Inti tulisan Mas Hinu saya setujui sepenuhnya. Hanya, maaf, saya sungguh tidak tahu, yang telah, sedang atau akan dijual itu Bunga, atau BANGSA?
Sekait karya pentas George B. Shaw, diteater di Praha sering digelar dengan nama Pygmalion. Namun dalam film Hollywood klasik tahun 1960an berjudul My Fair Lady. Sebetulnya yg saya tangkap sebagai inti atau pesan GB Shaw (1856-1950) dalam cerita ini ialah dia, yg dijamannya dianggap di Inggris sbg penulis drama terbesar kedua setelah W. Shakespeare, dengan kecenderungan sosialisnya, bahwa manusia itu bisa saja dilahirkan sebagai anak buruh pemabuk spt Eliza namun kalau diberi pendidikan (dalam hal ini bhs Inggris yg sangat baik), maka ybs akan dapat mudah meniti jenjang status sosial, diantara para snob dalam aristokrasi Inggris waktu itu. Sangat lucu dlm film tsb ialah ketika Eliza telah hampir mahir berbahasa sbg ladies and gentlemen dalam (dimana lagi kalau tidak) sebuah pacuan kuda di Aston, ketika kuda taruhannya kalah, dia berteriak polos tanpa kemunafikan "You bloody rotten ass!" (Dasar pantat busuk sial lu! Maaf). Yg tentu memicu skandal diantara para elit yg serba halus dan adiluhung tingkah lakunya. Sangat kondang didunia juga kalimat yg diajarkan oleh Prof. Higgins pada Miss Eliza D dalam hal ucapan: "The rain in Spain is always in the plain". Saya kira musical ini juga pernah beredar di Indonesia. Di Ceko cukup sering diulang di TV sebagai sebuah "Hollywood Classic". Salam, terutama untuk Mas Hinu, Bismo DG ----- Original Message ----- From: HINU E. SAYONO To: Nasional ; sastra-pembebasan ; Rumah Kita Bersama Sent: Thursday, April 19, 2007 4:11 AM Subject: #sastra-pembebasan# Jenderal (purn) SBY, Eliza Doolittle, dan Kolonel Pickering Kepemimpinan, bukan keterampilan manajerial, merupakan faktor kunci dalam upaya untuk mewujudkan efek Pygmalion dalam bentuk "lahirnya seorang Putri", karena dalam kata kepemimpinan terkandung nilai-nilai moral dalam bentuk hanya melakukan hal-hal yang baik-baik saja. Hal itulah yang tidak dimiliki oleh seorang manajer yang berpedoman pada melakukan segala sesuatunya dengan baik, tanpa mengindahkan nilai-nilai moral. Seorang pemimpin akan dipercayai oleh yang dipimpin apabila pemimpin tersebut mempercayai yang dipimpin. Nah, dengan kenyataan bahwa "SBY yang sejak awal pembentukan kabinet dilatari motif-motif eksternal dan "tekanan" partai politik", bagaimana mungkin terwujud hubungan antara SBY dengan anggota kabinetnya berdasarkan rasa saling percaya. Motif-motif eksternal dan "tekanan" partai politik dalam era tahun 1950-an, khususnya dalam penyusunan kabnet dalam era demokrasi parlementer, disebut "koehandel" atau dagang sapi. Alhasil, bagaimana mungkin kabinet yang merupakan produk dagang sapi dapat menghasilkan tim yang yang utuh dan sejiwa. Lihat saja bagaimana persepakbolaan Indonesia. Dan bandingkan dengan pengelolaan sepakbola di Inggris dan berbagai negara Eropa lainnya yang menganut sistem Manajer penuh seperti Ferguson dan Morinho. Ferguson sukses dalam "memoles" Cristiano Ronaldo dari pemain yang mulanya serba canggung menjadi salah satu calon pemain terbaik dunia. Morinho mampu "memoles" Didier Drogba menjadi tulang punggung Chelsea dan juga calon pemain terbaik dunia. Kedua Manager tersebut memberikan kepercayaan kepada anak asuhnya. Masalahnya, faktor kepercayaan di Indonesia sudah disalah-artikan, -tepatnya "downgraded"-, menjadi aliran kepercayaan. Oleh karena itu, wujudnya adalah mencari dukun, berburu pusaka ataupun jimat, ziarah ke berbagai tempat yang dianggap keramat. Coba saja simak, bagaimana sibuknya para capres-cawapres melakukan kegiatan yang berkaitan dengan kekeliruan pemaknaan kepercayaan tersebut. Dengan kondisi yang sedemikian, alih-alih penjual bunga seperti Eliza Doolittle, kabinet ini, malahan, sudah menjadi penjual bangsa dan negara dengan telah disahkan dan diberlakukannya UU Penanaman Modal Asing. Ooh, Eliza Doolittle, I love and miss you very much, my fair Lady. Pungguk merindukan bulan? Yaaah, dari pada merindukan penjual bangsa dan negara? Silakan menikmati artikel Herry Tjahjono sambil "nyruput" kopi panas. Salam, HES Kabinet Penjual Bunga Herry Tjahjono KCM - 19 April 2007 Konon, Pygmalion- seorang pangeran di Yunani-sedang membuat patung perempuan ideal. Pygmalion pun jatuh cinta kepada patung itu. Dikisahkan, Aphrodite, sebagai Dewi cinta, jatuh simpati dan memberi napas kehidupan pada patung perempuan itu dan menjadi milik Sang Pangeran. Beberapa abad kemudian, muncul konsep transformatif dalam drama George Bernard Shaw berjudul Pygmalion, berkisah tentang seorang gadis udik miskin yang menjual bunga, bernama Eliza Doolittle, yang "berubah" menjadi seorang Putri. Dalam film musikal, My Fair Lady, Eliza merefleksikan konsep transformasi dalam aneka ucapannya, "Yang membedakan gadis penjaja bunga dengan seorang Putri bukan pada perilaku, tetapi pada bagaimana dia diperlakukan dan diharapkan. Kepada Profesor Higgins, saya akan berlaku sebagai gadis udik penjual bunga sebab dia memperlakukan dan mengharapkan saya seperti itu. Tetapi kepada Anda, Kolonel Pickering, saya bisa menjadi Putri sebab Anda mengharapkan saya sebagai seorang Putri!" Seluruh kisah itu melahirkan konsep atau efek Pygmalion. Efek Pygmalion mengandung dua makna. Pertama, sesuatu yang dianggap bernilai (patung perempuan ideal) bisa melahirkan harapan besar pada seseorang. Kedua, sikap atau harapan terhadap seseorang akan menjadi sebuah kekuatan, pengaruh yang hebat dalam mengubah, membentuk, atau mengembangkan orang lain. Bahkan, efek Pygmalion bisa mengejawantah menjadi self fulfilling prophecy, sebuah harapan yang terpenuhi dengan sendirinya, seperti tercermin dalam kalimat-kalimat Eliza Doolittle. Pygmalion dalam praktik Dalam banyak teori dan praksis kepemimpinan dan manajemen, konsep atau efek Pygmalion sering jadi dasar kuat dan relevan dengan isu perombakan (reshuffle) kabinet yang menghangat. Perombakan kabinet yang akan dilakukan Presiden Yudhoyono, kata Wapres, hanya untuk meningkatkan kinerja kabinet, bukan dilatari kepentingan politis menjelang Pemilu 2009. Pesan terpenting, meningkatkan kinerja kabinet yang relevan dengan efek Pygmalion. Efek pertama terkait pencanangan Visi Indonesia 2030. Visi itu analog dengan "patung perempuan ideal" pangeran Pygmalion. Sejauh mana visi itu dianggap bernilai, bukan hanya oleh SBY-JK, tetapi juga oleh seluruh menteri. Jika visi 2030 hanya "bernilai" bagi presiden, visi itu tak akan pernah "hidup" dan melahirkan harapan bagi seluruh organisasi sebagaimana patung perempuan ideal sang pangeran. Maka, perlu dipertimbangkan, apakah visi 2030 sudah menjadi "ambisi" kabinet atau sekadar "ambisi" SBY-JK. Padahal, mengadaptasi Harry Hutson & Barbara Perry (2006), visi wajib melahirkan harapan bagi anggota organisasinya. Visi yang tidak melahirkan harapan tidak akan efektif, tidak memotivasi, tak ada passion dan komitmen, serta tidak menggerakkan anggota untuk mencapainya. Urgensi visi ini terkait tahapan penting manajemen, yakni saat visi itu diterjemahkan menjadi langkah-langkah strategis (sesuai konsep CSP/corporate strategic planning). Jelas, visi 2030 harus diterjemahkan dalam tahapan langkah strategis, sampai level performance management, bahkan level KPI (key performance indicator) bagi para menteri. Maka, jika visi 2030 tak memberi harapan, tak akan ada efek Pygmalion (efek transformatif). Maka, meski hanya sebagian, perombakan harus memerhatikan efek pertama ini-khususnya saat akan "merekrut" menteri baru atau pengganti. Sejak awal, para calon wajib memahami, berempati, dan menaruh harapan terhadap visi itu, termasuk segenap performance management dan KPI yang akan disandangnya. Inilah tugas moral SBY-JK untuk membuat visi 2030 menjadi "patung perempuan ideal" bagi para menterinya. Tergantung pemimpin Efek kedua, terkait SBY sendiri. Sebagai pemimpin tertinggi, mampukah SBY berperan menjadi Kolonel Pickering, bukan Profesor Higgins. Harapan dan sikap pemimpin akan memiliki kekuatan dahsyat. Hal ini telah diteliti Robert Rosenthal & Lenore Jacobsen, yang membuktikan sikap dan harapan positif dosen ternyata membuat mahasiswa merespons secara luarbiasa sesuai dengan harapan dosen, tanpa mempertimbangkan kemampuan nyata mahasiswa. Satu hal penting yang pernah dikatakan pakar manajemen, Nancy Natapura, efektivitas efek Pygmalion menuntut kepercayaan total, bukan pura-pura percaya, semipercaya, atau hanya formalitas. Seorang pemimpin tak bisa menyembunyikan perasaan sebenarnya kepada bawahan. Bawahan akan menangkap perasaan dan harapan yang terus ditekan dengan berpura-pura dan ini kontraproduktif bagi efek Pygmalion. Ini bukan soal mudah bagi SBY yang sejak awal pembentukan kabinet dilatari motif-motif eksternal dan "tekanan" partai politik. Semuanya itu sulit melahirkan harapan dan sikap positif yang tulus dari SBY terhadap bawahan. Jelasnya, secara psikologis, tidak semua menteri merupakan pilihan hatinya. Meski wajar, itulah hambatan psikologis yang harus diselesaikan SBY jika perombakan yang diinginkan membuat kabinet menjadi "Kabinet Putri" dan bukan "Kabinet (Gadis) Penjual Bunga" yang menyedihkan. Herry Tjahjono Corporate HR Director; Penulis buku The XO Way: 3 Giants & 6 Liliputs, Jakarta
