Selamat berdiskusi. Kabarnya Founding Father Presiden Soekarno juga berpendapat
bahwa Marxisme itu pisau analisis yang canggih untuk ranah kemasyarakatan dan
segala implikasi, aspek maupun dampaknya.
Sudah barang tentu juga penting sekali membicarakan aktualisasinya, sambil
mempelajari prinsip alias kaedah yang ada didalamnya. Lha wong wahyu saja harus
diaktualisasi kok, apalagi ajaran manusia kan?
Neoliberalisme memang semangkin predatoristik, ekspansi modal tanpa kenal
batas negara sudah diramalkan oleh kakek gaek Marx dan sohibnya Engels 150
tahun yang silam. Resistensi luas sedang marak di Amerika Latin. Dikita sih
kelihatannya adem ayem saja, alon-alon waton kelakon, dijajah oleh bangsa dewe
kan gak terlalu terasa sakitnya to? Apa memang harusnya terbangun dari
menikmati perkutut manggung dan teh nasgitel, panas legi (manis) dan kenthel?
TSL
Hilmar Farid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Diskusibulanpurnama. [Dbp.]
Kamis, 3 Mei 2007 | 19:30 WIB di GARUDA
Jl. Pondok Gede Raya 40 Persimpangan TMII-Pondok Gede
Jakarta Timur
DISKUSI BUKU KARL MARX, DAS KAPITAL, JILID III (EDISI BAHASA INDONESIA)
Jilid ketiga mahakarya Das Kapital dari Karl Marx beranak-judul "proses
produksi kapitalis sebagai keseluruhan." Dalam buku ini Marx memusatkan
perhatian pada perbedaan internal kelas kapitalis. Tujuannya, seperti
disebutkan dalam buku itu adalah "menempatkan dan menggambarkan bentuk-bentuk
konkret yang muncul dari gerak kapital secara keseluruhan." Dalam buku ini juga
Marx bicara tentang kapitalisme sebagai sistem yang senantiasa dalam krisis,
sebuah sistem yang menggali liang kuburnya sendiri.
Bonnie Setiawan (Institute for Global Justice) dan Sutjipto (Stichting Azie
Studies, Amsterdam), akan mengulas isi buku ini dan melihat arti pentingnya
bagi Indonesia yang tengah menghadapi gempuran globalisasi neoliberal
---------------------------------
Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Tryit now.