Dear all, 
Penulis buku "BLUE OCEAN STRATEGY", mengajarkan pelaku bisnis untuk 
memperlakukan "pesaing-kompetitors" justru menjadi pemicu untuk meningkatkan 
kuantitas dan kualitas produksi. Para pemain sirkus di Perancis atau di China 
tidak lagi mengandalkan hewan sebagai partner, melainkan meningkatkan 
ketrampilan olah tubuh sebagai andalan "selling point". Mengapa? Karena bisnis 
sirkus akan terancam tidak akan laku jual karena orang merasa bosan. Kebosanan 
penonton itu dianggap bukan "gangguan" dan "ancaman bisnis" melainkan justru 
menjadi "peluang" untuk menemukan kreativitas baru: yakni "mewujudkan selling 
point sirkus" dengan meningkatkan kualitas ketrampilan olah tubuh para pemain 
sirkus. 

Dengan lain kata, bagaimana mengubah "segala sesuatu yang dianggap musuh dan 
mengancam diri kita" justru harus dipandang sebagai "peluang" dan "kesempatan 
istimewa" untuk mengembangkan bisnis. Bukankah dalam komunikasi yang "dewasa" 
dituntut juga sikap yang sama, bagaimanakah kita belajar mendengarkan: 
merasakan, membaca dan mencoba menempatkan pikiran orang lain pada konteksnya, 
sejauh dapat diketahui, barulah tindak lanjut kemudian bisa ditarik sebuah 
"kesimpulan"; manakah pelajaran yang dapat dipetik dari "informasi" yang 
"berbeda itu"? 

Demikian juga informasi di milis ini, ada informasi yang "berbeda" dengan 
pikiran satu dengan yang lain. Menurut saya "tidak ada yang salah" melainkan 
ada "perbedaan persepsi". Perbedaan itulah yang "memperkaya milis ini"...

salam hangat, 
bslametlasmunadipr

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke