http://www.indomedia.com/bpost/042007/16/opini/opini1.htm

Menjadi Keledai Dungu

Kekuasaan menjadi senjata utama untuk menunjukkan kepada orang lain, bahwa apa 
pun bisa dilakukan ketika ia tergenggam di tangan.

Oleh: Budi Kurniawan
Alumnus Ilmu Pemerintahan FISIP Unlam

"Masa Depan Ilmu Pemerintahan Suram!" Tema ini menjadi headline di sebuah 
buletin mahasiswa --kemudian berubah menjadi tabloid mahasiswa-- di Fakultas 
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), 
Banjarmasin, pada awal 1990-an.

Kala itu alumnus Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) yang telah bekerja di 
pemerintah kabupaten dan provinsi di Kalsel dan Kalteng ditugasbelajarkan ke 
FISIP Unlam, untuk meraih gelar sarjana (S1). 

Masuknya alumnus APDN ini, karena ada semacam kerjasama antara FISIP Unlam dan 
pemerintah lokal. Banyak kalangan ketika itu menganggap masuknya alumnus APDN 
ke FISIP, menjadikan masa depan mahasiswa reguler Ilmu Pemerintahan suram. 
Karena, formasi menjadi pegawai negeri tertutup sudah. Pemerintah tentu lebih 
memprioritaskan alumnus APDN itu untuk menduduki berbagai posisi daripada 
mahasiswa Ilmu Pemerintahan reguler yang bergelar sama. 

Benar tidaknya tesis ini, mungkin bisa diperdebatkan. Tetapi kenyataan yang 
terjadi pada 1990-an itu, formasi untuk alumnus Ilmu Pemerintahan reguler 
memang tak tersedia. Ini berlangsung bukan dalam satu dua tahun, tapi terjadi 
lebih dari lima tahun. 

Kondisi ini kemudian 'memaksa' alumnus reguler kreatif menyiasati hidup. 
Menjadi pegawai negeri tidak mungkin lagi, alumnus reguler pun 'terpaksa' dan 
'tercebur' pada pekerjaan yang jauh sama sekali dari disiplin ilmu yang mereka 
pelajari. Sebagian besar memang berhasil menyiasati hidup. Sebagian lainnya, 
karena keadaan hanya bisa menjadi 'penonton' dan menerapkan Ilmu Pemerintahan 
yang dipelajarinya semasa kuliah di bidang yang jauh dari khittahnya.

Untungnya, kondisi dan persepsi demikian tidak membuat persaudaraan antara 
alumnus APDN dan mahasiswa reguler lainnya tercabik. Komunikasi yang baik, 
perasaan senasib, sikap terbuka, saling melindungi dan mencintai lembaga, 
membuat konflik tidak terjadi. Semua bisa berlangsung dalam tensi yang baik, 
hingga kontrak antara FISIP Unlam dan pemerintah lokal berakhir.

***

Bertahun-tahun kemudian, wacana tentang Ilmu Pemerintahan ini kembali 
mengemuka. Tewasnya praja Cliff Muntu yang diduga akibat penganiyaan oleh 
seniornya di Institut Ilmu Pemerintahan (IPDN) menjadi pemicunya. Berbagai 
komentar, tanggapan juga tindakan tegas dilakukan berbagai kalangan. Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono pun mengambil tindakan relatif tegas, dengan 
membekukan sementara kegiatan praja dan menangguhkan penerimaan praja baru 
hingga proses perbaikan komprehensif dilakukan di IPDN.

Hanya saja keputusan dan tindakan presiden sesungguhnya belum menyentuh 
persoalan mendasar. Keputusannya --juga keputusan lainnya-- selalu saja reaktif 
dan partial. Karena apa yang terjadi di IPDN hari ini bukan sekadar tindakan 
kriminal. Tapi juga tindakan biadab dan barbarian. Agak sulit rasanya menerima 
logika, ketika kebiadaban terjadi di sebuah lembaga pendidikan yang mencetak 
birokrat, yang ketika lulus akan mengatur semua denyut hidup kita. Parahnya, 
peristiwa yang menimpa Cliff bukan sekali ini saja terjadi. Beberapa tahun lalu 
hal yang sama juga terjadi. Kata orang, hanya keledai yang jatuh dua kali di 
lubang yang sama. Itu terjadi pada keledai karena kedunguannnya. 

Di sela pesimistis menghadapi kedunguan ini sebuah usulan yang relatif moderat 
muncul, yaitu membubarkan IPDN lalu menyalurkan mahasiswanya ke jurusan Ilmu 
Pemerintahan yang ada di hampir semua perguruan tinggi negeri maupun swasta di 
seluruh Indonesia. Dengan cara ini, proses komunikasi juga asimilasi dan 
perubahan cara berpikir dari pola militerisme, barbarian dan merasa paling 
kuasa bisa berubah. 

Karena di kampus yang relatif terbuka, tidak eksklusif, agak berpikir civilian, 
dengan pengawasan yang build in dalam diri masing-masing, paling tidak prilaku 
barbarian ini bisa diminimalisasi. Menjadi 'keledai dungu' bisa dihindari.

***

Cermin bening dari peristiwa di IPDN yang menewaskan Cliff Muntu, adalah betapa 
sebuah kekuasaan yang tergenggam di tangan bisa membuat orang yang memegangnya 
lupa pada hakikat kekuasaan sesungguhnya. Kekuasaan menjadi dewa, bahkan 
'Tuhan' baru. Dengan kekuasaan yang tergenggam di tangan, orang yakin bisa 
melakukan apa pun, termasuk memukuli adik angkatannya dengan alasan yang tidak 
masuk akal sekalipun.

Kekuasaan menjadi senjata utama untuk menunjukkan kepada orang lain, bahwa apa 
pun bisa dilakukan ketika ia tergenggam di tangan. Jadi jangan heran ketika 
alasan 'ia anak baik, ia tidak pernah memukul, ia tidak pernah marah, ia tidak 
akan melakukan itu, ia bukan ini, ia bukan itu', menjadi tak bermakna ketika 
kekuasaan merasuki seseorang. Pemerintahan saja bisa jadi barbarian, ketika 
kekuasaan menjadi 'Tuhan'.

Parahnya, negeri ini terbangun oleh dan dari mereka yang merasa menjadi 'Tuhan' 
ketika memegang kekuasaan. Mereka menentukan nasib orang yang rumah dan 
hidupnya terbenam lumpur, atau menentukan bonyok tidaknya orang ingin 
mengibarkan panji partai yang dianggap membawa ajaran komunis. 

Kekuasaan --juga kekerasan-- menjelma menjadi solusi efektif untuk mewujudkan 
keinginan. Logika dan ilmu pengetahuan disingkirkan, karena kalah sakti dengan 
kekerasan dan kekuasaan. Adakah otot lebih kuat dari otak di hari-hari ini? 

e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke