Saya setuju dengan Anda Pak Doyo. Kita boleh berpendapat tentang sesuatu, 
tetapi senantiasa ada baiknya jika pendapat itu didukung pengetahuan atau 
informasi yang cukup dan akurat. Jika tidak dikhawatirkan pendapat pribadi itu 
diidentikkan dengan kebenaran, padahal dalam kenyataannya kebenaran tersebut 
berbeda dari yang kita bayangkan. Ini bagian dari proses pembelajaran diri. 

Mengenai mengubah negative thinking menjadi positive thinking, ini saya juga 
setuju. Yang penting, positive thinking itu pun tak boleh didasari oleh info 
yang keliru atau bias yang menyesatkan. Di atas sikap negative atau positive 
thinking, yang lebih penting adalah kebenaran. 

Negative thinking tanpa didasari kebenaran adalah kedangkalan, sedangkan 
positive thinking tanpa disertai kebenaran adalah penyesatan.

manneke



-----Original Message-----

> Date: Mon Apr 16 23:14:43 PDT 2007
> From: "Adijoyo Adidoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [mediacare] Re: Ibu Kartini , "Negative Thinking" kontra "Positive 
> Thinking"
> To: [email protected]
>
> Pak Manneke,
> 
> Memang kebudayaan mendengar & membaca masih harus terus didorong agar 
> terus berkembang. Termasuk sayapun masih lemah dan saat ini terus 
> berjuang utk mau belajar mendengar & membaca.
> 
> Juga budaya "Negative Thinking" masih harus kita dorong menjadi 
> budaya "Positive Thinking"
> 
> Bagaimana menurut Pak Manneke.
> 
> salam
> Doyo
> 
> --- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > 
> > Ini memperlihatkan bahwa Anda tak pernah betul-betul membaca surat-
> surat Kartini. Dalam surat-surat buat sahabat-sahabatnya, jelas 
> sekali sikap Kartini: ia bahkan lebih suka tidak menikah daripada 
> menjalani poligami. 
> > 
> > Kesediaannya untuk diperistri oleh seorang duda lebih karena 
> tekanan ayahnya. Kecintaan Kartini kepada ayahnya yang sakit-
> sakitanlah yang memaksa dia untuk akhirnya menuruti kemauan ayahnya. 
> Ini dinyatakan jelas baik kepada Ny. Rosa Abendanon maupun Stella 
> Zeehandelaar.
> > 
> > Namun, keinginan Kartini yang sesungguhnya adalah menempuh 
> pendidikan lebih tinggi dan membuka sekolah bagi wanita Jawa agar 
> mereka menjadi terdidik dan terbebas dari belenggu poligami. Coba 
> baca surat-suratnya kepada sahabat penanya di Belanda, Stella 
> Zeehandelar. Ini dinyatakan secara sangat eksplisit.
> > 
> > manneke
> > 
> 
>

Kirim email ke