Kepada Yth. :
Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
Di Tempat._
 
Jakarta             : 22  Februari 2007
Nomor              : SKGA-3/Khusus/1000 Surat /2007
Perihal              : 1000 Surat tentang Kondisi PT. Garuda  Indonesia.
 
Dengan hormat,
 
Pertama-tama ijinkan kami dari Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (SEKARGA) 
menyampaikan 1000 pucuk surat yang isinya tentang kondisi PT Garuda Indonesia 
saat ini. Menyusul sebelumnya, kami juga pernah menyampaikan kepada Bapak 
Presiden 100 pucuk surat yang kami antarkan langsung kekediaman Bapak di Cikeas 
pada tanggal 08 September 2006.
 
Perlu kami sampaikan bahwa dorongan untuk mengirim 100 dan 1000 pucuk surat 
perihal kondisi PT. Garuda Indonesia ini, disebabkan rasa keprihatinan terhadap 
kelangsungan FLAG CARRIER kebanggaan Bangsa yang sedang menuju kejurang 
kebangkrutan secara teksnis dari indikator-indikator sebagai berikut:
 
1.      Perusahan mengakumulasi kerugian usaha selama 3 (tiga) tahun 
berturut–turut yaitu USD 65.706.418 tahun 2004, USD 72.327.536 tahun 2005 dan 
USD 52.320.353 pada tahun 2006 dan kami tidak melihat adanya perubahan yang 
signifikan untuk mendorong posisi laba usaha dari Negatif ke Positif.   
2.      Pencapaian kinerja perusahaan saat ini sulit diukur, karena Rapat Umum 
Pemegang Saham (RUPS) untuk mensahkan Rencana Kerja & Anggaran Perusahaan 
(RKAP) 2006 tidak dilaksanakan dan RUPS untuk pertanggung jawaban tidak pernah 
dilaksanakan sejak tahun 2003.
3.      Ekuitas Perusahaan semakin menurun dari Rp 2.2 Triliun pada tahun 2003 
menjadi Rp 686 Milliar pada Nopember 2006.
4.      Kewajiban perusahan meningkat dari Rp 6.1 Triliun pada tahun 2003 
menjadi Rp.7.5 Triliun pada Nopember 2006 dan pada tahun 2005 PT. Garuda 
Indonesia tidak dapat membayar kewajiban kepada kreditor. 
5.      Untuk mempertahankan cash flow, manajemen menunda kewajiban pembayaran 
hutang usaha sehingga hutang usaha meningkat dari USD 50 Juta pada tahun 2003 
menjadi USD 170 Juta Nopember 2006.
6.      Kas pada akhir bulan menurun dari USD 40 - 50 juta pada tahun 2004 
menjadi USD 20 - 25 juta pada tahun 2006, yang setara dengan working capital 
hanya untuk 1 (satu) minggu saja.
7.      Pencapaian revenue perusahaan disamping ada upaya untuk mereposisi 
tarif juga sangat terbantu oleh penerapan fuel surcharge yang dilakukan semua 
operator penerbangan, termasuk adanya penjualan spare part pesawat senilai 
lebih dari USD 34 juta dan penjualan asset perusahaan. 
8.      Pencapaian Seat Load Factor (SLF) lebih diakibatkan hal-hal berikut:
a.      Penurunan jumlah pesawat produktif dari 61 pesawat pada tahun 2003 
menjadi hanya 49 pesawat pada saat ini. 
b.      Penurunan frekuensi terbang dari 94.495 pada tahun 2004 menjadi 78.843 
pada tahun 2006.
c.      Blessing in disguise karena sering terjadinya kecelakan pesawat pada 
maskapai penerbangan lain.
9.      Terjadi penurunan jumlah penumpang dari 9.824.135 pada tahun 2004, 
9.300.697 penumpang tahun 2005 dan 9.068.724 penumpang sampai Nopember 2006, 
PT. Garuda Indonesia jelas tidak ikut menikmati pertumbuhan pangsa pasar dari ± 
9 Juta penumpang pada tahun 2003 menjadi ± 30 Juta penumpang pada tahun 2005.
10.  Pada bulan September 2006 dan Nopember 2006 PT. Garuda Indonesia menarik 
hutang jangka panjang dari anak perusahaannya PT. Aerowisata, masing-masing 
sebesar Rp 36 Miliar. Adapun rencana manajemen PT. Garuda Indonesia untuk 
melepas saham di anak perusahaan, kami berpendapat ini adalah upaya untuk 
mengobral asset negara.
11.  Rencana manajemen untuk mencari strategic partner dalam konteks divestasi 
saham sudah dilakukan terhadap anak perusahaan dan terbukti tidak berhasil 
membuat PT Garuda Indonesia lebih baik. Sebagai contoh yaitu PT Garuda 
Indonesia bersama Lufthansa mendirikan Lufthansa System Indonesia yang berasal 
dari dilepasnya pusat sistem reservasi Garuda. Komposisi saham PT. Garuda 
Indonesia adalah 51% dan 49% modal dari LUFTHANSA tidak jelas berupa apa. Yang 
menyedihkan akhirnya PT. Garuda Indonesia harus menanggung tambahan beban biaya 
dari Rp 1.2 Miliar menjadi Rp 8.9 Miliar per bulan. Upaya mutilasi anak 
perusahaan terus berjalan dan kiranya perlu mendapat perhatian kita bersama.
12.  Anak perusahaan PT Garuda Indonesia tidak memberikan kontribusi bagi PT 
Garuda Indonesia dan cenderung jalan sendiri – sendiri  dan menjadi pesaing 
induknya walaupun komisaris anak Perusahaan tersebut diduduki oleh para Direksi 
PT Garuda Indonesia 
 
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, kami berpendapat bahwa opini yang dibentuk 
oleh manajemen PT. Garuda Indonesia selama ini lebih merupakan upaya 
menyembunyikan kegagalan pengelolaan perusahaan seperti diamanatkan UU no. 
19/2003, dimana BUMN seharusnya dikelola sesuai dengan azas-azas Good Corporate 
Governance yang pada akhirnya dapat memberi kontribusi positif pada negara.
 
Sebagai penutup, dapat pula kami sampaikan bahwa permasalahan tersebut diatas 
telah berulang kali disampaikan kepada MENEG BUMN namun tidak pernah 
ditanggapi. Kami memohon kiranya Bapak Presiden berkenan meminta MENEG BUMN 
untuk melaksanakan RUPS pertanggungjawaban sekaligus melakukan pergantian 
jajaran Direksi dan Komisaris PT. Garuda Indonesia. 
 
Demikian kami sampaikan, Atas perhatian dan perkenan Bapak Presiden, kami 
ucapkan terima kasih._
 
Hormat kami,
Serikat Karyawan
PT Garuda Indonesia
                    ttd                                                         
             ttd
                           AHMAD  IRFAN                                         
             S  A  L  I  M
                          Sekretaris Jenderal                                   
                Ketua Umum
 
Tembusan Yth. :
Bapak Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI
Bapak Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR RI
Bapak Agung Laksono, Ketua DPR RI
Bapak Ginandjar Kartasasmita, Ketua DPD RI
Bapak Drs. Achmad Muqowwam, Ketua Komisi V DPR RI
Bapak Prof. DR. Didiek J. Rachbini, Ketua Komisi VI DPR RI
Bapak Emir Moeis, Ketua Komisi XI DPR RI
Bapak Sugiharto, Menteri BUMN Republik Indonesia
Bapak Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Kabinet Republik Indonesia
Bapak Prof. DR. Boediono, Menteri Koordinator EKUIN Republik Indonesia
Ibu DR. Sri Mulyani, Menteri Keuangan Republik Indonesia 
Bapak Taufik Effendi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia
Bapak Syamsir Siregar, Kepala BIN Republik Indonesia
Bapak Taufiqurrachman Ruqi, Ketua KPK Republik Indonesia


       
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke