Hasrat-hasrat yang Tergeledah
Oleh SAFRINA NOORMAN
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/18/khazanah/lain02.htm
Judul: Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif
Editor:
Alfathri Adlin
Penerbit: Jalasutra, 2006, xix+468 hlm.
EVERY text is a unique creation of a unique author. Demikian bunyi
salah satu ayat dalam gerakan literasi kritis yang menggarisbawahi keunikan
teks sebagai salah satu bukti akumulasi beragam pengalaman seorang penulis
(atau produser aneka teks lain). Ayat tadi mengejewantah dalam setiap tulisan
dalam buku "Menggeledah Hasrat" (MH) yang disunting oleh Alfathri Adlin. MH
memuat 17 tulisan seputar hasrat yang jika dipilah mungkin terbagi dalam dua
bagian besar yaitu teori dan praktik. Bab satu hingga delapan, walaupun tak
dinyatakan secara eksplisit, merupakan upaya delapan penulis berteori tentang
hasrat, sedangkan sembilan hingga tujuh belas merupakan pemanfaatan aneka
teori tentang hasrat untuk memaknai teks-teks yang berupa film, novel, dan
karya seni lainnya. Keragaman dan keunikan setiap teks menjadikan MH bacaan
yang sarat informasi dan proposisi yang menyisakan hasrat untuk lebih jauh
menggeledah hasrat.
Seperti diulas oleh editor, telaah atas hasrat belum terangkat secara
optimal sebagai salah satu wacana ilmiah di Indonesia. Ini terutama, menurut
Adlin (xvii), wacana ilmiah kita masih didominasi oleh wacana keterbatasan
nalar manusia (yang, sayangnya, tidak dijelaskan) dan, oleh karena itu,
semangat menulis dan menerbitkan tulisan-tulisan perihal hasrat ini lahir dari
semangat untuk mengisi kekosongan atau mendobrak dominasi wacana ilmiah yang
ada. Tulisan dalam buku ini berhasil mengangkat sejumlah masalah budaya
melalui telaah atas hasrat yang sebagian besar dibedah dengan pisau
psikoanalisis. Sejumlah nama pemegang grand theories dalam psikoanalisis
muncul sebagai bagian yang tak terlepaskan dari wacana tentang hasrat ini.
Buku ini juga menyajikan berbagai teks sebagai lahan pemaknaan hasrat mulai
dari film, game, novel, hijab, sains, sampai selera. Walaupun editor
memutuskan untuk tidak memberikan ringkasan inti tentang setiap tulisan pada
bagian
awal, ringkasan dan pemilahan jenis tulisan yang berteori dari yang
berpraktik akan meningkatkan keramahbacaan buku tebal ini.
BERTEORI TENTANG HASRAT
Upaya Yasraf A. Piliang untuk mendudukkan subjektivitas manusia
Indonesia sebagai subjek posmodern merupakan bab pembuka buku ini (hlm. 1-24).
Membingkai tulisannya dengan beragam teori tentang pembentukan identitas dan
subjek, Yasraf tidak secara eksplisit mengupas peran hasrat dalam proses
keterjadian subjek posmodernis yang cair dan harus berposisi dalam dinamika
globalisasi. Yasraf mengajukan pentingnya kesadaran akan pilihan untuk menjadi
subjek posmodern yang pluralis atau minimalis sehingga kita selayaknya
memerhatikan dan mempertimbangkan kepluralan dan keminimalan. Dalam bab-bab
berikutnya, ada Donny Gahral Adian (hlm. 24-44) yang dengan perspektif
filsafat memotret kesejarahan pemikiran tentang hasrat dalam filsafat Barat
yang dipertentangkan dengan pemikiran tentang akal budi. Hasrat terhadap
ketetapan atau permanence, dalam tulisan Donny, merupakan pendorong
keterjadian peristiwa. Ada juga Alfathri Adlin (hlm. 59-114) yang menyelusuri
konsep
manusia sebagai subjek berhasrat melalui pengutipan tulisan Socrates dan
Plato secara ekstensif.
Tulisan Deden Himawan (hlm. 45-113) mencuat karena menelisik hasrat
lewat filsafat timur --Vedanta-- tentang shakti sebagai energi kreatif
penciptaan dan, menariknya, merupakan aspek feminin dari Brahman. Shakti
merupakan energi penyeimbang diri dalam ruang antara semesta (maya) dan Dia.
