Mengharap Kehadiran Rekan-rekan Wartawan

Pada:

Hari   : Minggu, 22 April 2007
Pukul  : 08.00 sampai 12.00
Tempat : Dusun Dasilan, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta.


Festival Anak "Global Friendships: Together We Can Save The Earth"

Tanggal 22 nanti akan ada Festival Anak Global Friendships: Together
We Can Save The Earth. Festival ini dipakai untuk memperingati Hari
Bumi sekaligus penyerahan bantuan dari murid-murid Institute Le Rosey,
Swiss, untuk anak-anak di tiga dusun korban gempa 27 Mei lalu. Bantuan
diserahkan melalui Borneo Tropical Rainforest Foundation kepada Dusun
Dasilan, Pundong, Bantul, Dusun Giriloyo, Imogiri, Bantul, dan Dusun
Gunung Manuk, Patuk, Gunungkidul. Bantuan berupa alat-alat sekolah,
buku, dan permainan. "Bantuan ini merupkan wujud kepedulian dari
siswa-siswa Institut Le Rosey. Murid-murid ini mengumpulkan sumbangan
dari uang sakunya saat mengetahui ada anak-anak di belahan dunia lain
yang menderita akibat gempa bumi," ujar Cindy Wulandari, Ketua Panitia
Festival. 
Penyerahan bantuan berupa peralatan sekolah ini diadakan bertepatan
dengan pembukaan  sanggar belajar anak di Dusun Giriloyo. Sanggar yang
dilengkapi dengan perpustakan ini akan menjadi pusat kegiatan belajar
dan bermain anak. Mulai dari belajar berkebun, pendaur-ulangan barang,
belajar bersama, hingga Taman Pendidikan Al-Qur'an.   
Festival ini berusaha menyadarkan anak dan orangtua untuk menjaga
lingkungan. Seperti dengan pemutaran film-film bertema lingkungan.
Acara ini juga diisi dengan sarasehan dan dialog warga mengenai
pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.  Diskusi ini mengangkat
tema penanggulangan pemanasan global di lingkup masyarakat petani
melalui pendidikan anak.
Acara ini bertujuan memperkaya pengalaman dan pengetahuan anak-anak
korban gempa melalui kegiatan-kegiatan pendidikan alternatif. 
Terdapat permainan-permainan tradisional yang memerlukan banyak orang
untuk memainkannya. "Permainan kelompok seperti dakon, gobak sodor,
dakon, dan bakiak sengaja kami pilih untuk melatih kebersamaan.
Permainan tadi membutuhkan beberapa orang, ini supaya anak-anak tidak
individualis," tutur Yanet Paulina, penanggung jawab acara.
Pemilihan permainan tradisional seperti egrang batok, bakiak, lompat
karet, dakon, bekel juga bertujua untuk melestarikan permainan
tradisional. "Selama ini permainan tradisional kalah oleh permainan
plastik. Sudah sulit mencari permainan ini. Kemarin untuk
mendapatkannya, panitia membutuhkan waktu berjam-jam untuk
mengubek-ubek pasar tradisional," tambah Yanet. Selain itu juga ada
panggung boneka,  dongeng untuk anak, dan mewarnai gambar.
Festival ini menjadi bagian dari pendampingan Lingkar terhadap anak
korban gempa. Sejak Mei lalu, Lingkar mendampingi anak korban gempa
untuk mempercepat pemulihan trauma psikologis melalui permainan
edukatif, outbound training, pendampingan keagamaan, sampai kegiatan
kesenian. Melalui permainan-permainan ini, Lingkar juga menyelipkan
materi-materi mitigasi bencana dan pendidikan lingkungan.
   
kontak Person; Cindy: 08157762100




Kirim email ke