Kolom IBRAHIM ISA
-------------------------
Kemis, 26 April 2007

INDONESIA -- BELANDA TERJALIN DNG DARAH                  
<Peranan Perhimpunan Indonesia dalam Perjuangan Perlawanan  Belanda
Melawan Pendudukan Jerman Hitler>
                                         (1)
*   *   *                           
Enampuluh dua tahun yang lalu, 04 Mei 1945,  Marsekal Bernard 
Montgomery,  Panglima Tentara Ke-21, bagian dari   tentara Sekutu yang
melakukan penyerbuan penaklukkan Jerman Hitler di Eropah Barat,
menerima di Markas Besarnya di Lüneburger Heide,  Jerman, penyerahan
tanpa syarat  Tentara Jerman di bagian Barat Daya Eropah. Kapitulasi
resmi berlangsung pada tanggal 05 Mei 1945. Pada tanggal 05 Mei itu
juga, Panglima tentara Jerman Jendral Blaskowitz, dipanggil oleh
Letjen Foulkes (Canada), dari tentara gabungan Sekutu, untuk
'berunding' di Hotel 'De Wereld' di Wageningen, Holland, untuk
menandatangani dokumen kapitulasi tentara pendudukan Jerman di
Nederland. Ini terjadi karena semula komandan tentara Jerman itu 
beranggapan bahwa penyerahan Jerman kepada Marsekal Montgomery itu,
tidak termasuk tentara pendudukan Jerman di sebelah Barat Holland.

Demikianlah, Belanda menetapkan hari pembebasan Belanda dari
pendudukan Jerman itu jatuh pada tanggal 05 Mei 1945. Maka sejak itu
setiap tahun tanggal 05 Mei diperingati di Belanda sebagai 'HARI
PEMBEBASAN', 'BEVRIJDINGSDAG

Pembebasan Belanda dari pendudukan Jerman, terutama dilakukan oleh
tentara Sekutu, yang masuk Belanda ketika itu, sebagian besar terdiri
dari tentara Canada. Tetapi, tidak kurang pula peranan penting
perjuangan perlawanan bawah tanah kaum patriot Belanda dalam 
perjuangan untuk membebaskan Belanda. Di Belanda para pejuang
perlawanan bawah tanah ini dikenal dengan nama 'VERZETSTRIJDERS'. 



Tulisan ini, sekadar untuk mengingatkan bahwa di kalangan para pejuang
perlawanan bawah tanah Belanda melawan pendudukan Jerman,  juga
terdapat ORANG-ORANG INDONESIA, TERUTAMA DARI KALANGAN  perkumpulan
poitik PERHIMPUNAN INDONESIA, Belanda..

Dua penulis Belanda  yang kukenal menulis tentang partisipasi
orang-orang Indonesia dalam perjuangan perlawanan Belanda melawan
Jerman, a.l.  adalah wartawan senior JOOP MORRIEN (78), dan
politikolog  HARY A POEZE (60). 

Jurnalis kawakan JOOP MORRIEN,  mantan wartawan 'De Waarheid, Komite
Indonesia Nederland,   menulis banyak artikel dan buku sekitar
hubungan Belanda-Indonesia, dimana ia mengisahkan perlawanan rakyat
progresif Belanda terhadap politik kolonial Belanda terhadap
Indonesia. Serta perjuangan rakyat Indensia melawan kolonialisme dan
inmperialisme.
HARRY POEZE sekarang  Direktur KITLV Press,  Belanda.  Ia  memperoleh
PhD dengan tesisnya mengenai  Biografi Tan Malaka.  Ia banyak menulis
hasil studinya, buku-buku dan artikel/kertas kerja  mengeni
perkembangan politik, khususnya tentang perkembangan demokrasi  di
Indonesia.

*   *   *

Banyak cerita, tulisan dan buku sekitar perjuangan tentara Sekutu
dalam Perang Dunia II, yang menyerbu Eropah yang diduduki Jerman. 
Juga mengenai pertempuran-pertempuran dalam mebebaskan Nederland dari
tentara Jerman, khususnya operasi 'Arnhem'. Terdapat juga cerita,
kisah dan bahkan film mengenai perjuangan bersenjata bawah tanah kaum
VERZETSTRIJDERS Belanda melawan tentara pendudukan Jerman. Antara lain
yang ditulis oleh  Harry Mulisch, novelis terkenal Belanda, berjudul
'De Aanslag' ('Serangan'). Atas dasar buku itu dibuat salah satu film
paling terkenal Belanda,  'De Aanslag' .

Namun, literatur maupun film (Belanda) yang mengishkan 'verzetstrijd',
atau 'perjuangan perlawanan bawah tanah' Belanda melawan pendudukan
Jerman, tidak banyak, kalau tidak hendak dikatakan sedikit sekali yang
mengisahkan partisipasi orang-orang Indonesia, terutama para anggota
Perhimpunan Indonesia di Belanda, dalam perjuangan bawah tanah melawan
Jerman.

*    *    *

Belum lama kutemukan kembali sebuah tulisan atau makalah yang ditulis
oleh R.M. Djayeng Pratomo (93), berjudul ORANG-ORANG INDONESIA DALAM
GERAKAN  PERLAWANAN DI BELANDA. Dalam pembicaraan tilpun dengan
beliau, yang dalam keadaan sakit, aku minta izin untuk menyiarkan
tulisannya itu. Karena tulisan beliau itu mengisahkan peristiwa
penting di Nederland selama pendudukan Jerman Hitler. Tentang
orang-orang Indonesia di Nederland yang dengan sepenuh hati dibimbing
oleh ide-ide luhur demokrasi,  kebebasan dan perdamaian bersama-sama
dengan kaum patriot Belanda, menceburkan dirinya dalam perjuangan
bawah tanah ( termasuk yang bersenjata), berjuang, menderita bahkan
mengorbankan jiwanya,  demi pembebaan negeri Belanda. Alangkah
luhurnya cita-cita mereka. Padahal, ketika itu bangsa Indonesia masih
berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.  

Atas persetujuan Djayeng Pratomo, akan kusiarkan dalam seri berikutnya
artikel Djayeng Pratomo tsb. Ia  akan sedikit menjelaskan  mengapa 
'mengenai  grup perlawanan Indonesia ini tidak banyak ditulis.
Orang-orang Belanda dari generasi mudanya samaekali tidak mengetahui
akan hal ini.  Djayeng Pratomo juga  memberikan jawaban atas
pertanyaan:  'Mengapa orang-orang Indonesia di Belanda ambil bagian
dalam gerakan perlawanan  di bawah tanah, untuk pembeasan Nederland,
negeri yang menjajah, mengeksploitasi dan menindas Indonesia, negeri
tumpah darah mereka?'

*    *    *

Namun, bila Anda jalan-jalan ke Osdorp, di situ pasti akan menemui
sebuah jalan yang bernama IRAWAN SOEJOJO STRAAT. Ini adalah sebuah
jalan di Belanda yang pertama kalinya (04 Mei, 1990 yang lalu) 
menggunakan nama pejuang perlawanan Indonesia. Seperti diberitakan
pers Belanda ketika itu, penamaan jalan tsb dengan IRAWAN SOEJONO
STRAAT,  di satu segi dikatakan puluhan tahun terlambat, di segi
lainnya,  ia adalah pengakuan Belanda mengenai  peranan orang-orang
Indonesia dalam perjuangan perlawanan melawan Jerman Hitler di
Belanda. Melegakan dan membanggakan. Kiranya tidak berkelebihan
menyatakan bahwa sikap orang-orang Indonesia tsb memanifestasikan
semangat internasionalisme.

Siapa IRAWAN SOEJONO?
Irawan Soejono, adalah seorang mahasiwa Indonesia dari Perhimpunan
Indonesia Nederland. Ia adalah putra Adipati Ario Soejono,  orang
Indonesia pertama yang menjabat sebagai menteri dalam kebinet Belanda
<mengenai ini ada cerita tersendiri nanti>, sebuah pemerintah pelarian
Belanda di London. Ketika mosi Ario Soejono  kepada pemerintah Belanda
 untuk mengakui hak bangsa Indonesia untuk kemerdekaan, -- ditolak
oleh pemerintah Belanda, Ario Soejono begitu kecewa dan marah,
sehingga ia sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Setahun
kemudian, putranya, Irawan Soejono, gugur ditembak dalam  melaksanakan
tugasnya, sebagai pejuang perlawanan bawah tanah Belanda melawan
Jerman. Sunggu suatu  ironi!

Irawan Soejono gugur  di Leiden,  ditembak oleh tentara Jerman yang
menduduki Belanda,  dalam bulan Januari 1945. Ketika itu, Irawan
Soejono  sedang mengangkut sebuah mesin stensil, yang digunakan untuk
penerbitan perlawanan di bawah tanah. Ketahuan oleh Jerman  ia hendak
meloloskan diri dari penangkapan Jerman. Tetapi malang, Irawan
ditembak ditempat itu juga. 

Di kalangan pejuang-pejuang perlawanan Belanda Irawan dikenal dengan
nama 'Henk van de Bevrijding'. Selain bertanggungjawab mengenai
alat-alat percetakan bawah tanah dan aparat radio penerima untuk
menangkap siaran-siaran Sekutu, Irawan Soejono juga anggota grup
bersenjata perjuangan perlawanan Indonesia bawah tanah. Setelah
gugurnya Irawan Soejono, grup bersenjata di bawah tanah Indonesia ini
diberi nama  Grup IRAWAN SOEJONO.

*   *   *

Selain Irawan Soejono, masih ada  lagi orang-orang Indonesia yang
ambil bagian dalam perjuangan perlawanan terhadap pendudukan Jerman
atas Belanda, yang gugur di dalam kamp-kamp konsetrasi Jerman. 

Mereka itu antara lain adalah:MOEN SOENDAROE.
Moen Soendaroe adalah pekerja bawah tanah perjuangan perlawanan
orang-orang Indonesia di Belanda.  Pada tanggal 18 Januari 1943
Soendaroe ditangkap oleh SD Jerman karena keterlibatannya dalam
perjuangan bawah tanah yang dilakukan oleh Perhimpunan Indonesia.
Kira-kira bulan Februiari Moen Soendaroe gugur sebagai pejuang
perlawanan akibat siksaaan Jerman, di kamp konsentrasi Neuengamme.

Juga masih ada lagi nama anggota perjuangan perlawanan anti-Jerman di
Belanda, di antaranya adalah  SIDARTAWAN. Pada tanggal 25 Juni 1941
Sidartawan ditangkap  polisi poi\litik Jerman. Dipenjarakan di penjara
Scheveningan. Kemudian dipindah-pindah oleh Jerman ke kamp-kamp di
Schoorl, Amersfoort, Hamburg, Neuengamme. Kemudian ke kamp di Dachau.
Jasad Sidartawan tidak  kuat lagi menahan penderitaan dan siksaan. Ia
meninggal di kamp Dachau sebagai pejuang perlawanan anti-Jerman di
Belanda.  Bertahun-tahun lamanya Sidartawan adalah Sekretaris
Perhimpunan Indonesia, Nederland.

*   *   *

Sebagai ilustrasi bagaimana perasaan teman seperjuangan Belanda
terhadap orang-orang Indonesia yang ambil bagian dalam perjuangan
perlawanan anti-Jerman di Belanda, mari ikuti kata-kata  Prof.
Cleveringa, salah seorang pemimpin aksi rotes keras terhadap Jerman
pada waktu pemdudukan,  yang diucapkannya pada ulangtahun ke-37 
peringatan gerakan nasional Indonesia di Leiden<Kutipan dari tulisan
Djayeng Pratomo>, sbb:

'KALAU KITA BERBICARA TENTANG GERAKAN PERLAWANAN DI NEDERLAND INI,
kita tidak perlu bertanya: Dimanakah orang-orang Indonesia berada?
Mereka ada dam berdiri di posnya. Mereka telah memberikan
pengorbanannya. Mereka berada di kamp-kamp konsentrasi, mereka berada
di penjara-penjara, mereka berada di mana-mana' .  (Bersambung)

*   *   *


Kirim email ke