Booming bio-fuel Eropa bunuh Hutan Indonesia            Jakarta, 
Indonesia  — Greenpeace mengindikasikan ancaman berlanjutnya bencana alam yang  
disebabkan kerusakan hutan di Indonesia. Hal tersebut sehubungan dengan  
rencana perluasan kawasan perkebunan kelapa sawit hingga merambah  kawasan 
hutan alam demi memenuhi kebutuhan bio-fuel di Uni Eropa. 
                     Penandatanganan perjanjian investasi  baru untuk 
mengembangkan bio-fuel di Papua dan Kalimantan merupakan  tindak lanjut untuk 
merespon pasar bio-fuel di Eropa.

“Dengan adanya persetujuan dari pemerintah Indonesia untuk mengembangkan
perkebunan  kelapa sawit, maka maraknya permintaan dari Uni Eropa dapat menjadi 
 langkah pamungkas untuk membunuh hutan kita yang tersisa. Greenpeace  
mendukung penggunaan bio-fuel untuk mengurangi emisi gas rumah kaca;  namun 
upaya untuk menyelesaikan salah satu permasalahan lingkungan  dengan membunuh 
hutan Indonesia bukan saja tidak ada gunanya namun juga  membahayakan 
keberlangsungan hidup bangsa Indonesia. Uni Eropa harus  membuat aturan yang 
ketat bagi pasokan biofuel, jika tidak, berarti  sama saja mereka bertanggung 
jawab atas pembunuhan seluruh hutan kita,”  jelas Hapsoro, Juru Kampanye Hutan 
Regional, Greenpeace Asia Tenggara.

Communication  from the Commission to the Council and the European Parliament:  
Biofuels Progress Report (dikeluarkan tanggal 9 Januari 2007)  menyebutkan 
Indonesia sebagai salah satu negara tempat memproduksi  bio-fuel murah melalui 
pernyataan sebagai berikut: "Demi memperoleh  keuntungan terbesar dari segi 
pemasokan, pilihan bahan baku harus  dibuat sebanyak mungkin. Bauran produk 
(product mix) yang mencakup  bio-fuel produksi domestik dan impor dari berbagai 
negara akan  memberikan nilai tambah yang lebih dibandingkan dengan hanya  
mengandalkan satu yang mempunyai biaya produksi terendah (Brazil -  tebu, 
Malaysia dan Indonesia – minyak sawit).” Sejak tahun 2003,  negara-negara Eropa 
telah bersepakat mencanangkan target
penggunaan biofuel sebesar 2% hingga tahun 2005, kemudian meningkat menjadi
5,75% hingga tahun 2010, dan akan terus meningkat sebesar 10% hingga tahun 2020.

Menanggapi  pengumuman Uni Eropa bulan ini tentang meningkatnya kebutuhan 
bio-fuel  untuk kebutuhan transportasi, pemerintah Indonesia menandatangani 58  
perjanjian kerjasama senilai US $ 12,4 miliar untuk pengembangan  bio-fuel. 
Pengembangan biofuel ini terkait dengan satu juta hektar  pencadangan kawasan 
untuk perkebunan di Papua dan Kalimantan. Sejauh  ini tidak ada kepastian bahwa 
rencana ini tidak akan memanfaatkan lahan  hutan sebagai salah satu sasaran 
ekpansi perkebunan sawit dan lain  sebagainya, yang pada akhirnya akan semakin 
memperparah keadaan  kondisihutan.

Indonesia masih belum pulih dari terpaan bencana alam akibat degradasi hutan.
Kerusakan  dengan percepatan 2,8 juta hektar per tahun –merupakan yang tercepat 
di  dunia - yang telah menyebabkan rusaknya 59 juta hektar hutan di  Indonesia 
disinyalir banyak pihak sebagai penyebabnya. Tahun 2006 yang  lalu dihiasi oleh 
banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan  di mana-mana; 
mengakibatkan ribuan korban jiwa dan tumbangnya sektor  ekonomi.

”Pemerintah harus melihat degradasi hutan Indonesia  yang mengakibatkan bencana 
alam sebagai sebuah keadaan darurat negara  yang harus segera disikapi. 
Moratorium penebangan hutan harus segera  dilakukan, kalau tidak maka bencana 
ini akan terusmenerus terjadi di  Indonesia setiap tahunnya. Kerusakan hutan 
harus dihentikan segera!”,  tambah Hapsoro.

Meskipun Greenpeace mendukung penggunaan  bio-fuel dan menyadari peranannya 
dalam mengurangi emisi gas rumah  kaca, Greenpeace menekankan bahwa hal 
tersebut terbatas hanya bagi yang  benar-benar diproduksi sesuai dengan 
kerangka pertanian berkelanjutan,  tidak secara langsung atau tidak langsung 
mengakibatkan kerusakan  ekosistem yang masih utuh, serta tidak menghalangi 
upaya suatu negara  untuk mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan.

Greenpeace  adalah organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan  
konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah  lingkungan 
hidup, serta mendorong solusi yang diperlukan untuk masa  depan yang hijau dan 
damai 
      
    
                        Informasi visi, video, foto dan laporan        Hapsoro, 
Regional Forest Campaigner, +62 815 857 19872  Bustar Maitar, Forest 
Campaigner, +62 813 44 666 135  Ann Sjamsu, Media Campaigner, +62 855 885 1121  
Arie Rostika Utami, Media Assistant, +62 856 885 7275
      
  
       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke