IBRAHIM ISA BERBAGI CERITA:
Selasa, 10 April 2007

SIAPA MENDUGA --  SESUDAH 4 Th IRAK 'DIBEBASKAN' AS
Kok BEGINI JADINYA !!!???

Siapa nyana? Sungguh tak terduga!

Bukan  stasiun TV Aljazeera,  jga bukan TV Damascus atau TV Teheran
yang kebetulan kulihat sendiri menyiarkan demo anti-Amerika terbesar
dalam 2-3 bulan terakhir ini di Irak. Jangan heran! Adalah stasiun TV
Amerika CNN yang kemarin, 09 April, kulihat  menyiarkan tentang demo
puluhan ribu massa Irak di kota Feluja.  Puluhan ribu rakyat Irak,
termasuk kaum perempuan yang berjilbab,  dengan melambai-lambaikan
bendera nasional Irak,  meniup terompet, bersorak-sorai  berdemonstran
menentang Amerika dan sekutu-sekutunya yang menduduki Irak.   Mereka
bersemangat dan teramat bérang,  dengan keras sekali berseru nyaring:
Hai,  tentara AS enyahlah segera  dari Irak.  Mereka berbaris
sepanjang 5 km antara kota  suci Kufa dan Najaf, untuk memperingati 4
tahun masuknya tentara AS ke kota Bagdad.

Imam golongan Syiit radikal  Muqtada al-Sadr  yang berpengaruh,  dan
dikatakan yang ada dibelakang demo besar tsb menyerukan:  Hentikan
saling bunuh antara kita sendiri. Tujukn perlawanan pada sasaran
utama, tentara agresor Amerika dan sekutu-sekutunya yang menduduki Irak!

*   *   *

Dan . . . . . .  puluhan ribu kaum  demonstran Irak itu mencabik-cabik
kemudian membakar  bendera Amerika, 'The Stars and Stripes'

*    *    *

Wartawan CNN yang meliput situasi Irak tsb,  juga melaporkan bahwa
diantara banyak toko-toko yang ramai dikunjungi dikota Bagdad,  adalah
APOTIK. Yang laris dijual, adalah obat penenang syaraf. Pemilik apotik
 Tharik Osama, bercerita: Makin banyak orang yang membeli obat
penenang. Karena  mereka  s e t r e s .  Mereka sesungguhnya sudah
diambang sakit syaraf total. Kebanyakan orang sudah tidak punya
harapan situasi  akan membaik. Saling ngebom (bunuh-diri), antara kaum
Syiit dan  kaum Sunni,  operasi-operasi militer AS dan
sekutu-sekutunya terjadi hampir tiap hari. Tidak seorangpun tahu kapan
situasi mengenaskan ini  akan bisa berubah. Yang mereka tahu adalah
Presiden Bush mengirimkan tentara tambahan ke Irak.

Lalu, apalagi yang laris laku di apotik Anda, tanya wartawan CNN.
Tharik, pemilik apotik menjawab: Yang hampir sama larisnya ialah 'obat
kuat'  bernama VIAGRA. Karena  s e t r e s   itu,  kata Tharik,
akibatnya melemahkan syahwat kaum lelaki. Padahal mereka itu masih
muda-muda.  Masih memerlukan  dan ingin kehidupan suami-istri yang
wajar. Maka dibelilah tablet Viagra agar bisa normal hidup sebagai
suami-istri. Aneh kedengarannya, beli obat penenang syaraf, bersamaan
dengan itu membeli obat kuat Viagra.

Aku fikir, andaikata situasinya tidak terlalu gawat untuk AS,
barangkali wartawan CNN  yang adalah stasiun TV milik orang Amerika
itu, ---  tidak akan khusus mentayangkan berita seperti itu, pas pada
peringatan 4 tahun Amerika masuk  Bagdad. Memang bisa terjadi bahwa di
CNN orang-orang yang pro Partai Demokrat dan anti politik-Irak
Presiden Bush cukup berpengaruh. Bukankah Kongres AS yang kini
didominasi oleh Partai Demokrat itu, mendesak  Presiden Bush untuk
bikin jadwal  kongkrit kapan tentara AS ditarik dari Irak. Kongres
menuntut kongkritnya tidak lebih lama dari Agustus 2008.  Bila
Presiden  Bush menolak keputusan Kongres tsb maka dana operasi tentara
AS di Irak akan di stop. Begitu tajam konflik di Kongres AS mengenai
beleid Presiden Bush di Irak. Tokh,  Bush ngotot mempertahankan
kebijakannya  untuk terus menduduki Irak. Memang ada dua kepentingan
kaum modal AS di Timur Tengah. Satu, mempertahankan dominasi posisi
militer AS. Kedua mendominasi sumber minyak di Irak dan Timur Tengah.

Jadi bukanlah masalah menyebarluaskan atau mensosialisasikan DEMOKRASI
 dan HAM,  bukan pula  untuk mencekal 'senjata pemusnah masal' yang
katanya dimiliki oleh Saddam Husein,   yang  jadi motif Presiden Bush
masuk Irak. Sama halnya, seperti ketika AS mendalangi penggulingan
Presiden Sukarno dan membantu Jendral Suharto berkuasa di Indonesia.
Bukan demi menyebarkan Demokrasi dan HAM, tetapi mendudukkan pemimpin
pemerintahan yang bisa diandalkan  dan dikendalikan oleh AS dalam
strategi Perang Dingin ketika itu. Artinya demi kepentingan  kaum
modal AS sendiri.

*    *    *

Bagi orang-orang yang bermimpi, bahwa 'demokrasi' itu, adalah semacam
 barang dagangan yang bisa diekspor, tidak pernah terfikirkan
samasekali, bahwa perubahan demokratis sesuatu negeri itu,
pertama-tama dan terutama disebabkan oleh kekuatan sosial di dalam
negeri itu sendiri. Bukanlah oleh suatu invasi militer asing,  atau
oleh kekuatan militar dalam negeri yang dipaksakan dari atas,
betapapun keheibatan dan keunggulannya. Bagi protagonis invasi militer
AS dan sekutu-sekutunya untuk menggulingkan Sadam Hussen, tak pernah
terduga samasekali,  bahwa  sesudah Sadam Hussein digulingkan, situasi
di Irak, akan begini jadinya. Karena,  menurut mereka-mereka itu,
bukankah Amerika masuk Irak untuk mensosialisikan prinsip-pinsip
demokrasi dan HAM?

 Di sini perlu dengan tegas dan jelas diberi catatan-pinggir  dan
DENGAN HURUF TEBAL, bahwa yang mereka namakan 'demokrasi'  itu adalah
demokrasi dalam nama saja. Karena  'demokrasi'  yang mereka jajakan
itu, adalah demokrasi untuk segolongan saja. Adalah  demokrasi bagi
yang punya uang, yang punya modal,  yang punya surat kabar, radio dan
stasiun TV. Yang punya polisi dan tentara.

Jangan jauh-jauh. Lihat saja negeri kita sendiri. Dulu, fihak Barat
dan pendukung serta pengagumnya menjuluki pemerintahan Presiden
Sukarno  sebagai suatu pemerintahan yang 'otoriter'. Sesudah Presiden
Sukarno mendekritkan 'Kembali Ke UUD-RI 1945', Presiden Sukarno
dituduh sebagai diktator.  Padahal orang tahu,  melalui SOB yang
sesungguhnya dan riil berkuasa adalah tentara. Media pers  Barat dan
pengikut-pengikutnya di dalam negeri, bersorak ria ketika Jendral
Suharto naik panggung. Dikatakan bahwa  sesudah 'periode otoriter'
Presiden Sukarno berakhir,  Indonesia memasuki masa penuh harapan.
Yang nyata terjadi adalah pembantaian masal terhadap  warganegara
tidak bersalah, atas tuduhan PKI atau pendukung PKI,  atau yang
pendukung Presiden Sukarno.

