Gus Dur: 
  Syariat Islam Wajib Dilaksanakan                                    Jakarta, 
gusdur.net

  Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menceritakan, suatu   saat 
dirinya ditanya oleh aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), soal kewajiban   
melaksanakan Syariah Islam. 
  Gus Dur menjawab, “Oh iya, wajib dilaksanakan   dong! Syariah Islam itu 
diadakan untuk dilaksanakan. Tapi melaksanakan Syariat   itu tidak harus dengan 
adanya negara Islam. Ini bedanya.” 
  “Saya itu setiap hari bersyariah. Saya         nggak pernah meninggalkan 
syariah. Tapi saya tidak pernah menjadi orang   seperti mereka itu 
(menginginkan negara Islam, red),” sambungnya. 
  Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Syura DPP   PKB itu saat menjadi 
narasumber pada acara Kongkow Bareng Gus Dur, di   Radio 68 H Jl Utan Kayu, 
Jakarta Timur, Sabtu (14/04/2007).
  Formalisasi syariat Islam ini juga masih   diperjuangkan oleh partai berasas 
Islam yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS).   Kekhawatiran itu, kata Gus Dur 
membuat Muhammadiyah menerbitkan surat edaran   untuk organisasi otonomnya, 
supaya tidak menjalin kerja sama dengan PKS.
  “PP Muhammadiyah merasa, PKS itu tidak berjuang   untuk kepentingan bersama 
sebagai bangsa, tapi hanya untuk kepentingan yang   lebih sempit. Itu 
alasannya! Itu bagus sekali,” kata Gus Dur menanggapi   terbitnya Surat 
Keputusan PP Muhammadiyah Nomor 149 Kep/1.0/b/2006 tentang   Kebijakan PP 
Muhammadiyah tentang Konsolidasi Organisasi dan Amal Usaha   Muhammadiyah. 
  Dikatakan Gus Dur, sejak awal Nahdhatul Ulama (NU)   dan Muhammadiyah adalah 
tulang punggung nasionalisme. “Maka, adanya surat edaran   PP Muhammadiyah itu 
menjadi sangat penting sekali,” ujarnya. 
  Mantan ketua PBNU ini menilai sikap nasionalisme   inilah yang membedakan PKS 
dengan NU maupun Muhammadiyah. “Saya pernah ketemu Almarhum Syeikh Abdul Aziz 
bin Baz. Menurut dia, kalau bukan negara Islam ya   bukan negara. Kalau itu 
yang diusung PKS, terus terang saja NU juga keberatan.   “
  Mengapa? Gus Dur menjelaskan karena pada Muktamar   ke-9 di Banjarmasin tahun 
1935, NU sudah menyatakan, untuk melaksanakan Syariah   Islam, itu tidak wajib 
adanya negara Islam. “Kalau mbalik lagi nuruti   PKS, ya kita akan rugi,” 
imbuhnya. 
  Bukan Musuh

  Pada saat sama,   Gus Dur menyatakan kegembiraannya, karena kemampun 
organisasi Islam moderat kini   kian baik dan disegani. “Kemampuan organisasi 
moderat Islam semakin baik, hingga   mereka bisa mengatasi kaum garis keras,” 
ujarnya. 
  Namun demikian Gus Dur mengingatkan, bahwa massa   garis keras itu bukanlah 
musuh, melainkan saudara. “Kita dudukkan masalahnya   dulu. Yang kita tentang 
itu tindakan kekerasan itu, bukan orangnya,” pesannya.   
  “Jadi, yang penting bukan perbedaan kita dengan   mereka, melainkan bagaimana 
perbedaan itu kita jalankan,” imbuhnya.
  Karena itu, Gus Dur menolak keras keinginan         sebagian orang yang 
hendak melenyapkan kelompok garis keras itu. “Saya sebagai   muslim berpikir 
lain. Apa kita tidak bisa mencari prinsip-prinsip supaya bisa   hidup bersama? 
Selama masih percaya pada Tuhan dan Muhammad itu utusan Tuhan,   maka selama 
itu pula saya tidak bisa mencap mereka sebagai kafir. Islam yang   bener ya 
begitu,” tegasnya. 
    
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke