Terimakasih deh atas jawabannya. Penjelasan anda memang terkesan 
menunjukkan adanya kemajuan dari koran Republika. Cuma saya memang 
tak tahu apa2 dan saya tak ingin terlalu dalam untuk mengetahuinya, 
apalagi mengejar dan mengecek data-data tersebut (mis. penjelasan 
makna 'kerja sama' dengan NYT, dsb).

Anyway, terimakasih banyak atas info2-nya, termasuk info bahwa Media 
Indonesia dipenuhi oleh iklan2 proyek pemerintah. Second opinion?

Salam

--- In [email protected], "rahmad budi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yang dinilai cakram :
> Kreativitas adalah dalam hal mengolah isi
> - pertama kerja sama dengan NYT dalam rubrik Jack Welch
> - kedua kerja sama rubrik dengan Berita Harian dari Malaysia
> - mungkin juga perubahan format hari Sabtu dan Ahad
> 
> Cakram juga melihat trend bisnisnya
> Maklum bertahun-tahun Republika kan rugi terus dan 2006 lalu 
akhirnya untung
> Iklannya tak hanya terbatas travel haji dan umrah, atau yang 
melulu Islami
> Tapi juga produk2 yang umum.
> Banyak orang bilang koran Islam (mungkin kalian lebih nyaman bilang
> Sektarian) gak akan laku.
> Ya jelas gak laku kalo ngurusnya bukan sebagai business as usual
> Yang jelas, sektarian itu ada pasarnya lho ...
> 
> Dan dengan bosan saya menunggu, kapan gaji saya naik ya? he he he
> 
> Ingat Kompas dan Jawa Pos pun pernah mendapat penghargaan Cakram 
sebagai
> koran terbaik
> Ketika Kompas beralih format (menghemat) ke delapan kolom dari 
semual
> sembilan kolom
> Saya tak tahu atas kriteria apa Jawa Pos menjadi yang terbaik, 
mungkin
> keluasan jaringannya.
> 
> Jadi, jangan terlalu curiga Pak Leokyh.
> 
> Tauun depan saya yakin bisa saja Sindo yang menggelar koran sore 
atau Kontan
> yang memakai
> gaya bahasa funky tiba-tiba menjadi koran terbaik. Asal bisnisnya 
jelas.
> Kalau Media Indonesia? Yah, asal tidak terus menerus halamannya 
dipenuhi
> iklan proyek pemerintah

Kirim email ke