Itulah masalahnya Bu Muslim, dalam pemerintahan ini tidak ada yg berani
mengajukannya ke pengadilan yang jurdil. Yg ada malah "gugatan perdata". Memang
ini bukti lagi bahwa kita belum punya negara hukum, yang ada hanya supremasi
uang money politics untuk
menggunakan kekuasaan negara secara semaunya, terutama untuk lagi-lagi
menghasilkan uang. Inilah lingkaran setan ketika tanpa ada yang dapat membatasi
atau menghilangkan dijalankan praktik kekuasaan negara oleh "penguasa
pengusaha".
Dalam sikon begini kita hanya dapat membaca semua yang telah ditulis tentang
hal ini, oleh siapa saja, terserah sudut pandangnya. Kalau bisa kita terutama
harus memakai akal sehat. Namun budaya semifeodal dilubuk hati bangsa kita
membuat kebanyakan kita takut
untuk berbuat sesuatu dan terus pasrah saja pada yang berkuasa. keadaan ini
akan membuat bangsa kita lebih tertinggal lagi oleh bangsa-bangsa dikawasan
kita yang jelas
sanggup berpikir jauh lebih logis.
Kelompok intelektual yang seharusnya menjadi sumber pematangan hati nurani
kebanyakan dihasilkan Orba sehingga tidak banyak beda persepsinya dengan Orba
dan Orba terkini. Kita tidak melihat disini para cerdik pandai yang berani
dengan komitmennya yang pro kemanusiaan, jarang yang punya empati dengan
lapisan yang tertekan dan termarjinalkan.
Banyak yg memang sejak Orba hanya menjadi pembantu penguasa (pemberi nafkah)
untuk memproduksikan segala argumentasi untuk penguasa yang memihak perusahaan
multinasional, untuk justifikasi pemerintah yang jadi beban untuk bangsa. Jadi
menurut hemat saya sikon ini juga disebabkan oleh para intelektual kita, yang
banyak sejak awal Orba dulu sudah bersikap koruptif karena ikut
bertanggungjawab atas tumbuh dan jayanya rejim yang kosong dengan hati nurani
humanisme yang harusnya bersifat universal. Maaf atas curhat saya ini Bu Muslim,
Y Rakhmat
Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Untuk bisa melihat sosok Suharto secara lengkap, maka dia harus lebih
dulu ditangkap dan diadili sehigga kita bisa bersama menyaksikan
dengan netral sosok Suharto yang sebenarnya.
Kalo Suharto tidak ditangkap dan diadili lebih dulu, bagaimana mungkin
kita mengenal sosok Suharto yang sebenarnya???
Ny. Muslim binti Muskitawati.
--- In [email protected], Y Rakhmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tepat sekali sosok tsb harus dilihat secara lengkap, tidak hanya
"lebih" lengkap.
>
> Dalam penulisan buku sekait Jerman di bawah Adolf Hitler dulu
dalam bagian
> tentang kehidupan pribadinya sering ditulis Hitler sebagai pemikir
perenung, konsisten menuju ke ambisi menjadi pemimpin bangsanya yang
akan menaklukan Eropa, sangat mencintai kekasihnya, selalu menciumi
bayi dan anak kecil di rapat umum, sangat peduli pada kesenian, dengan
memutar mesin industri persiapan perang berhasil melenyapkan
pengangguran. Hitler bersama pimpinan Italia dan Jepang menyebabkan
kematian berpuluh juta manusia dalam PD II.
>
> Para sejarawan yang menulis demikian menghidangkan histori
yanglengkap, tidak hanya memperbaiki citra pudar seorang sosok dimata
makin banyak warga Indonesia seperti yang menurut berita-berita
terkini dilakukan oleh penulis buku terkait, sesuai dengan permintaan
ayahnya, yang dikenal sebagai politikus yang sangat kompatibel untuk
semua rejim.
>
> Khas untuk bangsa kita bahwa masih sangat sedikit sejarawan yang
bernyali menulis tentang sosok terkait secara betul-betul tuntas. Atau
malah belum ada. Dr Asvi Adam Warman tentunya sangat merasa kesepian
dalam kelestarian alunan mainstream sebagai anakronisme semifeodal
peninggalan "Bapak Pembangunan" dengan akibat kekinian Indonesia
sebagai negara paling amburadul di Asia Tenggara dan kemiskinan rakyat
yang terus meluas!
