http://www.sinarharapan.co.id/berita/0704/07/sh02.html

 Gustav Papanek: 
Kemiskinan di Indonesia Mencemaskan   



Jakarta-Pakar ekonomi kemiskinan dari Boston Institute for Developing 
Economies, Gustav F Papanek, menyarankan kepada Pemerintah RI agar serius 
memprioritaskan strategi untuk pengurangan kemiskinan karena situasi kemiskinan 
di Indonesia sudah mencemaskan. 


Dia menyarankan tiga hal untuk segera dilakukan, yakni penciptaan lapangan 
kerja bagi jutaan orang miskin, membuka akses seluas-luasnya terhadap 
pendidikan, dan tidak perlu terus memperkuat nilai tukar rupiah. "Ketiga hal 
ini yang paling realistis dikerjakan dalam waktu dekat," kata Gustav, yang 
sudah aktif terlibat di Indonesia sejak 1962, dalam percakapan bersama wartawan 
pekan lalu. Salah satu program yang menurut Gustav harus terwujud adalah 
penciptaan pekerjaan untuk jutaan orang, kebanyakan di sektor pertanian.


"Para petani umumnya menganggur selama empat bulan. Mereka itu setengah 
menganggur, yang menjadi miskin sekali ketika tidak bekerja apa pun. Jadi 
dibutuhkan 30 juta lapangan pekerjaan untuk mereka yang underemployed ini," 
kata Gustav.


Dia sangat mendorong agar Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) 
terwujud karena hanya dalam tempo satu atau dua tahun akan memberikan pekerjaan 
langsung kepada 20-30 juta penduduk dengan penghasilan rata-rata Rp 
40.000/hari. Dan hal ini akan tercapai pada 2009, ketika seluruh 5.400 
kecamatan yang ada telah menerima dana. Pemerintah telah mencanangkan PNPM akan 
dilaksanakan pada Agustus ini dengan tahap awal menyalurkan dana ke 2.057 
kecamatan.


Untuk tahun anggaran 2007 ini, dana Rp 4,43 triliun disiapkan guna mencapai 
31,92 juta penduduk, atau 7,96 juta keluarga miskin. Terdapat 834 kecamatan di 
perkotaan yang akan menjadi sasaran, sedangkan kecamatan di wilayah pedesaan 
sebanyak 1.223. Setiap kecamatan akan menerima Rp 500 juta-Rp 1,5 miliar per 
tahun. "Jangan sampai proyek ini terhambat, karena bila tidak, akan ada 10-16 
juta orang penganggur baru. Jadi ini bukan magic," jelasnya. 

Dia menjamin korupsi bisa diminimalkan karena mekanisme PNPM sangat 
terdesentralisasi, karena ada komando terpisah, yakni laporan pelaksanaan 
langsung ke Departemen Dalam Negeri dan Bank Dunia, terutama bila ada 
penyimpangan. Pelaksanaan proyek dilakukan secara transparan, media (lokal) 
akan disponsori untuk meliput pelaksanaan program, dan ada audit independen. 
"Jadi, kalau ada yang korupsi atau menyeleweng, itu makanan empuk bagi pers 
lokal," jelas Gustav.

Dalam pelaksanaannya, dana akan langsung masuk ke rekening masyarakat di BRI. 
Mereka akan membentuk dewan desa yang akan mengawasi mulai dari perencanaan 
sampai pelaksanaan.
Gustav memperkirakan jutaan pekerjaan baru akan tercipta setengah berasal 
langsung dari program, dan setengahnya lagi dari peningkatan kegiatan ekonomi 
sebagai hasil dari program. 


Pada kesempatan itu, Scott Guggenheim, Principal Social Scientist dari Bank 
Dunia, yang ikut hadir dalam perbincangan, menjelaskan bahwa dalam proyek PNPM 
ini yang diutamakan adalah pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan desa, 
sarana air bersih, irigasi. "Pada umumnya proyek-proyek itu merupakan 
rekomendasi dari hasil studi Bank Dunia. Dan ada negative list, yakni tidak 
boleh membangun kantor atau rumah. Ini program membangun infrastruktur dasar," 
kata Scott.

Biarkan Lebih Lemah
Pada kesempatan itu, Gustav juga menganjurkan kepada pemerintah agar tidak 
berusaha terus memperkuat nilai tukar rupiah, karena hal itu sama saja dengan 
memperlemah ekspor Indonesia. "Ekspor Indonesia sebenarnya tidak bertumbuh, dan 
sama sekali tidak menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini berbahaya karena 
juga terjadi peningkatan impor, khususnya produk manufaktur hingga 4 persen," 
katanya. 


Dia menganalisis peningkatan nilai ekspor Indonesia bukanlah karena ada 
penambahan kapasitas atau volume melainkan peningkatan harga komiditas ekspor 
akibat permintaan yang demikian besar di China. "China, India, atau 
negara-negara berkembang lainnya berusaha agar nilai tukar mereka tidak menguat 
terhadap dolar AS ini demi meningkatkan daya saing ekspor mereka," katanya. 
"Saya heran, di Indonesia kok rupiah malah diusahakan agar terus menguat 
terhadap dolar AS," katanya.


Dia juga menganjurkan kepada pemerintah agar memberikan akses yang lebih besar 
kepada pendidikan. "Ini penting agar para pekerja kita lebih terpelajar, 
sehingga tidak mudah ditipu, dan dapat mengakses informasi secara lebih baik," 
katanya. (kristanto hartad

Kirim email ke