REFLEKSI:  Kabinet jual bunga.  Presiden jual jamu,  Rakyat jual apa? 

KOMPAS
Kamis, 19 April 2007 

  
Kabinet Penjual Bunga 


Herry Tjahjono 

Konon, Pygmalion- seorang pangeran di Yunani-sedang membuat patung perempuan 
ideal. Pygmalion pun jatuh cinta kepada patung itu. 

Dikisahkan, Aphrodite, sebagai Dewi cinta, jatuh simpati dan memberi napas 
kehidupan pada patung perempuan itu dan menjadi milik Sang Pangeran. Beberapa 
abad kemudian, muncul konsep transformatif dalam drama George Bernard Shaw 
berjudul Pygmalion, berkisah tentang seorang gadis udik miskin yang menjual 
bunga, bernama Eliza Doolittle, yang "berubah" menjadi seorang Putri. 

Dalam film musikal, My Fair Lady, Eliza merefleksikan konsep transformasi dalam 
aneka ucapannya, "Yang membedakan gadis penjaja bunga dengan seorang Putri 
bukan pada perilaku, tetapi pada bagaimana dia diperlakukan dan diharapkan. 
Kepada Profesor Higgins, saya akan berlaku sebagai gadis udik penjual bunga 
sebab dia memperlakukan dan mengharapkan saya seperti itu. Tetapi kepada Anda, 
Kolonel Pickering, saya bisa menjadi Putri sebab Anda mengharapkan saya sebagai 
seorang Putri!" 

Seluruh kisah itu melahirkan konsep atau efek Pygmalion. Efek Pygmalion 
mengandung dua makna. Pertama, sesuatu yang dianggap bernilai (patung perempuan 
ideal) bisa melahirkan harapan besar pada seseorang. 

Kedua, sikap atau harapan terhadap seseorang akan menjadi sebuah kekuatan, 
pengaruh yang hebat dalam mengubah, membentuk, atau mengembangkan orang lain. 

Bahkan, efek Pygmalion bisa mengejawantah menjadi self fulfilling prophecy, 
sebuah harapan yang terpenuhi dengan sendirinya, seperti tercermin dalam 
kalimat-kalimat Eliza Doolittle. 

Pygmalion dalam praktik 

Dalam banyak teori dan praksis kepemimpinan dan manajemen, konsep atau efek 
Pygmalion sering jadi dasar kuat dan relevan dengan isu perombakan (reshuffle) 
kabinet yang menghangat. 

Perombakan kabinet yang akan dilakukan Presiden Yudhoyono, kata Wapres, hanya 
untuk meningkatkan kinerja kabinet, bukan dilatari kepentingan politis 
menjelang Pemilu 2009. Pesan terpenting, meningkatkan kinerja kabinet yang 
relevan dengan efek Pygmalion. 

Efek pertama terkait pencanangan Visi Indonesia 2030. Visi itu analog dengan 
"patung perempuan ideal" pangeran Pygmalion. Sejauh mana visi itu dianggap 
bernilai, bukan hanya oleh SBY-JK, tetapi juga oleh seluruh menteri. Jika visi 
2030 hanya "bernilai" bagi presiden, visi itu tak akan pernah "hidup" dan 
melahirkan harapan bagi seluruh organisasi sebagaimana patung perempuan ideal 
sang pangeran. Maka, perlu dipertimbangkan, apakah visi 2030 sudah menjadi 
"ambisi" kabinet atau sekadar "ambisi" SBY-JK. 

Padahal, mengadaptasi Harry Hutson & Barbara Perry (2006), visi wajib 
melahirkan harapan bagi anggota organisasinya. Visi yang tidak melahirkan 
harapan tidak akan efektif, tidak memotivasi, tak ada passion dan komitmen, 
serta tidak menggerakkan anggota untuk mencapainya. 

Urgensi visi ini terkait tahapan penting manajemen, yakni saat visi itu 
diterjemahkan menjadi langkah-langkah strategis (sesuai konsep CSP/corporate 
strategic planning). Jelas, visi 2030 harus diterjemahkan dalam tahapan langkah 
strategis, sampai level performance management, bahkan level KPI (key 
performance indicator) bagi para menteri. Maka, jika visi 2030 tak memberi 
harapan, tak akan ada efek Pygmalion (efek transformatif). 

Maka, meski hanya sebagian, perombakan harus memerhatikan efek pertama 
ini-khususnya saat akan "merekrut" menteri baru atau pengganti. Sejak awal, 
para calon wajib memahami, berempati, dan menaruh harapan terhadap visi itu, 
termasuk segenap performance management dan KPI yang akan disandangnya. 

Inilah tugas moral SBY-JK untuk membuat visi 2030 menjadi "patung perempuan 
ideal" bagi para menterinya. 

Tergantung pemimpin 

Efek kedua, terkait SBY sendiri. Sebagai pemimpin tertinggi, mampukah SBY 
berperan menjadi Kolonel Pickering, bukan Profesor Higgins. Harapan dan sikap 
pemimpin akan memiliki kekuatan dahsyat. Hal ini telah diteliti Robert 
Rosenthal & Lenore Jacobsen, yang membuktikan sikap dan harapan positif dosen 
ternyata membuat mahasiswa merespons secara luarbiasa sesuai dengan harapan 
dosen, tanpa mempertimbangkan kemampuan nyata mahasiswa. 

Satu hal penting yang pernah dikatakan pakar manajemen, Nancy Natapura, 
efektivitas efek Pygmalion menuntut kepercayaan total, bukan pura-pura percaya, 
semipercaya, atau hanya formalitas. Seorang pemimpin tak bisa menyembunyikan 
perasaan sebenarnya kepada bawahan. Bawahan akan menangkap perasaan dan harapan 
yang terus ditekan dengan berpura-pura dan ini kontraproduktif bagi efek 
Pygmalion. Ini bukan soal mudah bagi SBY yang sejak awal pembentukan kabinet 
dilatari motif-motif eksternal dan "tekanan" partai politik. 

Semuanya itu sulit melahirkan harapan dan sikap positif yang tulus dari SBY 
terhadap bawahan. Jelasnya, secara psikologis, tidak semua menteri merupakan 
pilihan hatinya. Meski wajar, itulah hambatan psikologis yang harus 
diselesaikan SBY jika perombakan yang diinginkan membuat kabinet menjadi 
"Kabinet Putri" dan bukan "Kabinet (Gadis) Penjual Bunga" yang menyedihkan. 

Herry Tjahjono Corporate HR Director; Penulis buku The XO Way: 3 Giants & 6 
Liliputs, Jakarta 

Kirim email ke