Kuda muda itu masih penuh semangat menyala dan sering mengarahkan dirinya pada kematian, kuda tua itu bisa menjaga nafas dan mengingat jalan pulang, dan menyimpan sedikit nafas untuk itu, sejumput tenaga untuk pulang. Mungkin anda pernah mendengar kalimat seperti itu dalam bentuk pepatah atau ujaran para bijak, sayangnya saya lupa, jadilah saya menuliskan saja apa yang saya pahami dari pepatah itu atau dari kisah yang pernah saya baca dan berkaitan dengan pemahaman yang saya tuliskan itu, kalau tidak salah dalam salah satu kisah Tiga Negara - Sam kok. Mungkin dalam benak anda saya ingin menganalogikannya dengan pertentangan antara generasi muda dengan generasi tua, anak muda dengan orang tua, dan memang itulah interpretasi simple, sederhana akan ujaran itu. Tapi bukan itu yang ingin saya obrolkan hari ini, walaupun memang secara umum memang usia muda itu memberikan banyak kekuatan dan kegesitan gerak yang memang tidak di miliki lagi oleh orang-orang yang beranjak tua, sedangkan orang tua itu lebih umum dilihat sebagai orang yang lambat, berpikir terlalu lama dan bahkan seringkali membiarkan masalah itu terselesaikan tanpa campur tangannya, dan ini tentu bukan favorit pilihan anak muda. Saya jadi teringat dan mau menuliskan ini karena salah seorang sahabat lama saya meminta pandangan saya atas anaknya yang katanya rajin dan suka menulis, sahabat ini meminta pandangan saya akan tulisan anaknya, dan lalu saya pun melihat profilenya dan membaca sekilas tulisannya si anak muda ini. Masih enam belas tahun umurnya, tapi imajinasinya sudah ke mana-mana, menulis dengan gaya imaginatif populer, dan tokoh sentralnya itu seorang pengacara, heheheheh, ya, dengan bahasa yang agak sedikit campur aduk antara terjemahan dan logika anak muda yang vulgar, runutan cerita bersambung si anak ini dibangun dengan lumayan menarik, walaupun saya berkomentar ke si teman ini, menyarankan agar si anak itu lebih rajin membaca dan membaca lagi, karena sepetinya banyak logika cerita si anaknya itu yang bolong-bolong dan terlalu mengawang-awang, ya, mungkin itu karena sifat si anak yang terlalu idealis, dan merasa dunia sudah di tangan alias merasa diri sangat cerdas. Mungkin si anak ini memang cukup cerdas, namun, kalau dalam usia muda, rasa diri yang cerdas ini kadang bisa mematikan daripada berguna, hehehehe. Si sahabat itu mengiakan dan memang seringkali merasa kewalahan dengan sifat dan pembawaan si anak yang sok idealisme, tapi konyol, dan saya cuma berpesan agar dia sering-sering mengingatkan si anaknya itu, supaya tidak terlalu merusak diri dan bermimpi akan dunia yang ideal, adil buat semua. Sebetulnya semua manusia di dunia ini tetap saja memimpikan kehidupan yang ideal, adil dan damai serta makmur buat semua, hanya memang cara memanifestasikan, cara memvisualisasikan impian ini lah yang menunjukkan siapa, apa dan bagaimana seseorang itu dan sampai di mana kematangan dirinya, kematangan batinnya. Secara ideal, kematangan fisikal, kematangan pemikiran dan kematangan batin itu akan sejalanan dan ketiganya membentuk kematangan diri seseorang, hanya seringkali memang kematangan fisikal ini tidak sepenuhnya selaras dengan kematangan pemikiran seseorang dan tentu saja tidak selaras dengan kematangan batinnya, dan lalu kematangan dirinya itu jadi agak pincang. Secara faktual, kita banyak menemukan orang-orang yang matang secara fisik, namun secara pemikiran masih belum sepenuhnya selaras dengan fisiknya itu, apa lagi secara batin. Banyak juga yang secara fisik dan pemikiran itu cukup matang namun secara batin seseorang itu tidak berkembang. Ini agak jarang karena perkembanangan pemikiran itu selalu mendorong perkembangan batin seseorang, dan umumnya yang perkembangan pemikirannya itu tidak selaras dengan perkembangan batinnya adalah orang-orang yang salah memahami batin, salah memahami ajaran spiritual atau yang sama sekali menolak akan adanya batin atau spiritual itu, orang yang menutup diri akan hal-hal yang berhubungan dengan spiritual, batin, walaupun bisa saja orang-orang semacam ini masih berminat pada hal-hal yang bersifat filsafatis, namun mereka selalu mengarahkan pemahamannya pada keintelektulitasannya atau pada pemikirannya yang tidak berkaitan dengan intuisi, spiritual, lebih pada logika semata. Apapun itu namun saya masih menganggap orang-orang yang matang secara pemikiran dan tidak secara batin itu masih dalam kategori orang yang telah tua atau matang secara batin dan yang hanya matang secara fisik semata saja yang bisa dikategorikan sebagai kuda muda. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kuda muda ini bisa saja telah berumur 40 - 50 tahun, bahkan cukup banyak yang telah mendekati umur enam puluh tahun atau telah melewat umur itu dan sayangnya merek masih belum bisa mengembangkan pemikirannya untuk bisa selaras dengan umurnya, dan itu umum sekali sifatnya yang tidak umum justru orang-orang yang kematangan pemikirannya, batinnya itu telah menjadi jauh di atas umur fisikalnya atau kuda tua secara esensi, secara batin. Sebetulnya, kematangan pemikiran dan batin itu bisa diasah, bisa di latih, dan salah satu faktor pelatih atau pengasahnya itu adalah lingkungan pemikiran di mana kita berinteraksi, dan ini bisa dimulai dari kecil, dari bayi, balita bahkan, hanya memang anak-anak yang dari kecil telah memperoleh percepatan pemikiran dan pemahaman batin ini, seringkali menjadi agak frustasi, terutama sekali ketika menemukan fakta bahwa dunia di sekitarnya bergerak lebih lambat (secara pemikiran dan batin), sementara dirinya telah berada jauh di depan para sahabat di usianya. Inilah yang perlu dijaga dengan baik, dimanage dengan baik, agar si anak-anak ini tidak menjadi kuda muda lagi dengan cara merusak diri dan lepas kendali,ya jadi kuda lepas dong.... 160407
Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED] http://www.friendster.com/isutjipto http://groups.yahoo.com/group/irwan_sutjipto/ http://www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=gdis&fid=303848 --------------------------------- Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? Check outnew cars at Yahoo! Autos.