>
> Y Rakhmat
>
>
> Yap Hong Gie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://kompas.com/
>
> Jumat, 13 April 2007
> Peluncuran Buku
> Sosok Soeharto Harus Dilihat secara Lebih Lengkap
>
> Singapura, Kompas - Penilaian terhadap mantan Presiden Soeharto
tidak bisa
> hanya dilihat dari fase terakhir kepemimpinannya. Apalagi, faktanya,
> sumbangsih Soeharto terhadap dunia dan kawasan sangat besar.
>
> Penilaian tersebut terungkap pada acara bedah buku Soeharto, The
Life and
> Legacy Indonesia Second's President karya Retnowati Abdulgani-Knapp yang
> diselenggarakan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan
penerbit
> Marshall-Cavendish di Singapura, Kamis (12/4).
>
> K Kesavapany dari ISEAS menjelaskan, stabilitas dan kemakmuran yang
> dirasakan masyarakat Asia Tenggara sekarang ini tidak terlepas dari
peranan
> Soeharto. "Ia merupakan tokoh yang sangat penting untuk menjadikan Asia
> Tenggara seperti sekarang," kata Kesavapany.
>
> Mantan Dubes Singapura untuk Indonesia, Barry Desker, membenarkan
> penilaian tersebut. Ia masih ingat bagaimana sikap yang ditempuh
Soeharto
> ketika Singapura mengizinkan wilayahnya dijadikan pangkalan militer
AS untuk
> menggantikan Subic dan Clark, Filipina. Juga ketika Inggris dan
Australia
> ingin menerapkan "Rute Kanguru", di mana kedua negara itu bersepakat
untuk
> tidak menjadikan Singapura sebagai tempat transit.
>
> "Hal yang paling tidak pernah dilupakan Singapura adalah saat Indonesia
> mengalami krisis beras di tahun 1965 dan meminjam dari Singapura
10.000 ton.
> Ketika harga beras naik dan Singapura memutuskan agar Indonesia tak usah
> menggantinya, Soeharto tetap memutuskan menggantinya, bahkan dengan
kualitas
> yang lebih baik. Bagi Singapura, Soeharto adalah orang yang bisa
dipercaya,"
> tutur Desker.
>
> Ia tidak menutup mata bahwa pada menjelang akhir masa jabatannya muncul
> kesan Soeharto yang korup, yang melanggar hak asasi manusia, dan
> antidemokrasi. Namun, akhir-akhir ini, terutama ketika Soeharto sakit,
> terlihat begitu banyak pejabat Indonesia yang menjenguknya.
>
> "Menjadi pertanyaan, apakah Soeharto itu buruk dan semua legacy-nya
negatif?
> Saya kira kalau dilihat dari perspektif bangsa- bangsa Asia Tenggara ia
> adalah tokoh yang pantas dihormati," ujar Desker.
>
> Retnowati menjelaskan, buku yang ditulisnya sengaja dibuat dalam bahasa
> Inggris agar masyarakat dunia mengetahui sejarah Indonesia. Selama
ini ia
> melihat kebanyakan buku-buku tentang Indonesia hanya berbicara
kepentingan
> dalam negeri saja.
>
> "Saya pribadi juga ingin membuat buku yang kualitasnya buku
internasional.
> Setelah ini tentunya saya mengharapkan buku ini bisa diterbitkan dalam
> bahasa Indonesia," ujar Retnowati.
>
> Pahami kultur Jawa
>
> Mantan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono memuji buku
> yang ditulis Retnowati karena bisa mengangkat tokoh yang masih menjadi
> kontroversi di Indonesia dalam perspektif yang tepat. Penulis bisa
memahami
> nilai, tradisi, dan kultur Jawa secara tepat sehingga pesan yang ingin
> disampaikan dalam buku itu bisa sesuai dengan apa yang ingin
disampaikan.
>
> Soedradjad menilai, bagian dari buku ini yang mengangkat masalah yayasan
> memberikan informasi yang sangat baik. Di sana bisa dipahami mengenai
> Presiden Soeharto mengapa sampai membuat yayasan dan apa yang ia
inginkan
> dengan yayasan yang dibentuknya itu.
>
> "Tampak sekali Presiden Soeharto tidak merasa puas dengan kinerja dari
> institusi formal yang ada. Dengan hadirnya yayasan maka program yang
> diinginkan, baik untuk membantu pendidikan, mengentaskan kemiskinan,
> maupun kesehatan bisa berjalan lebih cepat," kata Soedradjad.
>
> Memang kebijakan itu membawa masalah terhadap institusi resmi dan juga
> terhadap soal transparansi maupun akuntabilitas dari penggunaan dananya.
> Namun kalau kita ingin menilai kebijakan tersebut, menurut Soedradjad,
> kita harus melihatnya secara lebih lengkap. (tom)
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
> Check outnew cars at Yahoo! Autos.
>
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.