Ambon berbicara tidak pada konteks-nya. Untuk IPDN, menurut gue, pelaku pembunuhnya harus dipenjara (atau bahkan pelakukanya bisa dihukum mati karena dianggap pembunuhan berencana, karena menurut informasi yg gue terima, si korban sempat disuntik formalin untuk mengaburkan hasil otopsi).
Jika sistem di dalam IPDN (was STPDN) spt itu, gimana jadinya pejabat pemerintahan dalam negeri ? Pantas saja banyak koruptor di negara ini On 4/8/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Koq diributkan 35 orang, lantas yang jutaan disembelih oleh TNI dan konco-konco mereka tidak dipersoalkan? ----- Original Message ----- *From:* samiaji <[EMAIL PROTECTED]> *To:* [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] *Cc:* [EMAIL PROTECTED] *Sent:* Saturday, April 07, 2007 8:29 PM *Subject:* [zamanku] Jangan Menunggu Korban Jatuh Lagi *Quote:* *sejak 1990, sekurangnya telah 35 siswa IPDN tewas karena kekerasan* * *********************************************************************************************** * Minggu, 08 April 2007 EDITORIAL *Jangan Menunggu Korban Jatuh Lagi* TUNTUTAN pembubaran Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) makin hari makin nyaring bergema. Ia datang dari berbagai kalangan dan berbagai wilayah. Mereka menilai keberadaan kampus yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) itu sudah tidak diperlukan. Tuntutan itu masuk akal. Kematian siswa IPDN asal Manado Cliff Muntu, beberapa waktu lalu karena penganiayaan para seniornya sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Sebab, sejak 1990, sekurangnya telah 35 siswa IPDN tewas karena kekerasan serupa. Bahkan, ada yang mengatakan angka kematian sesungguhnya bisa lebih besar lagi. Jika melihat berbagai kekerasan di kampus itu, sungguh membuat kita tak percaya. Betapa kampus calon para pemimpin itu benar-benar menjadi sekolah tukang jagal. Sebab, menerapkan tradisi kekerasan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Rekaman gambar yang dimuat di beberapa televisi, misalnya, memperlihatkan penganiayaan kepada para siswa junior oleh para seniornya dilakukan bertubi-tubi, baik dengan tendangan maupun pukulan. Yang membuat kita tak percaya, pukulan dan tendangan itu diarahkan berulang kali ke bagian-bagian tubuh yang mestinya dilindungi, misalnya bagian ulu hati. Rekaman gambar itu terlihat jelas, mereka yang telah dihajar terhuyung-huyung dan mengaduh kesakitan, terus dihajar lagi. Sebagaimana layaknya rekaman, pastilah gambar itu bagian amat kecil dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam keseharian kampus IPDN. Yang mengherankan, kekerasan di sekolah yang dibiayai dengan uang rakyat itu tetap dibiarkan selama bertahun-tahun. Padahal, setelah kematian seorang siswa bernama Wahyu Hidayat pada 2003, pada 2004 STPDN berubah menjadi IPDN. Ini gabungan STPDN dengan Institut Ilmu Pemerintahan. Ternyata perubahan nama kampus tidak mengubah perilaku. Kekerasan tetap menjadi tradisi yang dijaga. Dan, yang membuat publik jengkel, kematian demi kematian siswa di sekolah itu awalnya selalu ditutup-tutupi pihak kampus. Oleh karena itu, kita tidak boleh menunggu waktu terlalu lama. Depdagri kini memang tengah melakukan investigasi atas kasus itu. Tetapi, juga jangan terlalu lama menunggu korban berikutnya jatuh lagi. Nyawa manusia terlalu sayang untuk dikorbankan para tukang jagal yang berkedok intelektual. IPDN harus dibubarkan. Kampus itu bisa untuk sekolah yang lebih bermanfaat bagi kebutuhan bangsa di masa depan. Unsur pimpinan IPDN harus bertanggung jawab atas kematian Cliff dan seluruh tindak kekerasan di kampus itu. Jika di sebuah institusi pendidikan tidak ada jiwa kesatria dari unsur pimpinan, itu artinya mereka memang bukan para pendidik. Mereka pelindung para tukang jagal. Cara-cara kekerasan sungguh sudah amat basi di zaman ini. Kini bangsa ini justru tengah menuntut model pendidikan yang bisa menggabungkan kecerdasan rasio dengan kecerdasan spiritual secara seimbang. Agar orang-orang pandai tidak membodohi orang lain. Agar ilmu hasil kecerdasan rasio bisa lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Sekali lagi, model pendidikan dengan tradisi kekerasan seperti IPDN, sungguh harus dibuang jauh. Bangsa ini tidak membutuhkan model pendidikan yang menanamkan disiplin dan kepatuhan terhadap senior dengan cara-cara preman. *** ------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.446 / Virus Database: 269.0.0/751 - Release Date: 4/7/2007 10:57 PM
<<attachment: edt080407.jpg>>