Karena, katanya,  di bawah Jendral Suharto dimulai periode demokrasi
(liberal). Kekuatan politik/militer yang didukung oleh Barat
bertabuh-genderang, bersuka ria dimulainya  'era demokrasi' di
Indonesia. Modal asing meluncur lancar masuk dan bersarang di
Indonesia.  Kekayaan bumi dan laut Indnesia dikuras dan diangkut ke
luarnegeri. Pinjaman luarnegeri lebih-lebih lagi,   mengucur masuk.
Sebagian tampak  membawa perubahan dengan berkembangnya infrastruktur.
Tapi sebagian besar utang yang didapat dari World Bank dan IMF, yang
pasti menjadi beban generasi kemudian turun temurun, dengan laju pula
mengucur ke kantong koruptor-koruptor kakap. Terutama pada alamat
seperti yang kita bisa saksikan. Pada dinasti Cendana. Sebagian yang
juga tidak kecil ditanamkan pada BUMN, yang dalam kenyataannya
dikuasai oleh militer-birokrat rezim Orba.

Antara lain yang begini-begini ini, bisa dibaca dalam surat-surat
kabar sesudah jatuhnya Suharto. Akan semakin terungkap lagi kelak
bagaimana KKN beroperasi dalam praktek,  dan menguasai negeri kita,
bila lembaga pengadilan dan kejaksaan Indonesia konsisten dalam
melacak dan menangani kasus korupsi Suharto dan kroni-kroninya,
seperti Yusril dan Awaludin Hamid.

*   *   *

Sesungguhnya sudah jelas bahwa kultur dan sistim politik di kebanyakan
negeri-negeri Timur Tengah, apakah itu kesultanan atau kerajaan,
republik atau menggunakan nama lain; tidak satupun dari negeri-negeri
itu yang bisa dibilang negeri yang mempraktekkan prisnip-prinsip
negara demokratis, HAM  atau negara hukum. Kalau bukan sistim politik
otoriter beradasarkan aliran agama tertentu, maka ia adalah monarki
dimana sang rajalah yang punya wewenang menentukan segala.  Bila
dikatakan demikian, ini bukanlah suatu 'sinisme' spontan.  Bila benar
seperti apa yang diuar-uarkan bahwa hendak menyebar demokrasi dan HAM,
bukankah ke negeri-negeri Timur itu sasarannya?  Tetapi tidak, karena
meskipun itu suatu monarki yang mempratekkan sisitim pemerintahan
feodal, tetapi negeri-negeri itu adalah sekutu AS.  Jadi sasarannya
adalah Iraknya Saddam Hussein, karena Sadam Hussein punya nyali untuk
tidak tunduk kepada AS dan menantang sang superpower AS.

Ungkapan diatas tadi,  untuk sekadar menggambarkan bagaimana seorang
presiden seperti Presiden G.W.. Bush, begitu ngotot mempertahankan
sikapnya yang 'kepala batu' ingin bertahan di Irak.

Soalnya Bush punya ilusi, bahwa kekuatan militer dari luar yang
sepuluh kali lebih unggul, seperti AS,  akan  bisa mengubah  sistim
politik suatu negeri yang punya sejarah dan tradisi kuno, seperti
Irak.  Bush punya keyakinan seperti itu, karena AS  punya  lebih
banyak pesawat tempur dan pembom,  memiliki lebih banyak meriam dan
tank,  lebih banyak kapal perang, termasuk yang bersenjata nuklir,
dan lebih banyak punya dolar. Memang siapa yang bisa membayangkan,
bahwa sesudah AS dan sekutunya masuk Bagdad sebagai  suatu 'tentara
pembebasan', meruntuhkan patung Sadam Hussein yang lebih gede dari
gajah itu, juga mendapat sambutan beberapa ratus penduduk Bagdad, hari
ini -- Senin, 09 April, empat tahun kemudian ---- chaos dan maut yang
meliputi Bagdad dan Irak.


*   *   *

Dengan mengikuti secara seksama situasi perkembangan di Irak dan Timur
Tengah, kita, khususnya generasi muda kita,  akan bisa menarik
pelajaran yang amat berharga, bahwa suatu kekuatan dari luar, apakah
itu berupa militer atau berupa dolar, atau berselubung agama, kapanpun
tidak akan mampu mengubah nasib sesuatu bangsa.

Bangsa itu sendirilah  yang akan menentukan nasibnya sendiri.
Kekuatan demokratis yang tumbuh secara wajar di dalam negeri itu
sendiri yang akan menentukan hari depan bangsa itu.

*   *   *


Kirim email ke