Tajam, informatif, dan membuka mata, The Hidden Face of Iran memperdalam pemahaman tentang Timur Tengah. Terence Ward, seorang berkebangsaan Amerika lahir di Boulden, Colorado, 1955. Dia menghabiskan masa kecilnya hingga berangkat remaja di Iran. Terence bersama keluarganya menetap di sana ketika negeri itu dipimpin oleh Syah Reza Pahlevi. Keluarga Ward kembali ke Amerika pada 1969. Selama tinggal di negara itu, keluarga Terence dilayani oleh pasangan suami istri, Hassan Ghasemi dan Fatimeh. Hassan bagaikan Bapak Persia bagi anak-anak Ward, Terence bersaudara. Ia menjadi pemandu budaya, pendongeng, sekaligus koki mereka.
Hassan sering menceritakan kisah jenaka Nasrudin Khoja, syair-syair dari maulana Rumi, Saadi, dan Hafez, juga kisah 1001 malam yang terkenal itu. Kenangan indah selama di Iran itulah yang membuat mereka ingin kembali ke Negeri Mullah tersebut. Petualangan pun dimulai, selang 30 tahun setelah meninggalkan Iran. Keluarga Ward kembali ke negeri itu, menjelajahi sudut-sudut negeri, mencari seseorang bernama Hassan. Tanpa alamat yang jelas, mereka hanya bermodalkan selembar foto tua yang dicetak pada 1963. Ibarat nama Bambang di Indonesia, mencari orang bernama Hassan di negeri itu jelas bukan perkara gampang. Di Iran, sangat mungkin ada dua juta orang bernama Hassan. Tapi, Mrs Donna Ward , ibu Terence Ward, sangat yakin akan menemukan Hassan dan keluarganya, orang yang menanamkan kenangan indah di dalam lubuk hati mereka tentang Iran. Terence tidak sekadar melakukan pencarian. Dia pun menuangkan catatan perjalanan bersama keluarganya itu dalam mencari keluarga Hassan. Catatan itu ditulis dalam buku The Hidden Face of Iran, Catatan Perjalanan Warga Amerika Serikat Menembus Jantung Negeri Iran. Catatan itu seakan membawa pembacanya melintasi dataran negeri kaya minyak tersebut. Ward menggali masa lalu yang kaya dan tak pernah terbayangkan dari negara ini, menjelajahi akar konflik yang tak kunjung lekang antara Iran dan negara-negara Arab tetangganya. Juga mengantisipasi “perburuan besar” yang sedang berlangsung di Asia Tengah. Tajam, informatif, dan membuka mata, The Hidden Face of Iran memperdalam pemahaman pembacanya tentang Timur Tengah, dengan kisah sebuah keluarga yang mencintai dan mengagumi Iran melalui kasih sayang mendalam para penduduknya. “Sebuah memoar dahsyat yang membawa kita ke dalamnya kebudayaan dan tradisi Iran. Gaya bercerita yang gamblang dan kekayaan informasinya begitu menawan. Sebuah perjalanan yang patut dikenang,“ tulis Library Journal tentang buku tersebut. Joe Klein, kontributor The New York Times, menulis, “Buku ini begitu menawan. Sebagian memoar, sebagian perjalanan keluarga, namun yang paling penting adalah sebuah apresiasi yang bijaksana dan indah terhadap salah satu kebudayaan terbesar di dunia. Terence Ward mengenal Iran dan mencintainya dengan cara yang dapat digunakan untuk menjelaskan keadaan politik pada masa ini. Dia menunjukkan jalan bagi kita, melalui pandangan dan kepekaannya, menuju persatuan antara dua bangsa besar---Iran dan Amerika Serikat---yang mungkin akan segera terwujud.” The Hidden Face of Iran telah diterbitkan dalam tujuh bahasa, termasuk versi bahasa Indonesia. Buku versi terakhir, dicetak setebal 579 halaman. Akhir bulan lalu, sejumlah diskusi membedah buku itu diadakan. Selain di Jakarta, kegiatan serupa juga diselenggarakan di Bandung. Kegiatan menjadi menarik dengan kehadiran sang penulis buku. Terence Ward meluangkan waktu hadir di sela kegiatannya sebagai konsultan lintas budaya yang memberikan nasihat bagi berbagai perusahaan dan pemerintah di dunia Islam dan di Barat. Terence tak hanya berbicara soal bukunya, tapi juga hal lain yang berhubungan dengan Iran. Di Bloc FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (29/3) pekan lalu, misalnya. Tempat duduk yang tersedia penuh terisi, bahkan banyak yang harus duduk di sebelah samping tempat acara, karena tidak kebagian tempat duduk. Selain Terence, pembicara lain di kampus UI itu adalah Dr. Muhsin Labib MA (penulis, dosen dan analis Timur Tengah) dan Broto Wardoyo SSos MA (Dosen Kajian Timur Tengah FISIP UI). Tanya jawab dengan Terence tak kalah menariknya, mulai dari menanyakan agama Terence, konflik antar pengikut mazhab Suni dan Syiah, sampai masalah nuklir Iran. Mengenai nuklir Iran, Terence Ward, yang juga ahli dalam bidang kajian Timur Tengah, mengatakan, Iran baru akan mempunyai senjata nuklir sekitar 10 tahun lagi dan itu pun baru sebuah senjata. Saat ini negara-negara tetangga Iran, seperti Israel, telah memliki 200 senjata berhulu ledak nuklir, sedangkan India memiliki 50, dan Pakistan 30 senjata nuklir. Maka, merupakan hal yang tidak relevan untuk menjadikan isu nuklir Iran menjadi agenda peperangan. Terence sangat menyayangkan konflik Suni-Syiah yang terjadi di Irak. Ia mengetahui bahwa kedua mazhab dalam Islam ini sudah hidup berdampingan dengan damai selama ratusan tahun di negara-negara Arab. Menurut Terence, kita perlu mewaspadai pihak-pihak yang dapat mengambil keuntungan dari terjadinya konflik semacam itu. Ketika ditanya agama yang dianutnya, Terence menjawab bahwa dia dilahirkan dalam agama Katolik, dan sekarang sedang mendalami tasawuf (mistik Islam). __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
