Republika/ Sabtu, 21 April 2007
Pesantren dan Krisis Lingkungan
Oleh :
Eman Hermawan
Wakil Sekjen DPP PKB, Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Pemuda
Kebangkitan Bangsa (DKN Garda Bangsa).
Pada 26 Februari 2007 lalu, di Denpasar Bali, Dewan Pengurus Pusat Partai
Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) mendeklarasikan diri sebagai Partai Hijau. PKB
berkomitmen untuk menjadi partai politik yang peduli terhadap masalah
lingkungan hidup dan menyerukan perlunya gerakan nasional dan komitmen para
pemimpin untuk memahami dan mengatasi krisis lingkungan saat ini.
Gerakan yang diambil PKB didasari keinginan untuk menghidupkan kembali
kesadaran tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan yang mengalami
kerusakan dalam derajat yang semakin memprihatinkan. Karena menyangkut
kehidupan masyarakat dan peradaban manusia di masa depan, maka gerakan itu
tidak lagi diletakkan dalam kerangka simbolis, tetapi menjadi titik awal untuk
membangun kerangka kerja yang bersifat menyeluruh dan berkesinambungan.
Krisis lingkungan
Gerald Foley dalam bukunya 'Global Warming: Who Is Taking the Heat' (1991)
menyatakan krisis atau kerusakan lingkungan ditandai dengan meningkatnya suhu
permukaan bumi akibat penebalan lapisan CO2, penipisan lapisan ozon (O3)
sebagai dampak dari rumah kaca. Tanda lainnya adalah rawan pangan, permukaan
air laut yang makin tinggi, gangguan ekologi, dampak sosial politik, dan
perubahan-perubahan iklim yang tidak menentu.
Terjadinya berbagai bencana di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir
merupakan indikasi nyata bahwa krisis lingkungan sudah menjadi ancaman serius
bagi bangsa ini. Kalau hari ini tidak ada kesadaran dan kebijakan pimpinan
nasional yang bersifat preventif, maka krisis lingkungan akan semakin parah
dan berbagai bencana akan terus menjadi ancaman bagi masa depan bangsa.
Dalam konteks ini, masalah krisis lingkungan berikut penanggulangannya
terkait dengan masalah kultur dan kebijakan. Persoalan lingkungan muncul
sebagai konsekuensi logis dari sikap manusia yang memperlakukan alam sebagai
lingkungan yang tidak hidup. Cara pandang dan sikap demikian menjadikan alam
hanya sebagai objek eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ditopang
oleh pembangunan yang berwatak teknokratis selama ini, eksploitasi alam
dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional dan pertumbuhan
ekonomi, sementara upaya-upaya pemeliharaan dan konservasi terhadapnya
dinomorduakan.
Tuntutan terhadap pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menjadikan pemerintah
tidak cukup kuat dan konsisten menerapkan kebijakan yang peduli terhadap
lingkungan. Keinginan untuk menghadirkan investasi guna menjaga pertumbuhan
ekonomi dan mengurangi pengangguran lebih didahulukan daripada konsistensi
untuk menerapkan peraturan yang bersifat protektif terhadap kelestarian
lingkungan dan keseimbangan ekosistemnya.
Peran pesantren
Salah satu komponen masyarakat yang diharapkan bisa berperan aktif dalam
upaya konservasi alam dan lingkungan adalah pesantren. Menurut data Education
Management and Information System (EMIS) Departemen Agama RI, tahun 2001 di
seluruh Indonesia terdapat 11.312 pesantren dengan jumlah santri sebesar
2.737.805 jiwa. Dari jumlah tersebut, 78 persen atau 8.829 pesantren berada di
pedesaan. Sedikitnya 2.429 pesantren berlokasi di daerah pertanian dan 1.546
berada di daerah pegunungan. Dan 50 persen pesantren berlokasi di daerah
permukiman.
Dengah fakta seperti itu, pesantren merupakan salah satu komponen strategis
bangsa yang bisa berperan efektif dalam upaya pelestarian dan pemeliharaan
lingkungan. Dengan jumlah sumber daya yang cukup besar dan keberadaannya yang
sangat dekat dengan masyarakat memungkinkan pesantren menjadi pusat rujukan
dan lokomotif dalam upaya dan sosialisasi pentingnya kepedulian dan penanganan
masalah lingkungan.
