Mahasiswa Harus Hati-Hati Agar Tidak   Diperalat
4 April 2007 11:48:22
    Barat,   khususnya AS mempunyai kepentingan untuk bisa intervensi dalam 
urusan domestik   Indonesia. Untuk itu, mahasiswa harus berhati-hati dalam 
mengusung isu atau   gerakan bercorak Islam karena AS dapat memanfaatkan 
gerakan tersebut dengan   meradikalisasinya sebagai pintu AS masuk ke Indonesia.
    Demikian pendapat yang dikemukakan pengajar UIN Sunan Kalijaga   
Yogyakarta, Agus Maftuh pada kesempatan diskusi “Pemikiran Islam Gamal Al Banna 
  tentang Pluralisme, Jihad dan Negara Agama” di kampus Fakultas Ilmu 
Pengetahuan   Budaya UI Depok, 3 April 2007 dalam rangkaian Pekan Islam FIB UI, 
2-5 April   2007. 

Dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas MataAir dan   Pergerakan Mahasiswa 
Islam Indonesia (PMII) UI tersebut, Agus Maftuh juga   mengemukakan banyak 
masyarakat termasuk mahasiswa yang salah kaprah terhadap   definisi pluralisme. 
Masyarakat umum, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI)   menganggap bahwa 
pluralisme adalah paham yang menganggap semua agama sama.   Padahal menurut 
Agus Maftuh, pluralisme adalah kesediaan untuk hidup bersama dan   saling 
menghargai perbedaan sesama umat manusia. Mengutip Gamal Al Banna, Agus   
Maftuh mengatakan bahwa pluralisme merupakan suatu keniscayaan dan bahkan   
kehendak Allah swt. 

Di sisi lain, Agus Maftuh juga tidak setuju terhadap   berbagai macam label 
terhadap Islam seperti sunni-syiah, Islam liberal dan   sebagainya. Menurut 
Agus, Islam yang murni adalah yang “sebelum semuanya ada”.   

Pembicara lainnya, Dr. Muhammad Luthfi Zuhdi juga sepakat dengan Agus   Maftuh. 
Menurutnya sosok Gamal Al Banna adalah sosok pemikir murni yang non   politis. 
Hal tersebut agak sedikit berbeda dengan Hasan Al Banna, kakak kandung   Gamal 
yang cenderung menjadi aktivis dengan mendirikan Ikhwanul Muslimin,   
organisasi Islam radikal di Mesir yang menginspirasikan banyak organisasi Islam 
  di dunia, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Indonesia.   

Mengenai sosok Hasan Al Banna, kedua pembicara sepakat bahwa latar   belakang 
sufisme Hasan Al Banna telah menjadikan dirinya “bersih” dalam   berpolitik 
sehingga bisa diperalat oleh Barat untuk menghantam nasionalisme Arab   yang 
sedang bangkit di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser. 

  
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke