Selasa, 17/04/2007
Kebijakan utang pemerintah menuai kritik

JAKARTA: Sejumlah kalangan mengkritik keras keputusan pemerintah meraih
sebanyak-banyaknya sumber pembiayaan melalui mekanisme utang kepada
lembaga-lembaga donor untuk menjalankan program pengentasan kemiskinan.

Mereka juga menyayangkan kenapa pemerintah sejak awal tidak terbuka dan
transparan jika dari total Rp51 triliun biaya program pengentasan kemiskinan
terintegrasi seperti dipatok APBN 2007, 70%-nya ternyata berasal dari utang
milik lembaga donor.

Presiden Direktur Indef Fadhil Hassan menyatakan fakta tersebut kembali
memaksa publik untuk mengingat bahwa dua pekan sebelum Presiden membubarkan
Consultative Group for Indonesia, pemerintah telah menekan satu perjanjian
utang terbesar dengan Bank Dunia.

"Jumlah-nya berapa, di deal itu kita belum tahu. Yang saya tahu, itu loan
terbesar yang pernah kita teken dengan Bank Dunia. Dan loan itu untuk proyek
pengentasan kemiskinan yang terintegrasi," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Belum ada pernyataan resmi dari Bank Dunia terkait informasi ini. termasuk
berapa persisnya besaran utang-utang proyek yang diberikan lembaga pimpinan
Paul Wolfowitz tersebut untuk membiayai program pengentasan kemiskinan di
Indonesia.

Pernyataan menyangkut 70% biaya program pengentasan kemiskinan 2007 berasal
dari utang lembaga donor, yaitu Bank Dunia yang terbesar dan Jepang, datang
dari Sekretaris Menneg PPN/ Kepala Badan Perencanaan Nasional Syahrian
Loetan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Yuyun Harmono, Outreach Koalisi Anti Utang (KAU), juga menolak atas rencana
pemerintah untuk membiayai defisit anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2007 melalui mekanisme pinjaman luar
negeri.

Anggota Komisi XI DPR Dradjad H. Wibowo (F-PAN) menyatakan Departemen
Keuangan dan Bappenas belum pernah mengajak DPR membahas anggaran kemiskinan
yang sumber pembiayaannya berasal dari utang.

"Yang sampai ke Komisi XI jumlah agregatnya saja. Malah pernah Depkeu
menyerahkan satu halaman saja yang berisi nama proyek, nilai utang dan
kementerian-lembaganya. Bayangkan, hanya satu halaman penjelasan untuk utang
senilai US$1 miliar lebih," katanya.

Pada kesempatan lain, Menko Perekonomian Boediono yang ditanya pers mengenai
anggaran kemiskinan yang 70%-nya berasal dari utang mengakui utang tersebut
memang masih dipakai untuk tahun anggaran 2007.

"Tapi itu hanya tahun ini, tahun depan mungkin akan kita tingkatkan dan
mungkin memakai dana kita lebih banyak lagi, tapi ini kan kombinasi [biaya
dari utang dan dari dalam negeri]. Tahun ini mungkin masih gunakan dana dari
proyek," katanya.

Boediono mengatakan pemerintah menginginkan agar pembiayaan program
pengentasan kemiskinan lebih banyak berasal dari dalam negeri. Jadi tahun
depan, meski tak menyebut detail, dia menjamin porsi utang untuk kemiskinan
akan lebih sedikit. (Diena Lestari)

Oleh *Bastanul Siregar*

Bisnis Indonesia

http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/ekonomi-makro/1id1629.html


--
Yuyun Harmono
Outreach Koalisi Anti Utang (KAU)/Anti Debt Coalition Indonesia
Jl. Tegal Parang Utara No.14 Jakarta Selatan 12790 Indonesia
Telp. 021-79193363,Fax. 021-7941673,
Hp. 081807867506
website : www.kau.or.id
blog : antiutang.wordpress.com

Kirim email ke