Kemiskinan Penyebab Radikalisme Agama?
14 Maret 2007 02:12:59
Oleh: Alfanny
Selama ini banyak kalangan berpendapat bahwa kemiskinan menjadi faktor
penyebab munculnya gejala radikalisme beragama yang pada situasi tertentu
mewujud dalam aksi-aksi terorisme.
Walaupun pendapat di atas sepintas relevan, namun bila kita mencermati
realita sebenarnya kita akan menjumpai fakta yang berbeda. Gembong Al-Qaeda,
Osama bin Laden jelas bukanlah berasal dari warga Arab kasta sudra. Ia
adalah pengusaha besar di Saudi yang di era perang Afganistan-Sovyet tahun
1980-an mensuplai dana bagi mujahidin Afghanistan.
Menurut Marc Sageman penulis buku Understanding Terror Networks yang
meneliti sampel 400 anggota Al-Qaeda, sebagian besar anggota Al-Qaeda berasal
dari Arab, komunitas imigran di Eropa dan warga Indonesia di Malaysia. Dalam
kaitannya dengan latar belakang sosial-ekonomi, tiga perempat berasal dari
keluarga kelas atas dan menengah. Sekitar 60 persen sampel yang diambil
pernah kuliah di perguruan tinggi. Realitas menarik lainnya adalah bahwa
hampir 70 persen di antara mereka bergabung dalam gerakan jihad ketika di
perantauan yang terasing dan terputus dari ikatan sosial budaya asli serta
jauh dari sanak keluarga.
Dari fakta di atas, maka sebagian besar aktivis Al-Qaeda bukanlah berasal
dari kaum miskin. Mereka sebagaimana Osama bin Laden adalah kelas menengah
yang kecewa terhadap kegagalan rezim sekuler di negaranya masing-masing yang
gagal mewujudkan kesejahteraan dan tunduk terhadap kehendak Barat. Sebagai
alternatif ideologi sekuler yang telah gagal, mereka mengajukan Islam sebagai
ideologi alternatif dengan model revivalisme (kembali kepada kejayaan (Islam)
di masa lampau). Yang terjadi kemudian adalah romantisasi, glorifikasi dan
juga mistifikasi sejarah (Islam) dimana kaum revivalis muslim
mempropagandakan bahwa sejarah Islam dengan sistem khilafahnya adalah sistem
terbaik yang mampu menandingi ideologi sekuler beserta turunannya seperti
demokrasi, kapitalisme, liberalisme dan sosialisme.
Salah satu kaum revivalis muslim tersebut adalah Hizbut Tahrir (HT) yang
menolak 100% sistem demokrasi dan mempropagandakan khilafah sebagai sistem
politik yang wajib ditegakkan umat Islam. Dalam situs resminya
(www.hizbut-tahrir.or.id), HT menguraikan tentang sistem khilafah sebagai
berikut:
Sistem Khilafah merupakan bentuk negara dalam Islam yang menerapkan hukum
syariah di bawah pimpinan seorang khalifah. Negara Khilafah merupakan
kekuatan politik praktis yang berfungsi untuk menerapkan hukum Islam serta
mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Khilafah adalah satu-satunya tharîqah (metode) bagi penerapan syariah Islam
secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Negara Khilafah ini berdiri
atas dasar ideologi Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai landasannya.
HT juga menguraikan tentang kekhalifahan terakhir, Utsmani Turki yang
dibubarkan oleh Mustafa Kemal tahun 1924 dan berganti menjadi Republik Turki
yang berlandaskan sekularisme.
Di Indonesia, Hizbut Tahrir (Indonesia) gencar melakukan demonstrasi dan
kampanye penegakan syariat Islam (formal) dengan memanfaatkan isu-isu aktual.
Basis pendukungnya sebagian besar terkonsentrasi di kampus Institut Pertanian
Bogor (IPB) dan kampus-kampus PTN di berbagai kota besar.
Kelompok muslim revivalis lainnya adalah Ikhwanul Muslimin (Ikhwan). Ikhwan
lahir tahun 1928 di Mesir dengan Hasan Al Banna sebagai pendiri dan perumus
ideologinya. Ideologi Ikhwan dirumuskan dengan slogan instant dan siap saji
yaitu:
Allah Ghayatuna, Rasulullah Qudwatuna, Quran Dusturuna, Jihad Sabiluna,
Syahid Asmaamanina (Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, Quran
konstitusi kami, Jihad jalan hidup kami, Mati Syahid cita-cita kami).
Persaingan Ikhwan dengan partai-partai sekuler dan komunis dalam
memperebutkan kekuasaan di Mesir telah menyebabkan Ikhwan terprovokasi untuk
melakukan tindakan kekerasan yang berpuncak pada gugurnya Hasan Al Banna.
Pada era rezim Gamal Abdul Nasser yang berhaluan kiri, Ikhwanul Muslimin
dibekukan dan sejumlah tokohnya seperti Sayyid Quthb dihukum gantung. Namun
hingga kini, Ikhwan tetap eksis di Mesir dan bahkan memberikan inspirasi bagi
gerakan Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah sebuah partai Islam yang sedikit
banyak mengimpor ideologi Ikhwan. Bermodal 1,8% suara pada Pemilu 1999, PKS
berhasil meraih 7% suara pada Pemilu 2004 mengalahkan seniornya seperti PAN
dan PBB. Di Jakarta, bahkan PKS menempati peringkat pertama perolehan suara.
Hal ini tidaklah mengherankan mengingat kader-kader muda PKS adalah para
mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia (UI) yang memang banyak
berdomisili di Jakarta. Kemenangan PKS di Jakarta tersebut menyebabkan PKS
cukup pede untuk single fighter dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang
akan digelar pertengahan tahun 2007 ini tanpa perlu dagang sapi berkoalisi
dengan partai lain.
Kelas Menengah Kota Cenderung Radikal?
Mencermati realitas sosial-ekonomi basis pendukung Hizbut Tahrir dan PKS di
Indonesia yang sebagian besar kelas menengah kota, maka secara sederhana
dapat disimpulkan bahwa kaum kelas menengah kota cenderung menyetujui paham
revivalisme (dan juga radikalisme) agama (Islam).
Lalu, bagaimanakah anatomi kaum kelas menengah kota yang cenderung taklid
pada paham revivalisme tersebut?
Pertama, sebagian besar di antara mereka kuliah di perguruan tinggi negeri
favorit seperti UI, IPB, ITB, UGM dan lain-lain yang notabene berasal dari
lulusan SMA-SMA negeri unggulan di kotanya masing-masing. Ingat, mereka
berasal dari SMA negeri bukan lulusan Madrasah Aliyah atau pesantren
tradisional yang umumnya berkultur tradisional (Baca: NU). Pada umumnya, di
tingkat SMA inilah, mereka bergabung dengan jamaah HT dan PKS (Sebelum
reformasi, jamaah HT dan PKS menamakan dirinya gerakan tarbiyah). Di SMA-SMA
negeri, para siswa muslim direkrut menjadi jamaah tarbiyah/ HT/ PKS melalui
Rohanis Islam (Rohis) sebagai satu-satunya organisasi pelajar muslim yang
boleh beraktivitas di sekolah negeri.
Kedua, sudah jelas bahwa para siswa SMA negeri pada umumnya kurang memiliki
pemahaman agama yang mendalam seperti rekan-rekannya di Pesantren (yang
belajar fiqh, bahasa Arab, nahwu sharaf dan bahkan kitab kuning) sehingga
mereka mudah tertarik dengan idelogi revivalisme Islam yang instant dan siap
saji.
Ketiga, juga sangat jelas bahwa para pelajar yang bersekolah di SMA negeri
unggulan pada umumnya berlatar belakang sosial ekonomi menengah mengingat SMA
negeri unggulan memasang bandrol yang cukup mahal untuk SPP-nya. Di
Jakarta, untuk masuk SMA unggulan seperti SMA 8, 70, 28, 78 dan lain-lain
selain nilai UN SMP yang tinggi- juga dibutuhkan kesediaan orang tua untuk
merogoh kocek lebih dalam hingga di atas 2 juta rupiah sebagai uang pangkal.
Itulah anatomi kaum kelas menengah kota yang cenderung tertarik pada ideologi
revivalisme- radikalisme Islam. Anatomi tersebut kompatibel dengan teori
Marxis bahwa radikalisme selalu dimotori oleh kelompok yang kondisi
ekonominya relatif lebih baik.
Jadi, salah satu dan mungkin satu-satunya- cara untuk mengembalikan gerakan
Islam on the right track bukan dengan memberantas kemiskinan, tapi dengan
dakwah. Sudah saatnya para kyai, ulama dan cendekiawan muslim berdakwah
kepada generasi muda kelas menengah kota untuk mendalami ajaran Islam secara
komprehensif (kaffah) bukan ideologi revivalisme-radikalisme Islam yang
instant dan siap saji.
Di sisi lain, -mungkin ini agak mustahil- kita berharap pada Barat (AS,
Israel dan Eropa) untuk tidak memprovokasi umat Islam dengan perang melawan
teroris-nya. Akan lebih menguntungkan bagi Barat, bila mereka mulai menjalin
dialog yang konstruktif dengan Dunia Islam. Pada titik ini, peranan Indonesia
sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia memegang peranan
yang signifikan. Sudah saatnya Indonesia mulai memainkan kartu diplomasi
Islam di kancah internasional. Keberadaan dua organisasi Islam terbesar yang
asli Indonesia- yaitu NU dan Muhammadiyah hendaknya juga bersinergi dengan
Departemen Luar Negeri untuk mulai mengusung diplomasi Islam ala Indonesia.
Wallahu Alam.
Penulis adalah alumni Ilmu Sejarah UI dan redaksi www.gusmus.net
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com