24/04/2007 14:37 WIB

 

Cawagub Dani Mengendus Intimidasi

Ramdhan Muhaimin - detikcom

 

Jakarta - Persaingan kandidat cagub-cawagub menjelang Pilkada DKI Jakarta
kian memanas. Cawagub DKI dari PKS Dani Anwar menyesalkan penggunaan
birokrasi di level bawah yang dilakukan kandidat tertentu untuk menekan atau
mengintimidasi kandidat lain.

 

"Kita ingin Pilkada 2007 ini berjalan dnegan baik, di mana setiap individu
dapat menentukan pilihannya tanpa intimidasi dari pihak mana pun. Tapi kita
sesalkan adanya intimidasi melalui birokrasi di level bawah oleh kandidat
tertentu," kata Dani dalam jumpa pers di 'Adang-Dani Center' di Jalan
Biliton, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2007).

 

Seharusnya, lanjut dia, birokrasi pemerintahan baik dari tingkat atas hingga
level bawah bersikap netral dan independen dalam memilih cagubnya
masing-masing.

 

Dani mencium adanya intimidasi yang terjadi berada di tingkat RT dan RW di
DKI Jakarta. Bentuk intimidasi tersebut adalah semacam penghasutan.

 

"Yang kita dengar ada intimidasi. Jika Adang-Dani jadi gubernur, uang
kesejahteraan RT-RW akan dihilangkan, dan Dewan Kelurahan (Dekel) akan
dibubarkan. Padahal Dekel tidak dapat dibubarkan karena ada landasan
UU-nya," imbuhnya.

 

Namun Dani belum dapat membuktikan apakah semilir kabar tersebut benar atau
tidak. Sebab kabar itu didapatkan dia dari laporan kader-kadernya yang
kebetulan menjadi pengurus RT-RW.

 

Bentuk intimidasi lainnya, kata Dani, adalah pencopotan pamflet sosialisasi
cagub-cawagub dari PKS. Dia mencontohkan yang terjadi di daerah Jagakarsa,
Jakarta Selatan.

 

"Kita masih menelusuri apakah pencopotan itu dilakukan oleh ormas tertentu
atau tidak. Jika terbukti kita akan melakukan imbauan terhadap pelaku aksi
tersebut," tukasnya.

 

Apakah itu bukan karena adanya kekesalan karena cagub-cawagub PKS mencuri
start kampanye?

 

"Yang melakukan sosialisasi dengan menempelkan pamflet dan foto bukan hanya
dari kami, kandidat yang lain juga demikian," cetusnya.

 

Menurut Dani, hingga kini belum ada aturan yang mengatakan kandidat tertentu
dilarang menempelkan foto untuk sosialisasi. Bahkan KPUD pun belum
mengeluarkan aturan tentang hal itu.

 

"Cuma sayangnya, kenapa brand image jika ada persoalan itu (curi strat)
selalu diidentikkan dengan kandidat Adang-Dani. Menurut kami, itu tidak
fair," pungkasnya. (nvt/ana)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/24/tim
e/143708/idnews/771933/idkanal/10

 

Kirim email ke