Ditunjang oleh kesadaran teologis tentang eksistensi alam dan lingkungan
sebagai milik Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan untuk kepentingan
bersama di masa kini dan mendatang, kepedulian terhadap lingkungan akan jauh
lebih bermakna bagi kalangan pesantren. Kepedulian demikian juga ditopang oleh
adanya perintah hukum syariat yang bersifat imperatif, sehingga kesadaran dan
kepedulian terhadap masalah lingkungan akan lebih kuat dan mendalam.
Bagi PKB sendiri, upaya menghadirkan pesantren sebagai salah satu pusat
rujukan dalam gerakan peduli lingkungan mempunyai alasan yang sangat mendasar.
Pertama, PKB mempunyai hubungan yang bersifat histroris, kultural, dan
aspiratif dengan pesantren. Aktivitas tersebut bisa menguatkan hubungan itu
dan memberdayakan pesantren.
Kedua, ketika pemerintah lebih memfokuskan kebijakannya pada upaya-upaya
pembangunan yang bersifat teknokratis untuk mengejar pertumbuhan ekonomi,
partai-partai terus dikejar target untuk memenangkan agenda politik jangka
pendek, persoalan lingkungan terabaikan. Bahkan ada kecenderungan untuk
mempolitisasi bencana alam sebagai akibat kerusakan lingkungan untuk
kepentingan politik bagi elite-elite partai dan pemerintahan.
Dalam kondisi demikian, PKB bermaksud mengisi ruang kosong yang ditinggalkan
oleh para pelaku bisnis dan politik akibat sikap permisif, pragmatis, dan
hedonistik yang berkembang subur di kalangan mereka. Di satu sisi, PKB akan
membangun kebersamaan untuk memperjuangkan terwujudnya suatu kebijakan dan
aturan hukum yang bersifat antisipatif dan protektif terhadap masalah
lingkungan hidup. Dalam hal ini, harus ada desakan dan sekaligus dukungan
terhadap pemerintah untuk 'memaksa' dunia bisnis agar menjalankan
praktik-praktik usaha yang prolingkungan.
Sementara dari sisi lain, PKB terus berupaya mendorong partisipasi
masyarakat, khususnya pesantren, sebagai bagian integral dari gerakan
menyeluruh untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Dua arah gerakan
lingkungan ini diharapkan akan bisa melahirkan kepedulian yang lebih nyata,
sinergis dan akumulatif serta berdampak luas terhadap masalah krisis
lingkungan. Suatu krisis yang kalau tidak ditangani dengan baik dan
diselesaikan di masa kini akan melahirkan bencana yang lebih besar di masa
depan.
BERITA LAIN
Polisi Selidiki Penyebab Lumpuhnya Roda Pemerintah di Agara
Sidang Organisasi Antarparlemen Dunia Dijadwalkan Dibuka
Presiden
Perombakan tak Berguna Jika Tetap Berparadigma Ekonomi
Neo-Liberal
Presiden Resmikan Sejumlah Proyek di Bali
Israel tak akan Hadiri IPU di Bali
Olimpiade Taman Bacaan Anak Se-Jabodetabek Digelar di Kemayoran
PN Jakarta Pusat Berwenang Adili Gugatan Lumpur Sidoarjo
Gates ke Moskow Untuk Bicarakan Pertahanan Rudal
Guterres: Hentikan Baku Tembak di Timor Leste
Korban Lumpur Sidoarjo Akan Kembali Beraksi di Depan Istana dan
Rumah Ical
• Edisi Kemarin -->
function load() { lebar =
(window.screen.availWidth / 2) - 250; tinggi = (window.screen.availHeight /
2) - 200; window.open('cahaya.htm', "",
"toolbar=0,location=0,menubar=0,scrollbars=1,resizable=0,width=500,height=286,left="
+ lebar + ",top=" + tinggi); } --> -->
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.