Perspektif lain juga hadir dalan tulisan Lucky Ginanjar Adhipurna (hlm.
115-128) yang memanfaatkan pendekatan psikoanalisis Lacanian untuk berteori
tentang operasi hasrat yang menyemangati pengejewantahan muatan saintifik
dalam bahasa. Sementara itu, dengan berteori dengan Deleuze dan Guattari,
Kunto Adhi Wibowo (129-140) mengemukakan ihwal skizoanalisis sebagai otokritik
atas psikoanalisis juga sebagai alternatif untuk menggeledah hasrat subjek
kapitalis yang asketis. Bagian yang berteori ini ditutup oleh tulisan Iwan
Suryolaksono (141-190) yang berupaya menyelusuri kehadiran hasrat dalam
berbagai peristiwa yang menonggaki apa yang ia sebut sebagai momen-momen
rekoleksi
bersejarah dalam kehidupan manusia yaitu momen yang terkait dengan
perkembangan sains dan teknologi.
Ragam perspektif yang dihadirkan dalam berteori tentang hasrat ini
menunjukkan kekayaaan potensi penggeledahan hasrat yang mengada dalam berbagai
peristiwa kontemporer. Sebagai hasil dari niatan untuk menumbuhkan keunikan
pandangan dan paradigma dalam melihat sebuah fenomena (hlm. xix), bagian ini
memberikan gambaran akan luasnya fenomena hasrat dan berbagai pisau teoretis
yang dapat dipakai untuk menggeledahnya walaupun ada kecenderungan pada teori
berperspektif psikoanalisis, karena mungkin kehadiran hasrat bertemali dengan
isu pembentukan subjek.
MEMPERETELI HASRAT
Bab 8-17 merupakan kumpulan upaya penggeledahan hasrat yang mengada
dalam berbagai teks. Teks pertama adalah foto-foto Luna Maya yang menimbulkan
kontroversi perihal pornografi. Audifax (hlm. 191-214) menelaah potensi hasrat
yang muncul dari relasi pandangan atas imaji yang dihadirkan melalui Luna
Maya. Ulasan kerumitan relasi antara yang dipandang dan yang memandang ini
dibingkai dengan teori psikoanalisis Freudian dan Lacanian yang mendudukkan
peristiwa dipandang-memandang ini dalam budaya patriarkis yang
berkecenderungan menekan hasrat. Sebagai telaah teks, tulisan ini
menggambarkan potensi relasi foto sebagai teks dan hasrat yang berkemungkinan
dan mewujud dari relasi tersebut. Akan tetapi kerumitan dan keberlapisan
hasrat yang muncul dari pembaca teks (audience) merupakan lahan lain yang
menjanjikan untuk kajian beorientasi pembaca. Respons pembaca merupakan lahan
penelitian lain yang layak dijalani dan tidak bisa taken-for-granted seperti
tampak
dari kompleksitas pembangunan makna dalam kutipan respons pembaca (berbahasa
Inggris) dalam telaah Audifax yang lain --terhadap Lara Croft (hlm. 281-314).
Teks lain yang menjadi arena penggeladahan hasrat adalah film dan iklan
yang ditelaah Aquarini Priyatna Prabasmoro (hlm. 215-280). Aquarini, yang
memosisikan dirinya sebagai subjek pembaca, menyelisik dan mengidentifikasi
proses abjeksi terhadap femininitas dalam film "Aliens", "Aliens
Resurrection", dan iklan pembalut. Melalui telaah tekstual yang cermat
terhadap ketiga teks tadi, Aquarini --dengan merujuk pada konsep abjek dari
Julia Kristeva-- menunjukkan bagaimana subjektivitas perempuan dihadirkan
sebagai abjek dan sebagai monstrous feminine. Di bab lain, ada telaah atas
pemanfaatan konsep tahapan Cermin dalam psikoanalisis Lacanian. Telaah yang
dilakukan Kurniasih (hlm. 315-328) atas novel Cala Ibi karya Nukila Amal
merupakan contoh bagaimana seorang penulis (Nukila Amal) mengangkat suatu
proposisi teoretis ke dalam tulisan fiksinya melalui tokoh Maya sebagai a
gendered subject. Walaupun terasa belum tuntas, telaah Kurniasih membuka jalan
untuk
telaah selanjutnya tentang proses pembangunan subjek dalam teks.
