Tanggapan dari Kepala Humas Transjakarta ini, sebagaimana diberitakan di detikcom, mengundang serentetan pertanyaan, terutama berkenaan dengan logika di balik pernyataan yang diungkapkan. Ini sekadar kegiatan "berolah pikir".

Jakarta - Di internet beredar cerita pemukulan seorang penumpang oleh 4 petugas busway pada 7 Maret lalu. Cerita ini pun membuat sebagian orang parno alias paranoid naik busway.

Kepala Humas Transjakarta Rene Nunumete saat dihubungi detikcom, Kamis (15/3/2007) mengatakan telah menindaklanjuti kisah di internet itu dengan memanggil 4 petugas tersebut.

apa arti "menindaklanjuti"? mencari informasi lebih lanjut? atau, langsung bereaksi mengambil sikap atau mengambil tindakan (tanpa mencari informasi lebih lanjut terlebih dulu)?

"Tidak benar para petugas itu melakukan pemukulan dan sopirnya ugal-ugalan. Kalau memang itu yang terjadi, tentunya mereka langsung mendapat surat peringatan," ujar Rene.

Bagaimana seorang Kepala Humas dapat sampai ke kesimpulan "tidak benar"? Apakah dia ikut naik bus itu dan melihat dengan kepala sendiri? Siapa yang membuat surat peringatan? Apakah selalu ada petugas dari Perusahaan TransJakarta yang akan selalu berada di bus untuk melihat perilaku sopir bus (sebagai saksi untuk perilaku yang dikenai surat peringatan)?

Petugas Badan Layanan Umum Transjakarta Sri Ulina pun menceritakan kronologi peristiwa tersebut setelah memeriksa keempat petugas busway tersebut. Seorang saksi dari Halte GOR Soemantri Brodjonegoro (Pasar Festival) tempat peristiwa berlangsung juga dimintai keterangan.

sumber informasi berasal dari dua pihak: dari keempat petugas (yang cenderung membela kantornya) dan dari satu orang saksi. imbangkah ini sebagai sumber untuk mencapai sesuatu yang objektif? mengapa saksi, si pencerita di internet itu (yang alamat dan teleponnya jelas ada) tidak diperhitungkan?

"Yang dibilang ugal-ugalan itu, mungkin karena bus yang berjalan ajrut-ajrutan karena sopir sedang mencoba rem yang basah dan belum kering saat dikemudikan," tutur perempuan yang akrab disapa Ulin ini.

apakah ini masuk akal, setelah bus berjalan sekian jauhnya? apakah ini tindakan yang dibenarkan dilakukan oleh seorang sopir? mengapa tidak mencoba remnya pada saat penumpang belum ada, begitu bus keluar dari garasi, sebelum sampai di jalan raya?

Menurutnya, karena rem basah maka terdengar suara berisik dan bus jadi tidak enak jalan. Karena itu, sang pramudi yang bernama Desi meminta izin kepada penumpang busway yang berjumlah lebih dari 85 orang untuk mengetes rem. Izin pun diberikan oleh penumpang.

dengan cara apa minta izinnya? bus berhenti dulu, lalu ia berbicara menghadap ke seluruh penumpang? atau hanya ke penumpang di sebelahnya saja?

"Pada saat mencoba rem itu, pramudinya melepas satu sepatunya. Karena ajrut-ajrutan, maka ada teriakan dari seorang penumpang yang mengkomplain jalannya bus. Pramudinya minta maaf lagi," imbuh Ulin.

katanya sudah meminta izin, mengapa sampai terjadi teriakan? kalau sampai ada orang yang teriak, pasti luar biasa goncangannya. berapa lama ia melakukan "ajrut-ajrutan" itu?

Menurut keterangan 4 petugas dan seorang saksi itu, pria tersebut bukan turun di halte Halimun (seperti cerita di internet) tetapi di GOR Soemantri. "Setelah turun pria itu menggedor-gedor kaca shelter tepat di seberang pramudi. Karena itu satgas yang ada di busway turun, mereka memegangi tangan pria itu, dan meminta agar masalah diselesaikan di tempat pengendali di Halimun," lanjut dia.

siapakah pria yang menggedor-gedor ini? penumpang yang teriak, komplain atas jalannya bus yang tersendat-sendat gara-gara menginjak rem tadi? atau ini pria lain lagi? lalu ada masalah apa dengan dia? apakah selalu ada masalah di bus antara pengemudi dan penumpang?

Selama perjalanan itu, menurut keterangan Desi, dia juga selalu berkomunikasi dengan petugas pengendali. Dia selalu menyampaikan laporan kondisi busway yang dikemudikannya.

yagn dikomunikasikan degnan petugas pengendali adalah "kondisi bus" saja? atau, apakah yang dilaporkan termasuk juga kasus-kasus seperti kalau ada "komplain dari penumpang", misalnya, soal perilakunya sendiri yang (kadang kala) tidak menyenangkan penumpang? akankah hal seperti ini juga dilaporkan kepada petugas pengendali?

"Dalam busway itu ada 3 satgas, karena ada 2 satgas yang bertugas membagikan nasi kepada para petugas busway. Saat itu memang supervisor satgas sempat mengeluarkan borgol, tapi hanya untuk menakut-nakuti saja," tambah Ulin. [...]

mengapa sampai perlu ada satgas di dalam bus yang (selalu) membawa borgol? mengapa sampai perlu ada mereka yang (selalu) dihadirkan secara khusus di bus demi tujuan "menakut-nakuti"? suasana di bus memang senantiasa menakutkan sehingga pengelola bus transjakarta sadar bahwa mereka harus selalu mengantisipasi itu?

saya potong sampai di sini rentetan pertanyaan-pertanyaan yagn saya coba buat, berdasarkan membaca cerita (komplain) penumpang dan tanggapan yagn diberikan oleh petugas/pengelola bus transjakarta. silakan pembaca menyimpulkan sendiri bagaimana logika di balik belaan atau tanggapan yang dimuat di detikcom itu.

bk

Kirim email ke