Tadi pagi (06:45 wib) ada pemirsa di acara Editor Metro TV,
yang usul, sebaiknya IPDN pengelolaannya dikembalikan 
ke masing2 daerah seperti dulu, saya pikir ada baiknya,
karena :

1. sistem senioritas yang berujung kondisi per'mafia'an di IPDN 
    sudah terlalu parah, ini  jelas tidak kondusif bagi kelangsungan 
     institusi yang misi utamanya wadah pendidikan...

2. dengan dikelola oleh masing2 daerah, bila kelak lulusannya
    mengabdi sebagai abdi negara, akan bersaing dalam hal
    mutu pelayanan kepada masyarakat.......bila perlu setiap tahun
    diadakan IIP Award (IIP=Institut Ilmu Pemerintahan) antar IIP
     dari seluruh daerah yang menyelenggarakan....

sumonggo.....



salam,




Tionghoa Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
04/09/2007 09:29 PM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
[mediacare] Liputan 6 SCTV






Hallo teman teman semua,
 
Saya yang berada di Republik Korea tidak bisa melihat tayangan tersebut 
walaupun siaran itu sebenarnya bisa dilihat diwarung makan Asia di kota 
Ansan yang berjarak satu setengah jam perjalanan naik Subway dari rumah 
saya.
 
Namun demikian kalau memang salah ya diuruslah dengan baik, jangan 
Dosennya yang membocorkan masalah itu bahkan akan diberi sanksi, ini kan 
kebalik dong, kalau memang salah, ya Dosen itu harus diacungi jempol, 
karena beliau tau dengan betul, bahwa hal itu tidak harus ada di kurikulum 
yang sebenarnya bagus. Jadi jangan Dosen itu bahkan diberi sanksi segala.
 
Marilah kita tuntaskan saja, siapa yang salah HARUS DIHUKUM, itu adalah 
HUKUM DARI ALLAH, jadi baik dilihat dari agama manapun, hal itu pasti akan 
ke situ, dan penghukuman itu harus benar benar dilakukan, seperti TUHAN 
YESUS sendiri, beliau mau menebus dosa dosa umat manusia, jadi DIA sendiri 
yang mau menebus itulah harus dicambuki, ditendang, diludahi, bahkan 
disalibkan sampai mati. NAH ITU BARU BENER, tetapi dalam hal TUHAN YESUS 
ini kan beda sekali, setelah tiga hari di dalam kubur, DIA BISA BANGKIT 
LAGI, dan DIA sekarang sudah memiliki kunci NERAKA, jadi siapa yang 
percaya kepadaNYA, tidak akan bisa masuk ke NERAKA, tetapi memperoleh 
HIDUP YANG KEKAL, hal itu ditulis di Injil Yohanes 3:16. Maaf saya bukan 
mau propaganda agama KRISTEN, tapi memang ditulis di situ, sedangkan di 
kitab kitab SUCI lainnya tidak ada tulisan seperti itu.
 
Salam hangat
 
Pihak yang prihatin seperti SCTV

dedes smarty <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
saya rasa untuk kasus pelanggaran hak asasi manusia seperti kasus IPDN ini 
memang harus dibuka ke publik seluas-luasnya. Langkah SCTV menayangkan 
video kekerasan di IPDN menurut saya adalah langkah yg tepat untuk membuka 
mata masyarakat dan khususnya pemerintah untuk melakukan sesuatu yang 
konkrit dan tuntas sampai ke akar.
Tindakan kekerasan siswa IPDN sungguh tidak berperikemanusiaan, apakah 
mereka tidak punya agama?

warga yang prihatin
Dedes

----- Original Message ----
From: surya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, April 9, 2007 1:58:20 PM
Subject: Re: [mediacare] Berlebihan: Liputan 6 SCTV

Saya kira belum semua tradisi kekerasan yang ada di IPDN terungkap, 
masalah yang sebenarnya dari tradisi tsb dan saya rasa ada maksud 
dibalik kekerasan tsb. Dan harusnya media menggali trus akar permasalahan
yang terjadi & Tradisi 2 tsb sehingga terbongkar semua permasalahan2 nya
siapa dalang yang sebenarnya dibalik itu semua dan apa maksud yang ingin 
disampaikan melalui tindakan kekerasan tsb sehingga masyarakat luas tau 
ada apa dibalik IPDN tsb.
 