Ada tiga bab lain yang mengangkat isu perempuan sebagai a gendered
subject dalam kaitannya dengan hasrat. Alfathri Adlin dan Kurniasih (hlm.
215-242) mengangkat problematika konsep kecantikan yang membuat kosmetik jadi
alat untuk mengonstruksi tubuh perempuan seperti diidealkan atau idealized
yang berkemungkinan membawa kepentingan tersembunyi, antara lain, dari
industri kecantikan sehingga konsep kecantikan yang sebenarnya heterogen
menjadi samar. Berkaitan dengan idealisasi ini, Idy Subandi Ibrahim (hlm.
265-280) mengangkat problematika konsep kecantikan yang dieksploitasi oleh
media massa dan kecenderungannya untuk menjadi seksploitasi.
Kecenderungan-kecenderungan seperti ini, melalui budaya populer, meleburkan
dua dunia yang bertentangan misalnya yang sakral dan profan sehingga sebagai
gendered subjects perempuan hadir sebagai subjek kapitalis yang harus dapat
tampil sensual (atau seksual) dan, pada saat yang bersamaan, tampil saleh
atau, secara
relatif, tidak sensual untuk memenuhi atau mengikuti hasrat pasar. Bab lain
mengenai perempuan membahas permasalahan hasrat dan hijab (hlm. 341-388).
Alfathri Adlin mengupas kesejarahan hijab sampai dengan kompleksitas pemaknaan
pemakaian jilbab oleh generasi gaul di Indonesia. Telaah atas pemakaian
jilbab ini lebih bersifat teoretis dan akan sangat menarik jika menyertakan
telaah atas para pemakai jilbab sebagai teks.
Teks lain yang digunakan untuk menggeledah hasrat adalah lukisan,
makanan, dan desain. Irma Damajanti (hlm. 329-340), dengan menerapkan
pendekatan psikoanalisis Freudian, membaca lukisan melalui mekanisme pembentuk
mimpi yang ditawarkan Freud yaitu representability, displacement,
condensation, dan symbolization yang menjadi selubung hasrat ketika
berekspresi. Sementara dalam bab lain, Yasraf A. Piliang (hlm. 389-406)
membahas transformasi makanan dan kegiatan mengonsumsi makanan dalam dunia
yang mengglobal. Mengacu pada proposisi Bordieu tentang selera (taste) sebagai
penanda kelas (class markers), Yasraf mengemukakan bahwa hasrat terhadap
makanan telah mengubah kegiatan makan dari kebutuhan menjadi gaya hidup.
Hasrat yang menjadi semangat penentu gaya hidup ini pula yang digarisbawahi
Rudy Gunawan dan Alfathri Adlin (hlm. 407-423) sebagai potensi hasrat untuk
dipahami sebagai worldview. Dengan mengangkat gagasan desain sebagai salah
satu mata rantai
proses pembentukan dan pengembangan peradaban manusia, Rudy dan Alfathri
menutup buku ini dengan tawaran agar desainer (dan untuk ini, saya
menganggapnya desainer dari beragam teks budaya) menyertakan pemikiran tentang
hasrat dalam setiap teks yang dirancangnya agar terbedakan antara hasrat dan
kebutuhan teks yang dihasilkan dapat memberi manfaat sebagai pengupas buah dan
bukannya penusuk sesama manusia.
CATATAN AKHIR
Seperti ditawarkan dalam judul buku, tulisan dalam buku ini
menggambarkan keragaman perspektif telaah atas hasrat serta menegaskan kembali
kutipan dari gerakan literasi kritis di awal tulisan ini. Buku ini akan
bermanfaat bagi mereka yang berminat pada psikoanalisis sebagai pembuka jalan
dan juga sebagai lahan untuk mencari potensi penelaahan, walaupun pemahaman
dasar tentang sejumlah teori besar yang kerap disebut dalam buku ini akan
membantu kemudahan pembaca umtuk turut serta dalam aneka upaya menggeledah
hasrat ini. Dari sejumlah teks yang ditelaah dalam buku ini, kita dapat
melihat langkanya teks Indonesia yang dijadikan lahan penggeledahan hasrat
mungkin karena teks asing (berbahasa non-Indonesia) merupakan salah satu
master signifiers bagi hasrat yang memotori kita sebagai subjek yang
berkekurangan atau a lacking subject? Entahlah. Kita perlu menggeledah hasrat
kita sendiri.***
Penulis, Dosen UPI, Bandung.
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.