[jarar siahaan; bataknews; balige]

Kawan, apakah engkau termasuk salah satu dari kelompok wartawan yang kerap 
berkampanye anti-amplop itu? Jadi kau juga pernah sibuk menempel stiker, bikin 
penelitian, dan berbicara di seminar bahwa amplop itu haram? Apa yang 
kaulakukan itu sebetulnya mulia, kawan. Tapi bagaimana wartawan kampungan 
seperti aku ini bisa percaya begitu saja kalau kau tidak lebih dulu memberi 
contoh?

Oh bukan, bukan itu, kau tak perlu berpura-pura menolak amplop dalam temu pers. 
Begini saja; mulai hari ini, setiap meliput atau bertemu narasumber, 
kaupakailah sebuah pin kecil di dadamu dengan tulisan AKU WARTAWAN ANTI-AMPLOP, 
ANTI-SUAP, ANTI-SEGALA PEMBERIAN. Atau kalau kau sering memakai rompi dan topi, 
sekalian saja tuliskan di situ. Berapalah biaya sablon untuk itu, gajimu kan 
besar. Betul, begitulah caramu berkampanye mulai saat ini, agar lebih 
meyakinkan dan sedap dipandang mata.

Tapi ingat; pakailah pin itu selamanya, dan jangan diam-diam bermain proyek. 
Entah proyek apa pun, jangan, tetap itu bisa menjadi suap. Termasuk juga 
pemberian fasilitas dari narasumber harus kautolak; seperti dibawa naik bus 
wisata sambil meliput atau bermalam di hotel. Sebab, kode etikmu jelas 
mengharamkan itu. Apa? Engkau lupa kode etikmu sendiri? Simaklah biar kubacakan:

Wartawan dilarang menerima sogok dalam bentuk apapun — uang, barang, atau 
fasilitas lain — yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi 
wartawan menjalankan tugasnya.

Jadi mulai hari ini kau hanya boleh memperoleh uang dari honor beritamu. Bahkan 
kalau ada narasumber singgah di rumahmu dan memberi anakmu sejumlah uang, kau 
harus mengembalikannya, sebab itu bisa dikategorikan “secara tidak langsung 
dapat mempengaruhi wartawan menjalankan tugas.”

Aku? Jangan dong tuntut aku melakukan hal yang sama. Aku kan bukan anggota 
ososiasi wartawan seperti dirimu. Lagipula aku ini wartawan freelance yang 
menulis lewat blog. Dan aku tidak mau munafik; karena tak ada lagi yang 
menggajiku sekarang, maka kalau ada orang mentraktirku makan atau memberiku 
uang karena ia senang membaca tulisanku, terus-terang aku akan terima dengan 
senang hati. Bahkan bukan cuma dari narasumber, dari siapa pun aku mau menerima 
bantuan; sebab itulah di blog ini kucantumkan nomor rekening bank, siapa tahu 
ada orang yang berbaik hati menyalurkan donasi. Tapi kalau ada yang 
mencoba-coba membayarku untuk merekayasa berita seperti keinginannya, 
kupastikan kepadamu bahwa aku akan menolak pemberiannya.

Baik kawan, selamat berkampanye kembali. Jangan lupa: pakailah pinnya sambil 
membusungkan dada. []

Aku 12 tahun bekerja di media cetak dan pernah redaktur di Grup Jawa Pos di 
Medan, 2001. Karena aku muak dengan koran-koran daerah yang umumnya tidak 
independen dan tidak memberi gaji layak, aku berhenti dari media dan bernazar 
takkan pernah kembali lagi terikat dengan media, sampai kapan pun. Kini aku 
menjadi wartawan freelance dan aktif menulis berita di blog. Sehar-hari 
menafkahi istri dan dua anak dengan berjualan oli-campur dan voucher hp 
elektrik di Balige, Kabupaten Tobasa, Sumut.
http://bataknews.wordpress.com/

=======

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke