Trimakasih ibu Lianny, Harapan saya kiranya semakin banyak orangtua Indonesia yg siap dan mapan dalam membina kepribadian generasi penerus bangsa ini. Saya tdk membaca artikel attch secara cermat, namun saya menemukan yg tersirat seperti immunisasi yg disetarakan dengan ajaran moral dan agama. Saya sangat setuju. Saya misalnya sangat menjunjung apa yg tertulis dalam Kitab Kejadian 2:24 /Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Dikutip juga di /Mateus 19:5
Bagi saya ajaran ini sangat penting. Jika kita adalah orangtua yg sedang membesarkan anak laki-laki, persiapkanlah anak lelaki anda secara matang sebelum mereka menikah. Secara matang berarti, siap untuk meninggalkan anda (ayah dan ibu) dari segi financial, segi moral dan segala-galanya dan bersatu dengan istrinya. Selain anda menyiapkan diri anak lelaki itu menjadi lelaki yg mandiri dan bertanggungjawab bagi keluarga yg akan dibangunnya, siapkan jugalah diri anda untuk melepaskan anak anda tersebut. JANGAN ikut campur urusan keluarga anak anda lagi! Ini tdk sama dengan melepaskan tanggungjawab, lalu menutup mata. Maksudnya sebagai orangtua yg lebih berpengalaman, orangtua layak dimintai nasehatnya, tapi jangan sebaliknya mentang-mentang berpengalaman, lalu menggurui si anak sesuai dengan keinginannya, bukan sesuai dengan individu si anak yg menyatu dengan istrinya. Demikian jugalah kita mempersiapkan para remaja putri kita untuk menentukan jenis macam apakah calon suaminya kelak. Apakah dia akan menikah dengan seorang lelaki yg masih terus bergantung pada orangtuanya ataukah dia memilih lelaki yg telah benar-benar siap secara mental dan financial. Persiapkan mereka submit kepada suami yg mencintainya, agar si putri dapat menjadi penolong yg dapat mengisi segala kehampaan akibat meninggalkan orangtuanya utk bersatu dengan istrinya. (Ef.esus 5:25 dst.) Mungkin sebagian pembaca akan berpikir, ini terlalu kebarat-baratan, sementara adat kita di timur beda. Pehaman itu salah, sebab ajaran ini dimulai dari Timur Tengah sana. Seseorang yg mandiri bukan berarti jadi sendiri. Dengan kata lain setelah si anak menikah lantas sama sekali tidak punya hubungan lagi dengan orangtua dan keluarganya. Bukan demikian, melainkan tiap-tiap keluarga itu harus memiliki warna dan ciri khas sendiri dan akan menjadi suatu kombinasi yg indah jika masing-masing keluarga itu kemudian bergabung dalam suatu keharmonisan, sebagai keluarga besar yang saling menghargai dan membelajari. Teori memang jauh lebih muda dari praktek. Dalam kenyataan betapa banyak orangtua yg masih terus memperlakukan anak-anak mereka yg telah berumahtangga sekalipun seperti anak kecil. Ada banyak orangtua yg sulit membedakan antara displin dengan kasih sayang. Atau gampang mendisplin orang lain tapi tdk mampu mendisiplin diri sendiri. Kiranya anak-anak anda termasuk generasi yg mapan dan turut membangun bangsa Indonesia. SANGAT DIDAMBAKAN Catatan, sebenarnya di dunia barat bukan berarti tidak ada larangan, hanya lebih bersifat alternatif. Lianny Hendranata wrote: > > ibu Roslina, walaupun kami tinggal di Indonesia yang mana iklim > berdemokrasi tdk sepekat jika dibandingkan dgn negara lain, dimana > demokrasi ditanamkan sejak didalam keluarga, yaitu anak maupun orang > tua bebas berpendapat, bahkan bebas berdebatan, yg tentu dalam hal > berargumentasi positif, demikian juga keluarga yang saya bangun dengan > 3 orang anak kami. di keluarga kami, siapa pun berhak untuk > berpendapat dan jika tidak setuju atau menyatakan pendapat orang, itu > salah, dia harus menunjukan dimana salah dan letak tdk setujunya dan > jelaskan, apa yg menurut pendapat dia adalah benar.! > > nah berdasarkan hak demokrasi penuh, maka jangan heran dimana kami > orang tua bisa berdiskusi dengan masing-masing memegang hak penuh > untuk mengemukakan pendapatnya. itulah yang terjadi dgn anak-anak kami > yang sudah keluar rumah untuk merasakan cuaca kehidupannya secara > mandiri sejak muda, maka kami membiasakan mempercayai kebebasan yang > kami berikan sebagai ortu nya, tidak akan disalahgunakan oleh > anak-anak, dan mereka diizinkan utk kost atau tinggal di asrama > sekolah ketika mereka baru lulus SD. > > dalam postingan lalu saya sertakan artikel yang ditulis anak gadis > saya, yang berargument tentang masalah sex remaja dewasa ketika kami > berdiskusi dan mempersoalkan kejadian mahasiswi yg ditemukan terbunuh > oleh pacarnya, yang panik karena dikejar utk menikahi, di postingan > ini saya kirimkan artikel anak ke 2 saya yang berargument dan > berdikusi dgn saya, karena dia, saya tegur waktu kedapatan membawa > pulang film terlarang beredar. > > 2 artikel ini contoh yg menjadi kebiasaan kami untuk membawa diskusi > kami ke masyarakat luas, untuk melihat mana pendapat terbanyak yang > merespon, maka ke 2 artikel yg ditulis thn 2004 ketika mereka baru > berusia 17 dan 20 thn, memperoleh banyak sekali respon pro dan kontra > dari para pembaca yang mewakli para ortu dan anak2 > > > *SUARA PEMBARUAN DAILY Minggu. 12 september 2004 > > “ BCG, Imunisasi Muda Mudi yang Perlu di Waspadai”* > * * > Ketika bayi sampai usia balita, para ibu pasti rajin mengimunisasi > anak-anaknya, agar virus tidak membuat masalah pada tubuh anak > tercinta. Contohnya pemberian imunisasi B.C.G, pada umumnya imunisasi > B.C.G atau lebih dikenal dengan /Bacillus Calmette Guerin/ adalah > /Mycobacterium bovis/ yang telah dilemahkan dan dipergunakan sebagai > /vaksin/ hidup untuk pencegahan penyakit Tuberkulosis atau TBC. > Nah saat ini kaum muda Indonesia khususnya ibu kota, sedang mendapat > imunisasi moral, namanya sama imunisasi *B.C.G* Tapi itu bukan > imunisasi dengan isi vaksin yang sama dengan yang disuntikkan pada > bayi dan balita. Imunisasi ini lebih menjabarkan anak muda sebagai > topik Vaksin atau injeksinya, dan dampak demamnya bisa dikatakan cukup > luas dalam masyarakat muda Indoneia. > Perbincangan panas antara kaum dewasa (orang tua) dan kalangan muda di > bumi pertiwi ini, lagi-lagi pro dan kontra dalam media visual > pemutaran film “Buruan Cium Gue” yang kita singkat menjadi B.C.G yang > sebetulnya dapat menjadi perihal umum dan mungkin tidak akan seheboh > seperti yang terlihat. Memang pada umumnya para remaja akan menganggap > sesuatu yang baru itu patut dicoba, tapi sebenarnya tidak sedemikian > mudahnya anggapan tersebut diterima. Kebetulan kaitannya dengan kaum > remaja saat ini. Sebagai kaum remaja atau lebih spesifik adalah kaum > muda kita sudah diberi pengetahuan pembelajaran dan tentunya > norma-norma antara yang baik dan tidak baik didalam kehidupan, yang > didapat dari formal maupun hanya informal contohnya didalam keluarga. > Dari segi yang lain pemutaran film tersebut terutama efeknya bagi > pemeran utama kita yaitu para muda tentunya, mereka berpikir malah > justru mereka semakin ingin mencari-cari yang rata-rata tidak tahu > apa-apa sebelumnya dan bahkan ada yang benar-benar kurang berminat > menontonnya karena menganggap film remaja biasa yang diproduksi per > filman Indonesia, Tapi dengannya gembar-gembor kritik, protes dan > sebagainya, justru menjadi hal yang membuat kaum remaja/ muda menjadi > penasaran. Mereka akan tertarik untuk mencari dan berusaha > menontonnya. Karena mereka berpikir seperti apa sih film yang diprotes > yang dianggap bisa merusak moral kaum muda itu. > Hal yang terjadi, semakin dilarang, akan semakin membuat penasaran, > dan para pembajak kesenangan karena hasil karyanya dicari orang muda > dan laku keras. Jika hal ini terjadi justru, keadaan lebih gawat! > Rata–rata mereka yang masih berjiwa demikian bisa lebih memperburuk > keadaan yang terselubung, maksudnya bagi mereka yang diatas (baca kaum > tua) masih asyik memperdebatkan dan semakin terlena dengan masalah > tersebut membuat kesadaran dan kesigapan mereka lemah akan yang > dibawah (baca kaum muda), *mereka yang dibawah tanpa suara akan dengan > semakin gigih dan semakin penasaran mencari-cari “harta” yang mungkin > akan lenyap itu*, dengan cara-cara anak muda tentunya yang > memungkinkan diluar nalar para dewasa. Justru inilah masalah yang > sebenarnya, karena nasi telah menjadi bubur marilah bersama menjadi > pengalaman bagi kita dan umum dalam menghadapi pelbagai problema serupa. > Sebenarnya pro dan kontra tentang hal baik dan buruk yang dikemukakan > diatas, sebelumnya amat bergumul didalam otak kami untuk berfikir dua > kali untuk menanggapinya, dan hal tersebut juga tergantung hati > sanubari tiap pihak (disini didalam segi kaum muda) yang menganggap > apa sebenarnya makna dari pemutaran film tersebut. Demikian secarik > kata hati remaja yang angkat berbicara (mudah-mudahan ada yang > mendengar dan mengerti). > Secara garis besar orang tua juga akan berfikir kritis untuk serapan > dan masukan bagi anaknya yang selalu diajarkan agar menyaring segala > bentuk penyimpangan dalam pergaulan ataupun hiburan yang kalau-kalau > bisa menyebabkan efek negatif bagi anaknya. dapat dilihat secara > agamis, kita yang menganut budaya timur yang seharusnya mencerminkan > ciri khas bangsa kita, yang menghargai norma-norma ketimuran. > Web: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Klik: http://mediacare.blogspot.com atau www.mediacare.biz ==================== Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
