Ini tanggapan dari PH yang membuat 7Hari Menuju Taubat.



stevy widia
suara pembaruan


----- Original Message ----- 
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Stevy Widia" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 05, 2007 1:32 PM
Subject: Re: Fw: [mediacare] Muak sama Lativi - Re: Identitas seksualku:
Lesbian...

Why not?? Itu baru di dunia, Tuhan akan lebih marah jika ada makhluknya yang 
menyalahi takdir. Kerangkeng dan keranda baru intro..................

Justru kita yang muak melihat kaum mereka bebas menunjukkan identitasnya secara 
berlebihan, mempertontonkan ketidakberesan mental di depan kaum penerus bangsa. 
Mau jadi apa?? Biar mereka setidaknya berfikir, berteriak minta tolong di 
dunia............. tidak akan bisa dilakukan pada Tuhan, kecuali mereka mau 
berubah. Menjadi Wanita lagi, atau Pria kembali, seperti saat mereka lahir.
Kecuali kaum mereka, mau menyembunyikannya buat mereka sendiri..............

Iya kan???

thx ya



> > ----- Original Message -----
> > From: Agustinus Kutel
> > To: [email protected]
> > Sent: Wednesday, April 04, 2007 5:13 PM
> > Subject: [mediacare] Muak sama Lativi - Re: Identitas seksualku:
> > Lesbian...
> >
> >
> > Saya sangat keberatan, terganggu, tersiksa, dan
> > menjelang muak dengan acara 'Tujuh Hari Menuju Taubat
> > (THMT)' yang ditayangkan di Lativi.
> >
> > Saya tak ingat harinya, tapi sekitar minggu lalu.
> > Salah satu episode acara itu menayangkan tentang tim
> > THMT yang mencoba mempertobatkan seorang perempuan
> > yang disebut mereka, lesbian.
> >
> > Cheche Kirani mendatangi rumah perempuan itu. Membujuk
> > supaya dibawa ke suatu tempat.
> >
> > Di sebuah ladang yang gelap, perempuan itu dimasukkan
> > ke dalam kerangkeng yang digantungkan di pohon. Di
> > bawah kerangkeng terdapat kobaran api. Tiga orang
> > berkedok membawa obor. berkata-kata, "Apakah anda mau
> > bertobat karena telah menyalahi kodrat??"
> >
> > Perempuan itu menangis. berteriak-teriak. Memanggil
> > nama ibu (bukan Allah). Dan kerangkeng itu
> > dinaikturunkan talinya. Saya menangis melihat adegan
> > itu.
> >
> > Tak cukup sampai di situ. Perempuan itu pun dimasukkan
> > ke dalam kurung batang (keranda). Didandani seperti
> > mayat dan dibalut kain kafan. Di sekeliling keranda
> > ada kobaran api. Perempuan itu menangis menyebut nama
> > ibu.
> >
> > Saya tak kuat melihat adegan 'pertobatan' itu.
> > Alangkah sedihnya saya melihat ada manusia
> > diperlakukan seperti itu, siapapun dia, lesbi atau
> > bukan. Lelaki atau perempuan.
> >
> > Agustinus

Kirim email ke