Pakar: Orangtua Tak Bisa Berbuat Apa-apa Menghadapi TV dan Internet        

Minggu, 22 April 2007 

 

Guru besar pedagogi Belanda, Micha de Winter mengatakan, orangtua tak bisa
berbuat apa-apa menghadapi efek negative Televisi  dan internet 

 

Hidayatullah.com--Bermain dokter-dokteran mukan sudah bukan hal baru bagi
anak-anak. Tapi yang baru adalah semakin banyak dan semakin mudanya
anak-anak dihadapkan dengan gambar-gambar bernuansa porno. Demikian
kesimpulan masalah yang menghantui anak-anak di Belanda.

 

Kekhawatiran terhadap dampaknya, meningkat pula. Baru-baru ini seorang anak
laki-laki berusia 12 tahun di kota Amersfoort, Belanda Tengah, yang
melakukan pelecehan seksual terhadap teman sekolahnya. 

 

Ketika jam istirahat seorang anak laki-laki di SD de Vlindervallei di
Amersfoort, Belanda Tengah itu, menarik seorang anak yang sebaya dengan dia
ke pangkuannya. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang bernuansa seksual.
Apa yang dilakukan anak-anak ini tampaknya baru dan bahkan sering terjadi.
Selain itu ada dua sekolah dasar lagi yang muridnya berbuat tidak senonoh. 

 

Guru besar pedagogi di Universitas Utrecht, Micha de Winter mengusulkan agar
peranan orang tua murid di sekolah, ditingkatkan. Sementara itu, Martine
Delfos, seorang psikolog dan penulis buku anak-anak 'Het is niet leuk' (Ini
tidak menyenangkan). 

 

Martine mengaku heran kok banyak anak-anak yang memperlihatkan prilaku
seksual secara terbuka.

 

"Apa yang persis mereka lakukan memang hal yang baru, terutama volumenya.
Tapi gejala yang paling baru adalah coraknya yang sangat berbeda dan
keterbukaanya. Dulu tidak seperti itu. Dulu biasanya tersembunyi. Kan main
dokter-dokteran itu menyenangkan dan agak menegangkan. Dan orang dewasa
tidak boleh tahu. Nah, sekarang apa yang dilakukan anak-anak itu sangat
terbuka," ujar Martine Delfos.

 

Gambar-gambar porno

 

Dewasa ini anak-anak lebih banyak dihadapkan dengan gambar-gambar seksual
dibandingkan sekitar sepuluh tahun lalu. Mereka melihat tayangan pria-pria
perkasa memukul pantat perempuan. 

 

Di internet anak-anak juga dikonfrontasi dengan gambar-gambar seks. Kalau
kata-kata seperti 'kemaluan cewek' dan 'Britney Spears' diketik di google
maka keluarlah gambar gambar-gambar telanjang.

 

Menurut guru besar pedagogi Micha de Winter gambar-gambar itu bermakna lain
bagi anak-anak.  "Anak-anak yang menonton channel musik atau internet,
mereka mendapat kesan bahwa perempuan-perempuan atau gadis-gadis yang mereka
lihat itu memang untuk digoda dan suka digoda. Jadi, gambar-gambar yang
dilihat anak-anak itu tidak objektif."

 

Antipasi dari sekolah

 

Ketua Organisasi Pemimpin Sekolah di Belanda, Ton Duif, bertanya-tanya
apakah ini semua memang bermasalah. Menurut Duif anak-anak sekarang memang
cepat dewasa dan suka mencoba-coba.

 

"Masalahnya semuanya dibesar-besarkan sehingga dianggap sebagai prilaku
tidak normal. Itu sebenarnya prilaku alami. Tapi sekolah memang harus
mengantisipasi. Sekolah memang harus berbuat, " katanya.

 

Namun bagi Winter, ini bukan hanya kesalahan media baru. Menurutnya,
orangtua dan sekolah harus lebih banyak campur tangan. De Winter menyadari
sekarang banyak orangtua berpendapat bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa
terhadap pengaruh televisi dan internet. Tapi itu tidak benar. Karenanya, De
Winter mengimbau agar orang dewasa menjadi tauladan. Harus memperlihatkan
bahwa orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari bergaul dengan cara berbeda
dari apa yang mereka lihat di internet dan videoklip.
[ranesi/www.hidayatullah.com]

 

Source : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content
<http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4585&Item
id=1> &task=view&id=4585&Itemid=1

 

Kirim email ke