Trisakti Semanggi : Perjuangan Tiada Akhir "Kami pantang menyerah sebelum pembunuh yang sebenarnya terungkap,'' ujar Sumarsih, ibu dari Wawan, salah satu mahasiswa Atmajaya korban penembakan dalam kasus ''Semanggi Berdarah', 13 November 1998'.
Jawaban itu terlontar saat Andy Noya menanyakan apakah para orangtua mahasiswa yang tewas tertembak dalam peristiwa ''Trisakti - Semanggi'' tidak lelah setelah 9 tahun berjuang tanpa hasil. Apalagi setelah DPR RI baru-baru ini lagi-lagi menyimpulkan tidak ada pelanggaran HAM berat dalam peristiwa tersebut. Kick Andy kali ini menyoroti penderitaan orangtua dan keluarga para mahasiswa yang tewas menjelang dan pasca kejatuhan Pak Harto, termasuk empat mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak oleh ''penembak gelap'' ketika terjadi aksi demo 12 Mei 1998. Pada saat itu Elang Mulya Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hartanto tewas terkena peluru tajam. Tapi siapa penembaknya hingga saat ini masih menjadi misteri. Dua perwira polisi yang dituduh melakukan penembakan dalam kasus Trisakti, di dalam persidangan ternyata tidak terbukti sebagai pihak yang bersalah. Tim pembela mereka, yang dipimpin Adnan Buyung Nasution, mengatakan kedua perwira tersebut hanya dijadikan tumbal. Pertanyaannya, kalau begitu siapa dalang sebenarnya? Pertanyaan itulah yang terus dicari jawabnya oleh orangtua para mahasiswa yang menjadi korban pada peristiwa ''Trisakti - Semanggi'' itu. Kick Andy juga menampilkan kesaksian Paul dan Sony, dua mahasiswa yang tertembak saat demo dalam peristiwa Semanggi. Waktu itu Sony tertembak tepat di perut dalam jarak dua meter. ''Saya bisa melihat wajah penembaknya,'' ungkap Sony. Sementara Paul terkena ''sesuatu'' tepat di rahangnya yang membuatnya cacat seumur hidup. ''Kata dokter luka saya 'seperti' terkena tembakan,'' ujar Paul. Kick Andy juga mengangkat kepiluan hati Ho Kim Ho, ibu dari Yun Hap, mahasiswa Atmajaya yang tewas tertembak dalam peristiwa Semanggi, 24 September 1998. ''Dia tertembak saat mau menolong pengamen cilik yang tertembak,'' ujar Kim Ho. Reformasi juga meminta pengorbanan Ayu, bocah 6 tahun, yang terkena peluru nyasar. Peluru yang bersarang di kepalanya pada 1 November 1998 itu membuat anak sopir angkot ini mengalami gangguan hingga saat ini. Dalam usianya menjelang 16 tahun, Ayu masih duduk di kelas 6 SD. ''Dia sering pusing dan sakit kepala. Sekolahnya jadi terganggu,'' ujar Defriani, ibu Ayu. Tayang setiap Kamis pukul 22.30 WIB dan Minggu pukul 15.05 WIB Copyright © 2007 Website Team Kick Andy. All rights reserved
