Membandingkan popularitas Tukul dan SBY-Jk cukup menarik. Tapi perlu dicermati. 
Wilayah Tukul dan SBY-Jk sangat berbeda. 

SBY-JK adalah politisi dan diukur dari kinerja yang dirasakan publik.  Sedang 
Tukul adalah pelawak dan popularitasnya diukur dari kekocakannya di layar kaca. 
 Dia tidak bekerja untuk rakyat banyak, tugasnya hanya menghibur penonton. Bisa 
jadi, Tukul begitu populer karena acaranya memang unik. Atau lebih 
psikologisnya, rakyat sudah lama menderita, beban hidup makin berat,  dan 
stress, hingga lawakan ala Tukul adalah katup pelepas tekanan sosial.  Tapi, 
hanya sesaat.


Soal, gaji Tukul yang benar adalah kisaran Rp10 juta--Rp15 juta. Ini menurut 
sumber yang bisa dipercaya, saat saya mewawancarainya beberapa pekan lalu.
Anda bisa menghitung sendiri besarannya. Tapi, bagi saya Tukul sampai tahap itu 
dengan jalan berdarah-darah. Dia begitu gigih dan pantang menyerah. Yang jelas 
dia mencari duit bukan karena tampangnya, tapi karena profesi komediannya.



Saya tunggu analisisnya yang sering saya baca. Thank.

Salam

Hasim








Christovita Wiloto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                   
  
Lebih jelas kunjungi http://christovita-wiloto.blogspot.com/
 Bisnis Indonesia Minggu, 08-APR-2007  
 Tukul VS  SBY-JK
   Oleh:
 Christovita Wiloto 
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific 
www.wiloto.com, 
email: [EMAIL PROTECTED] 
 
"Tak  sobek-sobek mulutmu" teriak Tukul Arwana ke Christine Hakim, disusul 
kalimat  yang jadi trade mark Tukul "puas... puas... puas...?!"  Christine-pun  
terpingkal-pingkal hingga terjongkok-jongkok dan (maaf) ngompol di celana.  
Kejadian itu nampaknya hanya bisa terjadi di acaranya Tukul Arwana, Empat  Mata.
 
Nama Tukul terus meroket semenjak menjadi host program Comedy  Talk Show “Empat 
Mata”. Memang talk show yang dibawakan Tukul ini sangat unik  dan berbeda 
dengan talk show lainnya. Perancang acara ini membuat Empat Mata  sebagai 
sebuah talk show yang menggunakan perspektif komedi dan selalu saja  
menghadirkan Selebriti di setiap episodenya. 
 
Tukul selalu membahas  topik / kasus yang sedang hot di masyarakat dan 
topik-topik yang unik, menarik  dan timeless. Selain terdiri dari unsur talk 
show dan komedi, Empat Mata juga  dibumbui oleh unsur entertainment lain, 
seperti musik dan tak lupa berbagai  kejutan-kejutan tidak hanya untuk penonton 
saja, namun juga untuk bintang tamu  ataupun host. 
 
Selain menawarkan informasi, Tukul juga menyajikan  komedi yang segar. Dia 
memang  seorang Commedian yang multitalent, dapat  menghibur kita sampai 
terpingkal-pingkal dengan celotehan spontan yang  segar.
 
Tukul Arwana, yang mengaku "wong ndeso" alias orang desa ini  selalu memposisi 
kan dirinya sebagai orang yang jelek, bodoh dan kampungan.  "Face country money 
city" begitu katanya berseloroh, yang kira-kira berarti  wajah kampung rejeki 
kota.
 
Acara Tukul ini mulai ditayangkan Mei  2006 di TV7, sebelum berubah menjadi 
Trans 7. Saat itu TV7 melihat potensi Empat  Mata semakin digemari pemirsa. 
Acara yang semula hanya sekali dalam  seminggu ini, kemudian ditingkatkan 
menjadi seminggu 2 kali, naik lagi menjadi 4  kali, dan kini menjadi 5 kali 
seminggu, Senin sampai  Jumat.
 
Fenomena Tukul ini agak-agak mirip dengan Inul, orang desa  yang meroket dengan 
cepat. Semoga selanjutnya Tukul tidak bernasib sama seperti  Inul, yang kini 
makin merosot populeritasnya. 

  
 Pada awalnya Tukul hanya dibayar Rp 3.5 juta per  episode, kemudian seiring 
dengan ratingnya yang terus meroket, fee Tukul pun  meningkat menjadi Rp 7 juta 
per episode. Tapi kini dengar-dengar Tukul menerima  honor Rp 20 juta setiap 
kali muncul di Empat Mata, sedangkan jika kita ingin  menanggap Tukul, kita 
harus rela mengeluarkan dana sekitar Rp 40 juta untuk 2  jam pertunjukkannya. 
 
Bukan hanya itu saja, Tukul-pun dikontrak  sebanyak 260 episode oleh Trans 7. 
Bisa dibayangkan pendapatan Tukul dari Empat  Mata  pun meroket menjadi Rp. 
5.200.000.000,- belum termasuk acara-acara di  luar itu, plus honor dari 
iklan-iklan yang makin banyak  dibintanginya.
 
Tukul, yang  lahir pada 16 Oktober 1963  tersebut bernama asli Riyanto. Berasal 
dari Semarang. Ketika tim TV 7  menghubunginya pertama kali, Tukul sempat kaget 
saat diminta sebagai pembawa  acara talkshow, "Biasanya pembawa acara talkshow 
itu S3 atau S2, minimal S1, lha  wong saya ini hanya SMA kok membawakan 
talkshow?" begitu kenangnya.  
  
 Namun tim TV7 yang saat itu dikomandani Apollo  menyakinkan Tukul, bahwa 
justru begitulah "ramuan khusus" dari acara Empat Mata,  yaitu tampil unik beda 
dari yang lain.

 Ramuan khusus ini mengingatkan kita pada  buku-buku seri "for dummies", 
seperti Finance for Dummies, Sex for Dummies dan  lain sebagainya yang meledak 
penjualannya di seluruh  dunia.  
 
Populeritas SBY-JK
  
 Lain Tukul lain juga SBY-JK. Kalau Tukul  populeritasnya terus meroket, 
sebaliknya SBY-JK  populeritasnya terus  merosot. 
  
 Tiga tahun lalu saat dilantik sebagai Presiden  dan Wakil Presiden, 
popularitas SBY mencapai 80% dan Kalla 77%, namun sekarang  makin merosot ke 
posisi 49,7%, sedangkan Jusuf Kalla tinggal 46,9%.  
 
Ini menurut  Lembaga Survei Indonesia, yang melakukan survei pada  17-24 Maret 
2007 di 33 provinsi dengan responden 1.238 orang. Menurut Direktur  Eksekutif 
LSI Syaiful Mujani situasi perekonomian yang makin memburuk merupakan  penyebab 
utama anjloknya popularitas duet SBY-JK.

  
 Popularitas di bawah 50% adalah situasi yang membahayakan, karena telah  
menembus ambang batas psikologis. Ini merupakan indikator bahwa kepuasan publik 
 pada kinerja Presiden dan Wakil Presiden sangat rendah. Kurang dari 50% dari  
pemilih nasional yang merasa puas dengan kerja Presiden. Ini merupakan tingkat  
kepuasan publik terendah terhadap kerja Presiden SBY sejak dua setengah tahun  
lalu ia dilantik menjadi presiden. 

 Dibanding sekitar dua setengah tahun lalu (November 2004), kepuasan  terhadap 
SBY menurun sekitar 30%, dan jika dibandingkan dengan Desember 2006,  kepuasan 
publik pada SBY menurun sekitar 17%. 

Juru Bicara Presiden Andi  Mallarangeng mengatakan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono meminta supaya  penurunan popularitasnya, dapat diambil hikmahnya 
untuk bekerja lebih  baik.
 
Menurut Andi, hal yang paling penting adalah survei itu  merupakan masukan bagi 
pemerintah untuk melihat apa saja yang harus dilakukan.  “Apa yang bisa 
dipertajam, diperbaiki untuk bisa menjadi lebih baik dalam  melindungi 
meningkatkan taraf hidup rakyat,” katanya.

  
 Lain halnya dengan Menkominfo Sofyan Djalil yang berpendapat anjloknya  
popularitas Presiden SBY dalam hasil survei LSI tidak mencerminkan hal yang  
penting. “Survei itu sangat kondisional. Itu tidak mencerminkan apa-apa,” kata  
Sofyan.  “Di AS saja hasil survei naik turun. Tidak masalah,”  ujarnya.

 Pendapat mana yang lebih tepat, semuanya akan kembali kepada kita semua. Ya  
kita semua sebagai rakyatlah yang bisa merasakan apakah kita saat ini cukup 
puas  dengan kinerja SBY-Kalla atau tidak.

  
 Manajemen ekspektasi
  
 Jika melihat hasil survey yang sangat tinggi saat SBY-JK dilantik,  sebetulnya 
kita bisa melihat bahwa rakyat sebenarnya memiliki harapan yang  sangat tinggi 
terhadap duet SBY-JK. Maklum pasangan ini merupakan hasil dari  pemilihan 
langsung yang pertama terjadi di negeri ini. 
  
 Namun rupanya, harapan rakyat tersebut tidak kunjung terpuaskan dengan  
berbagai kinerja SBY-JK, yang faktanya bukan semakin baik, namun justru semakin 
 buruk.
  
 Nah, jadi apa yang kita bisa pelajari dari dua kasus di atas? Manajemen  
ekspektasi! Ya Tukul tidak pernah menjanjikan apa-apa, dia tampil bahkan dengan 
 menonjolkan berbagai kelemahannya, baik pendidikannya, penampilannya, bahkan  
Tukul selalu mengingatkan kita bahwa ia hanyalah orang desa yang masuk tivi.  
"Keadaanku seperti kutu kupret." katanya mengelikan.
 
Sehingga  publikpun tidak memiliki ekspektasi atau harapan apapun terhadap 
Tukul, dan  menganggap Tukul adalah bagian dari publik. Publik pun menjadi 
kagum  dan tercengang-cengang ketika Tukul dengan bantuan Note Booknya,  
ternyata bisa berpikir luar biasa dalam bahasa dan gaya yang sangat  biasa.
 
Hal ini justru terjadi sebaliknya pada kasus SBY-JK, yang  dari awal mulanya 
memang mau tidak mau harus tampil dengan berbagai janji yang  super muluk. 
Penampilannya pun harus selalu klimis sempurna. Namun justru inilah  yang 
menjadi bumerang, ekspektasi atau harapan publik yang sengaja dibuat  melambung 
sangat tinggi ini tidak dapat dipenuhi. Wajarlah kalau kekecewaan  publik pun 
makin menggunung, dan makin hari makin besar.
  
 Dalam guraun rakyat sehari-haripun sering kita dengar orang-orang  berseloroh, 
"SBY-JK membuat rakyat stress, Tukul membuat rakyat  tertawa."
 
Manajemen ekspektasi adalah masalah strategis bagi kita  semua, baik Presiden, 
Tukul, perusahaan, produk atau siapapun dan apapun yang  memerlukan dukungan 
publik untuk bisa exist.
 
Sampai di sini apakah  kita perlu mengangkat Tukul yang "katro" tapi 
menyenangkan itu menjadi presiden?  Wah embuh lah, he..he..he.. nggak 
tahu.....lebih baik kita kembali  ke....LAP TOP!
  
  
 
  
     
                       

 
---------------------------------
Don't get soaked.  Take a quick peek at the forecast 
 with theYahoo! Search weather shortcut.

Kirim email ke