Kamis, 19 April 2007

 

Hamas 

 

Oleh : Azyumardi Azra 

 

Pihak Barat akhirnya mau bertemu dengan Hamas. Awal April lalu (5/4/07)
Konsul Jenderal Inggris, Richard Makepeace, mengadakan pertemuan dengan
Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya, yang berasal dari kubu Hamas dalam
pemerintahan persatuan Palestina. 

Inilah kali pertama, pejabat Eropa bertemu dengan petinggi Hamas sejak Uni
Eropa, Amerika Serikat, atau Barat umumnya memboikot pemerintahan Hamas yang
memenangkan Pemilu Palestina 25 Januari 2006. Alasan Barat adalah Hamas
masih bertujuan untuk menghancurkan Israel; dan itu tidak bisa mereka
terima.

 

Perkembangan ini menarik diamati. Perkembangan ini tampaknya berkaitan
dengan salah satu hasil KTT Liga Arab akhir Maret 2007 di Riyadh, Arab
Saudi, yang mendukung sepenuhnya pemerintahan persatuan Palestina. Dan, juga
agar pihak internasional mengakui pemerintahan persatuan Palestina, dan mau
berunding dengannya tanpa diskriminasi. Yang terakhir ini mengacu kepada
sikap Barat yang hanya mau berunding dengan kubu al-Fatah, dan sebaliknya
menolak bertemu dengan pihak Hamas.

 

Dampak dari sikap Barat itu membuat tidak efektifnya pemerintahan Hamas yang
terbentuk setelah dalam Pemilu 2006 memenangkan 74 kursi di parlemen
Palestina, berbanding 45 kursi bagi al-Fatah. Pemerintahan Hamas yang untuk
pertama kali berkuasa, tidak hanya diboikot Barat, tetapi juga terlibat
dalam konflik yang kian meningkat dengan kubu al-Fatah, yang jelas merugikan
perjuangan bangsa Palestina secara keseluruhan.

 

Konflik yang berkelanjutan di antara kedua kubu Palestina ini baru berakhir
setelah kedua belah pihak atas undangan penguasa Arab Saudi, Raja Abdullah
bin Abdul Aziz, bertemu di Makkah pada 8 Februari 2007. Pertemuan ini
menghasilkan 'Persetujuan Makkah' yang menyetujui pembentukan pemerintahan
persatuan Palestina pada 15 Maret 2007.

 

Meski kesepakatan perdamaian antara Hamas dan al-Fatah merupakan akomodasi
timbal balik antara kedua belah pihak, sejumlah kalangan berpendapat, bahwa
Hamas telah mengubah posisinya yang semula tanpa kompromi menjadi lebih
kompromistis dan akomodatif. Dalam perspektif mereka, Hamas adalah gerakan
fundamentalis radikal, atau bahkan termasuk kelompok teroris, yang tidak
pernah bisa berkompromi. Meski tidak pernah terbukti karena tidak adanya
bukti-bukti memadai dan kuat, Hamas bahkan mereka tuduh sebagai memiliki
kaitan dan jaringan dengan Alqaidah pimpinan Usamah bin Ladin.

 

Sejauh manakah kebenaran anggapan ini? Terkait itu menarik membaca argumen
Azzam Tamimi dalam buku terbarunya, Hamas: Unwritten Chapters (London: Hurst
& Co,2007). Menurut Tamimi, yang juga adalah Direktur The Institute of
Islamic Political Thought, London, memang pihak Barat dan Israel sengaja
melakukan kampanye yang menyesatkan bahwa Hamas sama atau bahkan memiliki
jaringan dengan Alqaidah.

 

Alastair Cooke, dari Conflicts Forum, dalam pengantarnya atas karya Tamimi
ini menyatakan, Hamas adalah gerakan Islam moderat yang menjadi simbol bagi
beberapa hal. Pertama, Hamas merupakan simbol dari perlawanan kaum Muslimin
terhadap tatanan dunia kini. Ini ditandai dengan dominasi dan hegemoni
Barat, yang secara langsung menimbulkan dampak sangat negatif terhadap
Palestina dan kaum Muslimin secara keseluruhan.

 

Selanjutnya, berbeda dengan banyak gerakan Islam lainnya, Hamas merupakan
simbol perlawanan bersenjata terhadap dominasi dan hegemoni Barat dan Israel
yang terus mencengkeram Palestina. Menghadapi kekerasan yang terus-menerus
dilakukan Israel atas bangsa Palestina, wajar saja jika Hamas juga melakukan
perlawanan bersenjata.

 

Dalam hubungan dengan perjuangan Palestina, Hamas memang merupakan gerakan
perlawanan bersenjata. Seperti terlihat dari namanya, Hamas adalah Harakat
al-Muqawamah al-Islamiyyah, gerakan perlawanan Islam, yang didirikan pada 14
Desember 1987. Secara historis, Hamas merupakan transformasi dari gerakan
al-Ikhwan al-Muslimun Palestina di bawah pimpinan Syaikh Ahmad Yasin.

 

Deklarasi pembentukan Hamas berlangsung di tengah Intifadah I, yang berhasil
menyentakkan perhatian publik internasional. Dan, sejak saat itu, Hamas
mengambil posisi paling depan dalam gerakan perlawanan menghadapi penindasan
Israel; dan sejak saat itu pula kepemimpinan al-Fatah yang masih berada di
tangan Yasser Arafat menghadapi tantangan sangat serius. Dan, ini terbukti
dengan kemenangan Hamas dalam Pemilu Januari 2006.

 

Jelas perjalanan masih panjang bagi pemerintahan Hamas --atau pemerintahan
persatuan Palestina-- untuk mewujudkan negara Palestina yang benar-benar
merdeka. Tetapi, selama bangsa Palestina bersatu, maka berbagai hambatan itu
agaknya dapat diatasi. Apalagi, dengan bulatnya dukungan Liga Arab, OKI, dan
negara-negara Muslim lainnya, termasuk Indonesia, maka harapan dan
perjuangan untuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,
bukan ilusi belaka.

 

Source : http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=290040
<http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=290040&kat_id=19> &kat_id=19

 

Kirim email ke