Pembaca budiman,
Kekerasan di IPDN yang terungkap setelah kematian beberapa siswanya (sejak
APDN) dapat dilihat dari berbagai sudut, salah satunya dari sudut yaitu yang
berkaitan dengan identitas diri.
Dengan perangkat seragam, kurikulum, penataan kehidupan kampus, penempatan
dan dunia kerjanya hingga ikatan antar alumn, pada dasarnya sudah membentuk,
disadari atau tidak, direncanakan atau by chance adalah mengarah pada upaya
pencarian ciri kelompok dalam birokrat (sipil). Melalui adopsi cara militer
untuk mencapai tujuan ini, -karena militer dianggap eksklusif dan dalam
beberapa pendekatan kurikulumnya memang baik-, APDN-IPDN sudah jauh masuk pada
atmosfer pabrik jati diri birokrat sedemikian rupa sehingga sisi negatif dan
dampak atmosfer ini di internal kampus maupun external setelah mereka bekerja
tetap terbawa. Kebetulan saja sistim pabrik (nyatanya sudah seperti mesin sih)
birokrat ini berupa suatu institusi pemerintah, sehingga cepat menjadi besar
dan kuat dan sistimnya sudah demikian rupa menjadi sangat eksklusif, sehingga
apapun yang dilakukan dianggap sah dan berbudaya dan tidak peduli dengan
pendapat dari luar.
Kelompok apapun entah swasta atau pemerintah, masyarakat etnis maupun profesi
juga sering terjebak melebihkan penguatan jati diri ini, untuk alasan agar
ketika aktualisasi dapat terlihat menonjol di masyarakat, dengan berbuat yang
adakalanya aneh diluar kewajaran sosial maupun nalar sehat. Biasanya, ada
anggapan dengan penonjolan jati diri melalui atribut atau tingkah laku tersebut
akan menumbuhkan rasa percaya diri yang sebenarnya merupakan upaya menutupi
kekerdilan dengan mencontoh atribut kelompok atau figur yang mapan atau punya
kekuatan identitas.
Ambillah IPDN sendiri yang memakai seragam dengan atribut ciri kelompok yang
dikenakan seperti badge, topi, ikat pinggang, tanda tingkat dan lain-lain yang
meniru akademi militer.
Beberapa organisasi masa juga memakai seragam berikut sepatu boot ala militer
sehingga si pemakai dan pemelihara organisasi ini merasa mempunyai kekuatan bak
militer.
Contoh lain juga bisa kita lihat pada sekelompok orang yang mengetengahkan
ciri busana dari suku atau etnis tertentu agar tumbuh ikatan dan rasa lebih
yang dipunyai kelompok yang ditiru, seperti memakai gamish, terompah dan
sorban. Tengok pula sekelompok orang yang kebetulan punya uang berlimpah untuk
melengkapi dirinya dengan motor gede berikut aksesoris busana kulit dan
penampilan seram. Mereka akan merasa kuat ketika menggeber motornya di jalan
raya sambil mengusir pemakai jalan lain, terlebih bila bergerak bergerombol
secara liar. Yang lain, tengok saudara kita yang secara berkala, karena
dianggap punya komunitas, yang meniru busana koboi berjingkrak dan bernyanyi
bak merasa dirinya ada di prairi sehingga dengan aktualisasi demikian mereka
merasa terangkat martabatnya sebagai orang amrik walau posturnya juga pendek
buntet mata sipit dan gelap warna kulitnya. Lucu deh.
Amboi, masih banyak contoh dan itu tidak menjadi masalah semua punya hak.
Yang menjadi persoalan ketika ada pemaksaaan internal dan terlebih eksternal,
atas jati diri berlebih tersebut dengan cara kekerasan.
Maka, salah satu akibat dari gejala ini ya jatuhnya korban.
Bangsa kita nampaknya keliru menerapkan konsep bhineka tunggal ika, yang
diutamakan adalah kesatuannya dengan kesalahan pemaksaan dan berakibat
hilangnya keragaman dan ciri individu. Sejak dari TK sampai SLTA, bahkan di
perguruan tinggipun hingga bekerja, sudah dipaksakan pakai seragam. Makanya
tidak heran kecenderungan penyeragaman ini melebar dengan ekses pemaksaan dan
tampilnyapun kikuk serta menggelikan.
Saya menunggu tanggapan sebanyak mungkin yang dengan demikian kita bisa
diukur sudah sejauh mana kecenderungan pemaksaan keseragaman berikut penonjolan
berlebih identitas ini sudah merasuk (meracuni) otak dan nurani kita.
Prinarotomo.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.