 
----- Original Message ----- 
From: siswantini suryandari 
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com 
Sent: Sunday, April 08, 2007 6:25 PM
Subject: Re: [mediacare] Berlebihan: Liputan 6 SCTV

Kekerasan di IPDN memang harus dihentikan. Kemarin
saya diberitahu sahabat dekat saya, bahwa alm Cliff
Muntu adalah saudara dekatnya.
Ia menceritakan bahwa Cliff orang yang pintar. Dan dia
dari keluarga yang sederhana. Sejak dulu juara kelas.
Ketika ia diterima di IPDN atas biaya pemerintah
provinsi Sulut, keluarganya bersyukur dan bangga. Tapi
harapan itu pupus karena ia harus lebih dahulu
meninggalkan dunia dalam kondisi memprihatinkan.
Bahkan laporan terakhir ia disuntik formalin di klinik
IPDN. 
Apakah berlebihan info itu diketahui masyarakat? Saya
pun tak sudi punya camat atau lurah lulusan IPDN. Bila
pada masa kuliahnya nyambi jadi tukang pukul

Salam,
SS

--- bharata andi <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

> kalau saya melihat hal itu justru sudah sangat
> proporsional. Menurut saya, hal itu justru dilakukan
> untuk menekan pemerintahnagar menghentikan kekerasan
> yang dilakukan pwemerintah sendiri, baik melalui
> regulasi pendidikan yang menyebabkan ada pembolehan
> atas tindakan liar dan menjijikkan seperti yang
> terjadi di IPDN, serta juga melalui kurikulum
> pendidikan yang diterapkan di berbagai tingkatan
> sekolah yang justru membuat sang anak didik stres
> gak ketulungan. Kalau Anda mernyebutkan ahl itu
> sebagai propaganda, maka saya menilai kalaupun itu
> adalah propaganda yang baik demi mengakhiri
> keburukan. Sama seperti iklan kesehatan yang
> menggambarkan makanan/minuman tertentu racun bagi
> tubuh dan harus diakhiri dengan produk bagus yang
> dihuat si pengiklan. Propaganda untuk hal baik,
> tidak akan menjadi masalah kawan.
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Aswan Zanynu <aswan.zanynu@ gmail.com>
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Sent: Sunday, April 8, 2007 10:20:07 AM
> Subject: [mediacare] Berlebihan: Liputan 6 SCTV
> 
> Dear rekan-rekan,
> 
> Belakangan ini saya menyaksikan Liputan 6 SCTV
> begitu berlebihan dalam menayangkan kasus kekerasan
> di IPDN. Memang betul, IPDN meminta korban lagi.
> Namun cara SCTV menyajikan berita terkesan
> berlebih-lebihan. Sebelum berita di mulai,
> gambar-gambar pemukulan sudah terlebih dahulu
> disuguhkan kepada publik. Tidak ada penjelasan atau
> teks yang memberi informasi kapan cuplikan gambar
> itu diambil. Publik secara tidak sadar akan
> mengasumsikan, apa yang mereka lihat di layar kaca
> itu sebagai peristiwa yang baru saja terjadi.
> Belakangan ketahuan bahwa cuplikan gambar itu
> diambil ketika IPDN masih bernama STPDN. 
> 
> Saya dapat memahami SCTV melakukan itu untuk
> menekankan batapa pentingnya masalah kekerasan di
> IPDN segera dituntaskan segera. Namun selayaknya itu
> dilakukan dengan cara yang proporsional. Ketika
> sebuah peristiwa atau issu telah diangkat sebagai
> berita, sesungguhnya publik sudah mengetahui bahwa
> hal tersebut dianggap penting oleh media. Tidak
> perlu didramatisir hingga berulang berkali-kali
> dalam beberapa hari. Bahkan dalam sebuah waktu
> penayangan berita, topik itu di sajikan di awal,
> kemudian dimunculkan lagi di tengah berita. Dengan
> gambar yang sama dan tanpa penjelasan waktu
> pengambilannya. 
> 
> Berita yang tidak proporsional adalah bentuk
> "kekerasan" lain yang dilakukan media. Ini
> diparparah dengan gaya narasi berita yang begitu
> provokatif. Saya kemudian menjadi bingung untuk
> mengkategorikannya sebagai sebuah berita. Mungkin
> lebih tepat disebut sebagai sebuah propaganda. 
> 
> Rekan-rekan, mungkin saya salah. Tetapi itulah
> pendapat saya.
> 
> Salam,
> 
> Aswan Zanynu
> 
> 
> 
> 
>
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> Food fight? Enjoy some healthy debate 
> in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
>
http://answers. yahoo.com/ dir/?link= list&sid= 396545367

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
.yahoo.com 


Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business. 



MARI KITA BERSATU PADU
UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA
KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

 Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! 
Games.
 

Attachment: gifKjQ2UDyiVN.gif
Description: GIF image

Kirim email ke