Refleksi: Sebenarnya bukan dungu, tetapi itu memang begitu design politik 
pendidikan untuk tugas yang dibutuhkan, singkatnya seperti orang desa katakan: 
" menginjak ke bawah dan menjilat ke atas".  Dengan begitu sistem ketidakadilan 
bisa terus berlangsung, dan tentunya ada yang memetik buah keuntungan yang 
berlimpah-limpah. Siapa mereka itu yang mendapat keuntungan rejeki nomplok dari 
politik "menginjak ke bawah dan menjilat ke atas?


http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=281171

Rabu, 18 Apr 2007,


Lebih Dungu dari Keledai


Hanya keledai yang dua kali terperosok dalam lubang sama. Kalau terperosok 
lebih dua kali tentu lebih bodoh dari keledai. Makin sering terperosok di 
lubang yang itu-itu saja, entah kebodohan macam apa lagi namanya. Barangkali 
layak dikatakan "mbahnya bodoh". Tetapi, itulah peristiwa yang terjadi 
berulang-ulang yang mencerminkan betapa bodohnya kita melebihi keledai.

Pertama, penganiayaan sesama siswa IPDN yang terus berlangsung. Bayangkan, 
lembaga pendidikan calon pamong rakyat binaan Depdagri justru melahirkan para 
pembunuh muda berdarah dingin yang diduga telah menewaskan 35 praja. Di akademi 
militer saja belum pernah kita dengar peristiwa menjijikkan semacam itu. 
Ancaman klise rektor IPDN yang akan menindak tegas siswa yang terlibat 
penganiayaan bukan jaminan peristiwa serupa tidak akan terulang.

Kedua, kerugian PT KAI akibat banyaknya penumpang gelap. Semua orang tahu, hal 
itu telah berlangsung puluhan tahun. Tetapi baru sekarang PT KAI berteriak 
menderita rugi Rp 125 juta per bulan di Jabodetabek saja. Setelah babak belur 
baru PT KAI bertekad menertibkan penumpang yang semestinya bisa dilakukan sejak 
dini. Bukankah PT KAI memiliki otoritas di lingkup kerjanya?


BINTORO, Kertajaya 7A/44, Surabaya

Kirim email ke