Kasus IPDN Lebih Besar dari Persoalan  Kriminal
   
  Kasus penganiayaan -- mungkin lebih tepat pembunuhan – terhadap Cliff Muntu, 
praja (siswa) tingkat II Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tidak cukup 
diselesaikan secara kriminal. Akar persoalan yang membelit IPDN pasti jauh 
lebih besar dari sekedar persoalan kriminal.
   
  Melokalisir persoalan IPDN pada sebatas masalah kriminal biasa,hanya 
menyelesaikan persoalan di permukaan, tetapi tidak menyelesaikan secara 
menyeluruh. Penyelesaian masalah kriminal saja, bisa berulang pada kasus-kasus 
kriminal berikutnya.
   
  Kasus IPDN mengundang pertanyaan, kemana larinya hari nurani  para siswa IPDN 
yang menganiaya sesama siswa yang sama-sama berangkat dari kampung halamannya ? 
 Dalam pikiran kita, siswa yang pergi merantau biasanya memiliki rasa 
kesetiakawanan sosial yang tinggi, mengapa hal demikian  tidak terjadi di IPDN ?
   
  Penyebabnya, pasti IPDN memiliki sistem pendidikan yang salah, dan system itu 
masih dilestarikan oleh pemerintah RI. Sangat sulit diterima akal sehat kita, 
bagaimana mungkin siswa lugu yang berasal dari kampung tiba-tiba menjadi 
beringas, dan sukses menjadi pembunuh. Dan, itu terjadi setelah mereka masuk 
dalam sistem pendidikan di IPDN.
   
  Oleh sebab itu, kalau IPDN tidak dibubarkan atau tetap akan dipertahankan 
keberadaanya, sebaiknya pemerintah (dalam hal ini Depdagri dan Depdiknas) 
segera merubah sistem pendidikan yang ada, secara menyeluruh dengan orientasi 
menghasilkan birokrat yang menerapkan prinsip-prinsip good governance, dan 
dijauhkan dari sikap premanisme dan korupsi. 
   
  Sedangkan, penyelesaian secara hukum, tidak cukup pada pihak-pihak yang 
melakukan penganiayaan saja, tetapi sebaiknya menyeret langsung para pejabat 
IPDN yang terbukti tidak mampu menjaga keselamatan siswa. Dengan demikian, 
mudah-mudahan, tidak ada lagi siswa yang kehilangan nyawa secara sia-sia.

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

Kirim email ke