2
> > Indonesia
> > > (seandainya
> > > benar), lihatlah mereka ini sebagai individu2
> yang
> > > bertindak
> > > kriminal. Jika benar penafsiran anda ini, bisa
> > > diartikan pikiran
> > > anda masih bisa kena 'brainwashed' yang
> > > menggambarkan orang2 komunis
> > > lebih buruk daripada kucing atau anjing yang
> > kencing
> > > di tembok
> > > (seperti tulisan anda di bawah ini).
> > >
> > > Salam
> > >
> > > --- In [email protected], "goenardjoadi"
> > >
> > > wrote:
> > > >
> > > > Pak MOD
> > > >
> > > > [kok Pak MOD ya... seperti di kampung, Pak
> > MODIN,
> > > penghulu]
> >
>
>
>
>
>
>
__________________________________________________________
> Need Mail bonding?
> Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo!
> Answers users.
>
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091
>
>
> Web:
> http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
>
> Klik:
>
> http://mediacare.blogspot.com
>
> atau
>
> www.mediacare.biz
>
> ====================
> Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> TV dinner still cooling?
> Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
__________________________________________________________
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
http://games.yahoo.com/games/front