DDI dan Penyimpangan Politik NU
Senin, 23-April-2007, 11:33:12 Telah dibaca 83 kali | Oleh : KH
ABDURRAHMAN WAHID
Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB
DALAM perjalanan sejarahnya, Darul Dakwah wal- Irsyad (DDI) yang tersebar
dalam ratusan madrasah di Sulawesi Selatan memiliki sejarah yang sangat menarik
untuk diperhatikan.
Salah seorang penggedenya, Abdul Muis Kabry, tadinya adalah anggota Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Malang. Karena menjadi anggota salah satu
badan otonom Nahdlatul Ulama (NU), kemudian dia terlibat menjadi anggota Partai
Persatuan Pembangunan (PPP).
Sementara itu, Sulawesi Selatan mengalami proses politik sendiri, yaitu
hubungan organisasi- organisasi Islam dengan Golkar menjadi sangat erat. Hal
ini berpengaruh terhadap DDI, lalu berdirilah DDI Ambo Dalle. Hal itu merupakan
kejadian sangat menarik karena terlihat bagaimana perkembangan sebuah
organisasi Islam lokal yang berpandangan sama dalam urusan keyakinan/aqidah,
namun terpecah karena dipengaruhi perkembangan politik.
Menurut penulis,justru orang-orang NU yang harus belajardari perkembangan
DDI. Ulama besar KH Ambo Dalle dan para anak buahnya harus menerima kenyataan
bahwa yang mengambil pemihakan politik lebih dahulu adalah NU kepada PPP.Kalau
dilihat dari sudut pandangan ini, maka berdirinya DDI Ambo Dalle adalah reaksi
belaka terhadap keputusan PBNU itu, yang juga masih berlanjut hingga hari ini.
Kiprah NU yang kemudian membidani lahirnya PPP dalam tahun 70-an justru
dianggap sebagai penyimpangan politik. Sedangkan masyarakat NU yang mengikuti
Partai Kebangkitan Bangsa yang lahir pada 1998 justru dianggap sebagai penerus
perjuangan NU. Sedangkan di luar lingkup PKB,dewasa ini ada klaim bahwa Partai
Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) adalah salah satu penyimpangan dari PKB. Kita
lihat saja nanti, benarkah klaim PKNU sebagai pembawa aspirasi politik warga
NU, memilik akar dalam kehidupan politik kita.
Sejarah politik yang melatarbelakangi PKNU juga harus diketahui. Di samping
perkembangan tersebut, tentu saja ada kejadiankejadian politik lain yang harus
diketahui untuk membuat kita mengenal NU. Umpamanya sejarah politik kita
mencatat pondok pesantren sebagai basis NU.Para pendiri dan angkatan-angkatan
permulaan NU adalah jebolan pondok pesantren.
Di luar itu, mereka juga memiliki kebutuhan-kebutuhan lain, seperti
identifikasi diri mereka sebagai bagian dari perkembangan keadaan di luar NU.
Umpamanya saja dalam dukungan kepada pemerintah dan sebagainya. Untuk menjaga
hubungan baik dengan lembaga-lembaga dan tokoh-tokoh pemerintahan itu, justru
hubungan dekat mereka dengan NU disembunyikan, karena pada waktu itu hubungan
politik antara sistem pemerintahan kita dan Golkar sedang berada pada tahap
yang paling tinggi.
Nah, hal semacam inilah yang kemudian dialami oleh berbagai organisasi Islam,
seperti DDI, Nahdlah al-Wathon (NW) di Pulau Lombok. Tuan Guru Zainudin di
Pancor, sebagai pendiri NW,harus menempuh jalan yang sama,seperti Syekh Ambo
Dalle pendiri DDI. Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan antara Persatuan
Tarbiyah Indonesia (Perti) dengan Al-Wasliyah.
Secara keyakinan aqidah, tidak ada perbedaan, tetapi kedua-duanya berbeda dalam
sikap politik, terutama dalam hal hubungan politik dengan Golkar. Akibat
seperti pemunculan DDI itu,dalam pandangan penulis,adalah hal yang tidak begitu
diperhatikan dalam perkembangan NU oleh para pemimpinnya sendiri. Mengapakah
hal seperti itu sampai terjadi? Karena dalam kurun waktu 32 tahun NU
berpolitik, organisasi itu dibiarkan menjadi kuda tunggangan para pemimpin
NU sendiri. Jadi tidak ada pihak di lingkungan NU yang mencoba melihat
persoalan secara menyeluruh.
Apa yang terjadi dengan berdirinya dua DDI dan dua NW tanpa adanya kebutuhan
untuk mempelajari sejarah dari pihak PBNU sendiri jelas sekali memperlihatkan
kebodohan sejarah.Setelah begitu banyak anak-anak muda NU sendiri yang
terserak-serak di banyak organisasi Islam, terbukti dengan jelas bahwa pihak NU
tetap belum memikirkan kaum nahdliyyin sebagai sebuah elemen politik yang
bulat. Sebagai contoh,melalui Muktamar Banjarmasin 1936,para pendiri NU
menetapkan bahwa untuk melaksanakan syariah tidak diwajibkan adanya negara
Islam.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang menganggap harus ada negara Islam, tetapi
dalam pandangan keagamaan mereka, tetap seperti orang-orang NU umumnya, yang
antaranya berada di lingkungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Tentu saja ada
reaksi atas sikap seperti itu. Di satu pihak, ada yang menganggapnya sebagai
kewajaran saja,ada pula yang menganggap telah terjadi penyimpangan politik.
Memang,tiap gerakan memiliki perkembangan politiknya sendiri yang menjadikan
kajian tentang perkembangan politik di sebuah negara menjadi sangat menarik.
Akan tetapi,tentu saja bagi mereka yang melihat perkembangan yang terjadi di
belakang sejarah lahiriah saja. Kalau kita menukik lebih dalam, tampak bahwa
apa yang kita anggap kejadian demi kejadian biasa-biasa saja, sebenarnya
merupakan bahan kajian perkembangan politik. Hal-hal seperti itulah yang dapat
kita tarik dari buku DDI dalam Simpul Sejarah Kebangkitan dan
Perkembangan,yang ditulis secara rinci oleh Prof Dr Abdul Muis Kabri
itu.Karena itu,masih terbuka lebar peluang untuk melakukan kajian mendalam,
seperti untuk menulis disertasi tentang gerakan-gerakan tradisional Islam.
Di samping gerakan- gerakan Islam modernis seperti Ikhwanul Muslimin,ternyata
kajian mendalam tentang kelompokkelompok tradisional juga diperlukan. Dari
perbandingan antara keduanyalah kita akan mampu memperoleh pengertian yang
lebih mendalam tentang diri kita sendiri. Ini adalah bagian dari perkembangan
sejarah yang bersifat penolakan atau penerimaan gagasan atau sikap hidup
tertentu.
Sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja terjadi dalam hidup berkelompok dalam
sejarah manusia.Namun,justru pengamatan seperti inilah yang jarang disadari
para pelakunya. Penolakan atau penerimaan sebuah gagasan,menyimpan dalam
dirinya variasi yang sangat tinggi dari perkembangan yang dialami oleh sebuah
kelompok, apakah itu tradisional ataupun modern. Pahamkah kita akan arti
sebenarnya dari pola perkembangan seperti itu?. (sindo/tria)
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com