http://mega-dosa-garuda.blogspot.com/
http://mega-dosa-garuda.blogspot.com/
http://mega-dosa-garuda.blogspot.com/

Friday, April 27, 2007
Soeparno, Eddy Soeparno dan Tommy Tampatty


Eddy Soeparno VP di Merrill Lynch Indonesia, nampak sibuk kesana 
kemari melobby beberapa pejabat. Eddy rupanya merasa perlu 
mengklarifikasi posisi ayahnya, Soeparno, saat menjabat Dirut Garuda 
dan terkait dengan skema pembelian Airbus A330.

Dia menjelaskan panjang lebar tentang posisi ayahnya yang bersih dari 
tuduhan korupsi Mark Up Airbus A330 di Garuda Indonesia lewat skema 
ECA pada tahun 1995. 

Eddy, pada tahun 1995 bekerja di Bank Credit Lyonaise, saat itu 
ayahnya Soeparno menjabat Dirut Garuda. Sebagaimana diketahui banyak 
pihak -- Bank Credit Lyonaise adalah salah anggota konsorsiun 
pendanaan pesawat Airbus A330 itu lewat skema ECA -- bersama dengan 
Deutsche Bank dan Bank Paribas di tahun 1995. 

Jadi, secara implisit, dan ini perlu diselidiki lebih dalam oleh 
aparat hukum penegak KKN, mengindikasikan keterlibatan Eddy Suparno 
sendiri dalam menggolkan
proyek ECA ini.

Sementara Tommy Tampatty yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang 
Humas Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), juga sibuk melobby pihak 
internal Garuda Indonesia, untuk mencoba mengaburkan titik fokus 
penyidikan para aparat hukum terhadap kasus korupsi Mark Up Airbus 
A330 di Garuda Indonesia. Hal ini tidak mengherankan karena Tommy 
Tampatty adalah anak angkat Soeparno.

Ketiga orang ini sering terlihat berkumpul bersama dan saling 
mengirim sms. Beberapa kali Tomy Tampatty mengusulkan agar melakukan 
demonstrasi dengan membayar massa dari luar, tetapi tidak disetujui 
Soeparno. Soeparno khawatir masyarakat akan dengan mudah mengatahui 
perbedaan penampilan karyawan Garuda Indonesia dan massa yang mereka 
bayar untuk demonstrasi. Hal ini dilakukan Tommy setelah berbagai 
upaya untuk menghasut rekan-rekan karyawan Garuda untuk berdemo gagal 
dilakukan Tommy Tampatty.

Apakah pihak aparat pemberantas korupsi di Republik ini tidak dapat 
menemukan bukti-bukti pada tiga orang yang sangat lihai ini? Kita 
lihat saja nanti.

Apakah karyawan Garuda Indonesia tidak bisa melihat konspirasi ini? 
Kita juga lihat saja nanti. 

Sekarga Minta Usut Kasus "Mark Up" Pesawat A-330-300 

Sebagai upaya kamuflase Tommy Tampatty seolah-olah mendukung 
diusutnya kasus penggelembungan harga (mark up) dari transaksi 
pembelian pesawat Airbus A-330-300 pada periode 1988-1992 
silam. "Kami sangat mendukung pengusutan kasus mark up itu karena 
sangat membebani perusahaan," kata Ketua Sekarga Tommy Tampaty di 
Jakarta, Kamis (12/4).

Namun Tommy berusaha keras untuk mengalihkan isu korupsi "Mark Up" 
Pesawat A-330-300 Garuda oleh Soeparno, dengan mencoba menebarkan 
berbagai isu-isu lain. 

Menurut Tommy, hanya melalui pembenahan berbagai kasus korupsi itu 
kinerja Garuda Indonesia bisa membaik. "Oleh karena itu, semua kasus 
yang merugikan perusahaan penerbangan negara itu harus diusut hingga 
tuntas," katanya.

Di bagian lain, anggota Masyarakat Profesional Madani (MPM) 
sebelumnya juga menyoroti kasus pengadaan pesawat Airbus A-330-300 
semasa direktur utama Garuda Indonesia dijabat M Soeparno tersebut. 

Menurut MOM yang juga pengamat penerbangan, pada tahun 1989 pesawat 
Airbus 330-300 dibeli Garuda sekitar US$ 214 juta per pesawat dengan 
nilai kontrak US$ 1,2 miliar untuk enam pesawat. Padahal, pada tahun 
2003, jika dilihat di website Airbus, harga A-330-300 adalah US$ 140 
juta. 

Dari data tersebut ada penggelembungan harga cukup besar. Persetujuan 
kontrak ini dibuat sepihak dan tidak transparan. "Ini harus diusut 
karena sebesar US$ 470 juta dari US$ 748 juta utang Garuda berasal 
dari pembelian A330-300 tersebut. Artinya, Garuda hingga kini 
membayar utang hasil mark up, bukan membayar utang karena kebutuhan 
ekonomisnya," tambah MPM. (kbn)



Kirim email ke