Saya ini ndak pernah marah kalau ajaran agama saya dihina, paling2 
berpikir yang menghina itu nggak tau aja. 

Sebab sangat mungkin dan wajar kok orang yang nggak tau ajaran agama 
saya akan menjelek2-an keyakinan saya, walaupun mungkin cara 
menghina dan men-jelek2-kannya cuma lewat dalam hati. 

Kalau ada orang yang menghina keyakinan saya secara terang2-an 
(tidak disimpan dalam hati) lewat milis ini, wah saya malah seneng. 
Sebab isi tanggapan penjelasan saya malah bisa dijadikan kesempatan 
langka buat 'dakwah' ajaran saya di milis publik, he, he, he.

Ttp kalau ada yg mau marah karena keyakinannya dihina, silakan aja 
marah2 :-). Cuma caranya yg bener: penghinaan dibalas penghinaaan 
dong. Masak penghinaan dibalas pakai pisau dapur atau pake cllurit 
rumput, 'kali ingin cabut nyawa orang lain dg mengatas-namakan Tuhan.

Gitu aja kok repot2.

Salam

--- In [email protected], Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dasar orang Indonesia  yg sdh dimetrai dgn Pancasila dan sila I. 
Yang 
> ngaku bukan siapa-siapa ini, ternyata penganut satu agama, tapi si 
Mus 
> itu ngakunyaNGAK beragama gitu lho. lalu anda yg merasa agamanya 
dihina 
> mau hina agama mana nih!!! Masih banyak orang dewasa tapi tdk 
realistis 
> nampaknya. Orang tak percaya itu ada dimana-mana, bukan hanya di 
Amerika 
> dan Eropa, di Indonesia dan di Mekahpun ada. Hanya di Indonesia 
selain 
> munafik, orang diharuskan mencantumkan agamanya di KTP di negara 
> demokrasi ngak demikian. Di Indonesia orang yg ngaku beragama itu 
belum 
> tentu menjalankan ibadahnya, tapi juga ngak mau mencari kebutuhan 
> rohaninya apalagi di agama lain. Orang seperti ini bisa fanatik 
juga. 
> Asal mendengar agama yg diwarisinya itu dicela dia langsung merasa 
> terhina, padahal dia sendiri ngak pernah tahu isi ajaran itu sebab 
dia 
> ngak pernah merasa tertarik hal-hal rohani. Dia jadi fanatik hanya 
> karena agama itu sdh menjadi identitasnya dan identitas 
keluarganya 
> turun temurun.

Kirim email ke