Ini sekolah calon camat aja sejak berdiri sudah membunuh 38 siswanya. Luar biasa.. Ke-38 siswa itu mati dengan berbagai sebab, tetapi yang bikin para petingginya kebakaran jenggot, ada yang mati karena disiksa oleh seniornya. Secara resmi sudah ada dua kasus penganiayaan sampai mati yaitu kasus Wahyu Hidayat (2003) dan Cliff Muntu (2007). Kita ga tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi dengan ke-36 siswa yang lain hingga mereka tewas. Menurut Inu Kencana, orang dalam IPDN, kematian yang terjadi di IPDN berkategori “layak diusut”. Nah sampai sekarang ga terbukti itikad baik dari IPDN untuk menjelaskan secara transparan apa yang sebenarnya menjadi kegiatan sehari-hari para siswa sehingga terjadi kematian-kematian tersebut. Malah Inu sering mendapat ancaman baik dari para siswa ataupun dari para petinggi IPDN karena dinilai membocorkan rahasia IPDN ke masyarakat luas. Bahkan tim penyelidik yang dipimpin oleh Ryas Rasyid seperti menghadapi orang-orang bisu tuli ketika dia menanyakan “kenapa para pengasuh tidak melihat kejadian penganiayaan sedangkan di TV jelas-jelas itu berlangsung di siang hari?”. Hanya satu orang yang mengaku pernah melihat kejadian-kejadian seperti itu. Nah.. Apa lagi ini? Secara logika sangat tidak masuk akal hanya satu orang yang melihat, kemana para pengasuh dan dosen yang lain? Memalukan sekali apa yang terjadi di IPDN ini. Bandingkan dengan Akmil dan Akpol yang notabene adalah sekolah militer resmi. Disana tidak pernah terjadi kematian yang disebabkan oleh hal remeh temeh seperti yang terjadi di IPDN. Mereka dididik untuk menjadi pemimpin yang berjiwa nasionalisme tinggi, loyal, dan sehat jiwa raga tetapi tidak menggunakan cara-cara sok kuasa ala IPDN. Omong kosong kalo IPDN sebenarnya melarang kegiatan-kegiatan tersebut. Itu hanyalah sebatas peraturan di atas kertas saja, sedangkan fakta di lapangan semua pihak bersama-sama dengan sadar melanggarnya. Itulah berbahayanya jika orang-orang sipil sok bergaya militeristik dan di lembagakan lagi!! Ibaratnya kancil yang bisanya ngomong ama menipu ingin menjadi harimau. Mana taringmu? Karena mereka ga punya maka dibuatlah “taring semu” ala sipil. Hasilnya? Wahyu dan Cliff. Di jaman NAZI Jerman, tentara yang berasal dari kalangan sipil dibentuk dalam Schuzstaffel (SS). Tetapi apa yang menjadi metode di sana sangatlah bertolak belakang dengan yang terjadi di IPDN. Di SS karena mereka merasa menjadi orang sipil (bukan hasil pendidikan sekolah militer resmi), maka pendidikan di dalamnya bersifat kekeluargaan tanpa meninggalkan kedisiplinan dan tempaan fisik ala militer. Para junior dilarang memanggil perwiranya dengan panggilan kehormatan (Herr, misalnya) seperti yang biasanya dilakukan di Werhmacht (Tentara Jerman Resmi). Mereka hanya boleh memanggil dengan sebutan pangkatnya saja. Selain itu para perwira dan anak buahnya ketika tidur, mandi, dan makan dilakukan pada tempat yang sama. Sehingga antara mereka memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kuat. Hasilnya? SS menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa, bahkan Werhmacht sendiri tidak bisa menandinginya. Dengan kedisiplinan dan jiwa nasionalisme yang tinggi mereka bertempur membela bangsa tanpa rasa takut. Bahkan Sekutu sampai mengatakan bahwa mereka lebih suka menghadapi 10 batalyon Werhmacht dibandingkan menghadapi 1 batalyon SS !! Nah walaupun melihat kasus-kasus kematian yang terjadi, saya tidak setuju apabila IPDN dibubarkan. Saya lebih setuju apabila sistem, budaya, dan kultur harian yang diperbaiki. Tirulah SS Nazi sebagai contohnya. Terlalu sayang apabila IPDN dibubarkan. Kedisiplinan ala militer masih dibutuhkan atau lebih tepatnya syarat mutlak dalam kehidupan sosial kita. Lihat bagaimana kehidupan para petinggi sipil kita. Mereka layaknya penipu dan pengkhianat bangsa. Menipu masyarakat setiap lima tahun sekali dan mengkhianati bangsa dengan cara korupsi!! Apa keuntungan kita dengan adanya DPR? Hanya sakit hati setiap hari. Mereka hanya memikirkan perut mereka sendiri. Senayan bagaikan pasar hewan karena setiap hari untuk tempat dagang sapi. Setiap isu di DPR ujung-ujungnya minta reshufle, ujungnya laptop, ujungnya tunjangan komunikasi dll. Lihat Polri setelah dipisah dengan TNI (dimaksudkan agar lebih bersifat sipil, tidak terlalu militeristik), masuk ke dalam lembaga terkorup ke-2 ! Itulah salah satu sifat sipil Indonesia: ga bisa dipercaya. Orang-orang non pemerintah di LSM sama saja, mereka rela menjual harkat dan martabat bangsa ini lewat proposal-proposal demi turunnya dana dari luar negeri. Mereka ngomong tentang hak asasi yang sebenarnya adalah rupiah asasi. Saya ngomong seperti ini karena saya pernah bekerja di LSM yang cukup terkenal di Indonesia. Mereka bekerja bagaikan musang mencari mangsa. Setiap hari mereka mengintai peristiwa yang bisa dijual ke bangsa asing. Laporan keuangan LSM itu sebenarnya sama saja korupnya, cuma karena ga ada yang ngawasi aja mereka jadi sok suci! Media massa sama saja, duitlah yang berkuasa. Merekalah yang membuat kebudayaan Indonesia morat-marit ga jelas. Mengajak setiap orang untuk lebih konsumtif dan bergaya hedon. Lihat tuh lulusan Playboy sekarang jadi host judi tengah malam dengan pakaian yang dibuat kekurangan bahan (TPI jam 1 malam). Tubuh wanita dilabeli dengan harga yang sangat jelas, contohnya pernah dulu untuk menonton pantat inul sambil nyanyi, orang harus membayar 100 juta rupiah sekali manggung. Para wanita Indonesia dirayu untuk hanya memiliki satu buah saja bagian tubuh yang berharga yaitu otak, sementara bagian tubuh lain diobral murah. Mereka melakukan apa saja dengan mengatas namakan seni untuk meningkatnya oplah dan rating, menjijikkan sekali. Kalo sudah begini saya cuma usul: Bubarkan dan hapuskan DPR, larang LSM, peraturan yang ketat untuk media, dan bentuk pemerintahan yang tegas dan kuat. Terima kasih.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
